Wahai Buruh… Berhenti Nyinyirin Kelas Menengah!

Wahai Buruh… Berhenti Nyinyirin Kelas Menengah!

urbanmatter.com

Buruh mogok nasional (lagi)? Saya kok pesimis itu bisa berhasil. Selama ini sudah banyak kok pemogokan dan demonstrasi besar, tapi kebanyakan hasilnya mengecewakan kaum buruh.

Lalu ada teman yang nyeletuk, “Ini besar-besaran lho, yang mogok 4-5 juta buruh, dari tanggal 24 sampai 27 November.”

Ya terus kenapa? Roda ekonomi nasional jalan terus kok. Jalanan paling macet di beberapa titik. Rosan Roeslani pun tetap tersenyum lebar abis terpilih jadi ketum organisasi pengusaha sekelas Kadin.

Apa dikira mogok besar-besaran, yang kalau memang benar sampai 5 juta buruh itu, tergolong sistemik? Ya jelas tidak. Nggak percaya? Mari kita hitung pakai data, bukan sekadar cuap-cuap sok simpatik.

Berapa total penduduk Indonesia? Data terakhir dari Kementerian Dalam Negeri RI sebanyak 254,86 juta jiwa. Kalau menurut data Departemen Perdagangan Amerika Serikat, total penduduk RI sebanyak 253,6 juta jiwa. Baiklah, karena saya nggak mau di-bully sebagai antek asing, saya pakai data dari Kementerian Dalam Negeri.

Lalu dari data yang Indonesia banget itu, berapa jumlah tenaga kerja domestik? Berdasarkan data Kementerian Tenaga Kerja ada sebanyak 129 juta jiwa atau sekitar 50,6% dari total penduduk.

Kalau begitu, jumlah buruh mogok yang sebanyak 5 juta jiwa itu hanya sekitar 3,8%! Kalau dibandingkan sama total penduduk jadi lebih kecil lagi, hanya 2%!

Tentu orang akan ngomong bahwa persoalan pergerakan tidak sematematis itu. Jika 5 juta orang bergerak sebagai pelopor, maka api revolusi akan menjalar ke seluruh penjuru.

Iya, itu teori. Kiri mentok lagi. Hari gini udah ‘Capital in the 21st Century’ karya Thomas Piketty, ‘Das Kapital’ abad kekinian. Masih belum move on dari ‘Das Kapital’-nya Karl Marx tahun 1867?

Balik lagi soal buruh. Bagaimana buruh bisa jadi pelopor, yang bisa menggerakkan seluruh tenaga kerja di Indonesia, kalau sukanya nyinyirin kelas menengah?

Apakah kelas menengah yang dimaksud adalah orang-orang yang bekerja di kantor pakai AC dan lift, meski kadang-kadang AC dan lift-nya rusak? Apakah kelas menengah itu orang-orang berpendidikan minimal S1, punya rumah dan mobil layak walau nyicil, lalu nongkrong di Starbucks atau minimal 7-Eleven?

Dan, apakah buruh itu adalah orang-orang yang bekerja di pabrik, berpendidikan paling mentok SMA, ngontrak rumah petak, makan di warteg, dan pakai motor bebek?

Kali ini mungkin saya akan pakai data Asian Development Bank (ADB). Bank Pembangunan Asia itu mendefinisikan kelas menengah berdasarkan pengeluaran per kapita per hari sebesar US$ 2-20. Ya sekitar Rp 27-270 ribu lah. Rentang inilah yang banyak dipakai untuk mengukur jumlah kelas menengah di Indonesia.

Rentang pengeluaran itu dibagi lagi dalam tiga kelompok. Pertama, masyarakat kelas menengah bawah (lower-middle class) dengan pengeluaran per kapita per hari sebesar US$ 2-4 (Rp 27-55 ribu). Kedua, kelas menengah tengah (middle-middle class) sebesar US$ 4-10 (Rp 55-136 ribu). Ketiga, kelas menengah atas (upper-middle class) sebesar US$ 10-20 (Rp 136-270 ribu).

Sekarang berapa kebutuhan hidup layak (KHL) buruh tahun ini? Kita ambil contoh Jakarta. KHL-nya sebesar Rp 2,98 juta per bulan. Anggap saja uangnya habis dipakai untuk sehari-hari. Itu berarti pengeluaran buruh per hari hampir Rp 100 ribu.

Jadi buruh juga kelas menengah! Kira-kira masuk kelompok mana ya? Wow, kelas menengah tengah! Saya pikir kelas menengah bawah.

Ya tentunya jangan dibandingkan sama Kokok Dirgantoro, CEO Voxpop. Pengeluaran beliau sudah masuk kelompok masyarakat kelas atas. Mas Kokok itu rating-nya AAA dengan outlook stabil alias layak investasi (investment grade) banget. Wajar saja dia digosipin mau beli mobil Alphard.

Jadi, mulai sekarang, berhentilah meledek kelas menengah. Saya curiga, jangan-jangan ada upaya sistematis untuk memecah belah kelas menengah oleh konglomerat selaku pemilik modal dan negara. Ujung-ujungnya perjuangan buruh selalu kandas.

Padahal, buruh, karyawan kantor, guru, wartawan, dan lain-lainnya adalah sama-sama kelas menengah. Itu kenapa jumlah kelas menengah di Indonesia sangat besar mencapai 160 juta jiwa atau 63% dari total penduduk.

Sudahlah… Tinggalkan jargon-jargon semacam ‘Kaum Buruh Sedunia, Bersatulah!’. Itu sudah usang. Bagaimana kalau kita ganti dengan ‘Kelas Menengah Sedunia, Bersatulah!’

  • Very informative article.Really looking forward to read more. Great. Matusek