Wahai Kelas Menengah, Menyerahlah kepada Lion Air

Wahai Kelas Menengah, Menyerahlah kepada Lion Air

Di dunia maskapai penerbangan komersial, image adalah segalanya. Kalau pelayanan buruk, siap-siap saja ditinggal penumpang. Kalau keselamatan terancam, pastinya penumpang jadi takut naik pesawat.

Semua akhirnya dipoles sedemikian rupa. Mulai dari berita heboh soal beli pesawat baru bernilai ratusan triliun rupiah, sampai pramugari yang harus tersenyum lebar, meski kadang terlihat basi. Sang pilot pun kudu punya tampang gagah dan sebentar-sebentar melihat arloji. Katanya supaya on time.

Maskapai termasuk para crew-nya sadar betul, kalau mereka menjadi pusat perhatian para penumpang mulai dari darat hingga pada ketinggian 50 ribu kaki. Ada kabar baik atau buruk pasti disorot penumpang.

Ketika penumpang kecewa, maskapai harus siap-siap jadi bahan bulian. Cukup beberapa detik saja buat ngetwit dan ngeretweet. Sekarang ini media sosial sungguh kejam. Tinggal kasih hashtag anu itu, bisa langsung menyebar sampai ke Planet Mars, kalau ada astronot yang buka Twitter.

Tapi itu sih teori, konvensional pula. Praktiknya tidak berlaku di Lion Air. Sudah berapa banyak penumpang yang kecewa dengan delay-nya pesawat Lion Air. Ratusan? Ribuan? Ya benar, saya juga nggak tahu saking banyaknya.

Belum habis drama itu semua, sekarang heboh pramugari janda yang ditawarkan ke penumpang dan suara desahan dari kokpit yang terdengar di kabin lewat pengeras suara.

Kalau baca berita itu kenapa saya langsung kebayang film-filmnya Vivid Entertainment dan Naughty America ya?

Begini, sekarang pertanyaannya adalah berapa kali kita kecewa kepada Lion Air dan berapa kali Lion Air menjadi pilihan ketika bujet traveling pas-pasan? Berapa kali kita bersumpah tidak mau naik Lion Air lagi, tapi ujung-ujungnya tiket Lion Air tetap kita pesan. Online pula.

Akui saja, ‘they make people fly’ dengan caranya yang paling masuk akal dan bikin banyak penumpang menyerah pada keadaan. Apa itu? Ya tarif murah. Ujung-ujungnya semua kembali pada berapa uang yang harus dikeluarkan. Ciri khas masyarakat kelas menengah banget, yang kadang-kadang munafik.

Suka atau tidak, Lion Air masih menjadi pemimpin pasar penerbangan bertarif murah. Sudah lupakan nyinyiran ‘We make people cry’, yang merupakan plesetan dari moto Lion Air ‘We make people fly”. Sudah stop  menggerutu, kalau masih pesan tiket murah buat liburan Natal dan Tahun Baru.

Ada sahabat saya yang bilang kalau segala hal tentang Lion Air adalah misteri. Mungkin kata misteri berlebihan. Jadi saya ganti dengan kata teka-teki, tanpa silang.

Teman saya yang lain juga beranggapan, segala sesuatu tentang Lion Air berujung pada satu kondisi mendadak. Ya mendadak delay tiga jam, lima jam, dan 10 jam. Mendadak hard landing dan kemudian mendadak beli pesawat di Paris dalam jumlah banyak, dan terakhir mendadak somasi.

Menteri mana yang sampai minta maaf secara personal kepada pemilik Lion Air? Menteri Perhubungan Ignatius Jonan! Lho kok bisa? Bukannya pak Jonan itu tegas dan ceplas-ceplos? Ya faktanya pak Jonan menarik pernyataan yang dianggap mencemarkan nama baik Rusdi Kirana, pemilik Lion Air.

Ohh.. Apa karena pak Rusdi itu juga menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres)? Tentunya pak Jonan bisa kualat kalau macem-macem. Ah sudahlah, itu hanya guyonan di klub malam saja.

Kabarnya pak Rusdi tak menerima pernyataan pak Jonan yang menolak usulan penutupan Bandara Budiarto demi memuluskan pembangunan bandara di Lebak, Banten, yang merupakan inisiatif Grup Lion. Padahal, kata Rusdi, dirinya mempunyai niat yang baik.

Terlepas dari berpengaruh atau tidak, faktanya Rusdi memang pengusaha yang ulet. Dia semula adalah seorang salesman mesin ketik merek ‘Brother’. Sedangkan bisnis penerbangan dirintis sejak beliau mendirikan biro perjalanan. Bersama saudaranya, dia memulai cikal bakal Lion Air hanya dengan satu pesawat jet.

Publik kadang-kadang bertanya, bagaimana Lion Air bisa bertahan dengan tarif murah? Bagaimana kinerja keuangan selama ini? Seorang kawan jurnalis yang kerap menulis berita Lion Air, bilang, itu juga teka-teki. Hampir tidak ada yang benar-benar tahu, apakah Lion Air merugi atau sudah untung.

Lama-kelamaan Lion Air benar-benar menjadi misteri, seperti suara aneh mirip desahan dari kokpit pesawat, bukan?

Foto: acts2414.com