Wabah Fobia yang Merembet Kemana-mana

Wabah Fobia yang Merembet Kemana-mana

lavocedinewyork.com

Pertemanan saya dengan Gun Gondrong bermula sekitar dua tahun lalu. Ia, seperti layaknya pengamen jalanan sejati, bertubuh legam dan kekar yang mengaburkan motif tato tribal di sekujur lengan. Rambutnya merah kusam dan badannya bau sekali, seperti sosok yang biasa dipakai oleh kaum ibu untuk menakut-nakuti anaknya yang ogah mandi.

Meski begitu, Gun Gondrong juga memelihara Bruce Lee di dadanya. Ia teman yang sempurna untuk segala hal. Gun Gondrong ditempa di jalanan sejak kecil, dan ini yang membuat perangainya meledak-ledak. Tetapi pada temannya, ia pengayom yang luar biasa.

Kelemahannya, jika itu masih bisa disebut kelemahan, adalah ketakutannya yang tak masuk akal terhadap ruangan. Bahasa kerennya koinoniphobia. Cukup Anda jebloskan ia ke dalam ruangan ukuran berapa pun untuk mendapatinya melolong histeris. Itu mungkin yang menjadi alasannya menggelandang.

Sebenarnya, saya ingin berbagi kepedihan pada Anda. Gun Gondrong diciduk aparat semalam. Teman-temannya mengontak saya, bertutur tentang petugas yang menggelandangnya paksa ke mobil saat ia mangkal di perempatan. Penyebabnya adalah kaos yang ia pakai bergambar swastika dan palu arit.

Tentu saja ini hal konyol. Kaos itu jelas didesain oleh tukang sablon yang selalu ngantuk saat pelajaran sejarah, sehingga tega menumpuk lambang nazi dan komunis di satu bidang. Kaos itu yang dipakai Gun Gondrong sejak kabur dari rumah. Kaos dekil itu, yang tak pernah diusik aparat selama ini, tiba-tiba menjadi alasan tunggal penahanannya.

Gun Gondrong masuk sel. Saya tak berani membayangkan kebisingan macam apa yang disebabkannya di sana. Ia sekarang sedang histeris atau menangis atau semaput, saya tak tahu. Yang saya tahu, belum ada dokter yang memvonisnya sembuh dari ketakutan yang berlebihan terhadap ruangan itu.

Mengenai phobia atau fobia – kesalahan utama Gun Gondrong adalah hidup di negara yang aparaturnya menderita pelbagai fobia. Ketakutan berlebih pada komunis, yang istilah lainnya adalah komunophobia, adalah fobia pertama yang muncul sejak orde babe berdiri.

Dalam perkembangannya, komunophobia merembet menjadi fobia lain: levophobia, ketakutan pada apa pun yang berada di sebelah kiri. Bagi penderita levophobia stadium akhir, mendengar kata ‘kiri’ saja sudah membuatnya hilang akal.

Sosialisme, marxisme, dan leninisme jelas paham yang berbeda dengan komunisme. Namun, berhubung tiga ideologi tersebut kadung dicap ‘kiri’, pemerintah yang saat itu sudah terjangkiti levophobia memperlakukan ketiganya sama dengan komunisme.

Ah, mengenai levophobia, saya jadi ingat tetangga seberang rumah. Ia seorang juru-kemudi backhoe, lelaki tegap yang mengajari anaknya untuk melupakan tangan kirinya, sebab tak banyak berguna selain untuk cebok. Bersalaman, baginya, jauh lebih penting ketimbang urusan kebersihan.

“Amuba itu berkembang biak dengan membelah diri, tahukah kau, Nak?” ujarnya pada suatu siang. “Dan, pembelahannya yang terbaik selalu ke arah kanan.” Saya ingin sekali bertanya pada dia, bagaimana mungkin dia tahu sisi kiri dan kanan, bila tak tahu mana depan mana belakang? Saya masih belum menemukan di mana letak wajah amuba.

Namun, saya hanya diam, sama seperti sebagian besar rakyat saat itu yang tiba-tiba terserang lalophobia. Ini fobia berbicara, mewabah akibat kebiasaan aparat yang ketika itu gemar ngomong dengan bogem dan bedil, bukannya dengan mulut.

Kegemaran aparat itu bukan tanpa sebab. Hasil penelitian membuktikan bahwa rezim sedang menderita fobia baru: ochlophobia. Ketakutan terhadap kerumunan orang. Melihat rakyatnya bergerombol di jalanan atau alun-alun atau di gardu siskamling sambil mengulang-ulang kata ‘kiri’, sudah cukup menjadi alasan untuk menggeruduk.

Aparat memang jarang bersikap normal saat ochlophobia-nya kumat. Tumpukan cerita lama bisa dijadikan rujukan mengenai sikap aparat yang tiba-tiba senang memukul, menculik, dan menghilangkan siapa pun ketika tercipta kerumunan orang. Marsinah, buruh pabrik di Sidoarjo yang vokal saat aksi meminta kenaikan upah, bisa dijadikan contoh. Ia diciduk dari lokasi demonstrasi.

Ia memang ditemukan pada akhirnya, di dalam hutan dengan kondisi tak bernapas. Tewas, maksud saya. Namun, kasus Marsinah menjadi salah satu kasus kekerasan dan penghilangan oleh aparat selama rezim orde babe, yang memuncak menjelang keruntuhannya. Marsinah, bagaimanapun, lebih ‘beruntung’ ketimbang nasib beberapa aktivis pro-demokrasi lainnya. Mereka hilang hingga kini.

Pada akhir rezim, sekurang-kurangnya ada tiga fobia baru yang mewabah. Pertama, allodoxaphobia atau takut terhadap pendapat orang. Kedua, ataxophobia alias takut dengan ketidakteraturan. Ketiga, eleutherophobia atau takut pada kebebasan. Mudah sekali untuk Anda prediksi sekelam apa era penuh fobia tersebut.

Rezim berganti dan rakyat berharap mereka bisa bebas berbicara, berserikat, dan berkumpul di mana pun. Permulaannya memang begitu, sih.

Kebebasan berkumpul disalurkan melalui pembentukan aneka parpol. Jumlahnya ratusan, meski yang lolos ikut pemilu pertama pada era reformasi cuma empat puluhan. Rakyat juga bebas menyumpahi pejabat dan pejabat bebas memaki sejawatnya – sesuatu yang mustahil terjadi pada era sebelumnya tanpa kehilangan nyawa.

Euforia kebebasan menyelimuti kita hingga abai pada fobia pemerintah – terbukti kan bahwa fobia bukan gangguan yang gampang dienyahkan. Komunophobia muncul lagi, lebih tepatnya kumat, dan menjangkiti tak hanya pemerintah dan aparatnya. Pada era baru ini, komunophobia menginfeksi amat sangat banyak orang.

Gambar palu arit kembali menjadi tabu dan diskusi apa pun yang dianggap kekiri-kirian berlaku seperti alarm bagi kelompok ultra-kanan: organisasi massa yang membuat kita harus meninjau ulang pengasosiasian sisi kanan dengan segala kebaikan. Bila kiri itu buruk, orang-orang ultra-kanan berlaku lebih kiri daripada orang kiri manapun.

Aparat tak tinggal diam, tentu saja. Sebagai penjaga kebebasan berekspresi, aparat memastikan aksi sweeping yang dilakukan organisasi ultra-kanan berjalan lancar. Bila aksi tersebut berjalan tak semestinya, aparat juga rela turut serta. Sesama pengidap fobia kadang memang perlu saling membantu.

Dua dekade era reformasi membawa serta fobia-fobia jenis baru sekaligus membangkitkan fobia lama yang kadung kita anggap punah. Anda yang kepingin berdiskusi mengenai Aidit, Muso, dan Tan Malaka harus mempertimbangkan untuk mencari bunker dan baju zirah. Rompi anti-peluru barangkali juga perlu.

Gun Gondrong memang tak mengalami orde saat babe berkuasa. Ia tak tahu bahwa pakaian yang dikenakan saat minggat bisa membawanya ke bui kelak. Ia bahkan tak tahu apa itu komunisme. Ia hanya penderita fobia yang ditindas penderita fobia jenis lainnya, dan ia kalah jumlah. Tak banyak penderita koinoniphobia di negeri ini.

Anda boleh tak percaya cerita saya mengenai Gun Gondrong. Itu hak Anda. Tetapi, catatlah jenis-jenis fobia yang saya sebutkan di atas dan simpanlah artikel ini baik-baik. Satu atau dua dekade lagi, bukalah kembali artikel ini dan Anda akan menemukan bahwa fobia yang sama masih mewabah.

  • herva yulyanti

    Mantep sambung menyambungkannya saya jadi tahu jenis2 fobia 🙂