Alasan Mengapa Vicky Prasetyo Patut Diperhitungkan dalam Pilkada Bekasi

Alasan Mengapa Vicky Prasetyo Patut Diperhitungkan dalam Pilkada Bekasi

storibriti.com

Demokrasi menyamaratakan manusia, menganggap setiap individu memiliki hak yang sama. Berangkat dari alasan itulah demokrasi kerap dibilang sebagai ideologi yang adiluhung.

Demokrasi katanya memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap orang yang ingin terlibat di dalamnya, siapapun boleh mencalonkan ataupun dicalonkan sebagai kepala daerah. Tentu saja, tak terkecuali Hendrianto.

Apakah anda kenal nama tersebut? Kalau tidak, mungkin anda kenal Vicky Prasetyo, pria intelek yang menggagas teori harmonisasi yang timbul karena kontroversi hati dan konspirasi kemakmuran harus dijaga agar labil ekonomi tidak dikudeta?

Hendrianto alias Vicky Prasetyo baru saja mendaftarkan diri sebagai bakal calon wali kota Bekasi. Dengan mantap ia berkata, “Alhamdulillah, langkah kaki saya tergerak secara gravitasi bumi dan mengantarkan saya menjadi balon wali kota Bekasi.”

Saya sendiri sempat kaget ketika mengetahui Vicky berniat mengikuti pilkada Kota Bekasi tahun 2018. Mungkin beliau satu-satunya yang tergerak secara gravitasi bumi, sementara yang lain tidak menginjak bumi alias melayang atau menumpang drone.

Kekagetan saya baru memudar setelah tahu partai yang dipilih Vicky. Seperti seniornya yang menjadi politisi Senayan, Eko Patrio, Vicky memilih PAN sebagai kendaraan politik. Dia mengaku memilih PAN karena diarahkan secara otomatis oleh sensorik motorik dalam pikirannya. Luar biasa.

Sebagaimana seluruh semesta tahu bahwa bahasaisasi Vicky begitu memukau. Merdu jitu. Saya pun merasa terhipnotis, sampai tak tahu harus bilang apa. Pantes neng Zaskia Gotik pernah luluh di hadapannya. Ini masalah kontroversi hati, sehingga harmonisasi mengkudeta.

Tapi memang, untuk menjadi politisi ulung, seseorang harus jago ngomong, lihai melobi. Itu adalah syarat utama dan mutlak di negeri ini. Kurang apa lagi Vicky untuk urusan lobi-melobi? Mau mobil Vellfire? Sepertinya ia tak kalah berpengalaman dibanding politisi betulan.

Selain itu, Vicky juga punya nyali. Ini adalah modal pertama dan utama, jika ingin menceburkan diri ke kancah politik praktis. Bahwa setiap politisi harus punya keberanian mengungkapkan isi kepala. Untuk persoalan ini, saya juga tidak meragukan beliau.

Sempat dibuli, lalu bangkit lagi dan justru tambah tenar. Itulah nyali seorang Vicky. Eh, sekarang malah mendaftarkan diri sebagai bakal calon wali kota Bekasi. Itu bukan sesuatu yang mudah, meski anda boleh saja beranggapan bahwa itu hanya cari sensasi.

Seperti yang pernah ia katakan, “Tomorrow, saya harus bisa berinovasi. And than, tidak berkontroversi. Semua harus disosialisasi dan disertifikasi.”

Macam pejabat aja, kan?

Jadi, dengan nyali dan bahasa langitan, Vicky setidaknya memiliki modal awal untuk menjadi politisi dan kepala daerah. Ahmad Dhani boleh gagal di pilkada Kabupaten Bekasi tahun ini, tapi tidak pada Vicky di pilkada Kota Bekasi tahun depan. Begitu bukan, wahai para warga Kota Bekasi?

Jika mulut sudah ulet, nyali sudah besar, tinggal satu lagi: pengalaman. Sebab, politik layaknya hutan rimba, memasukinya tak bisa cuma iseng. Butuh pengalaman untuk bisa selamat di dalam hutan yang beringas. Apakah Vicky punya pengalaman itu? Jangan dulu meremehkan pria yang satu ini…

Kita tahu Vicky pernah mencalonkan diri sebagai kepala desa di Desa Karang Asih, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, pada 2013. Ketika itu, dengan menggunakan simbol buah nanas, Vicky harus bersaing dengan sembilan calon lainnya. Namun, ia akhirnya kandas, karena memperoleh suara sebanyak 2.869.

Yah, walau gagal, itu suara lumayan banyak. Saya sendiri belum tentu bisa meraih suara sebanyak itu. Jadi, kalau untuk urusan pengalaman, bisa dibilang cukup untuk modal awal. Lagipula, Vicky mengaku bahwa jiwanya memang jiwa politisi. Baginya dunia hiburan hanyalah hobi semata.

Nah, sekarang tinggal urusan partai pengusung. Entah mengapa Vicky begitu pas dengan Partai Amanat Nasional (PAN). Seperti yang saya sebutkan tadi bahwa itu rasanya tak lepas dari peran Eko Patrio, yang juga politisi dan kader PAN.

Vicky juga bisa minta saran Pasha, wakil walikota Palu, bagaimana caranya mendulang suara, termasuk membagi tugas antara dinas pemerintahan dan keartisan.

Lagipula, PAN punya rekam jejak yang mumpuni mengusung para pesohor dalam kontestasi politik, dari mulai kepala daerah hingga anggota parlemen. Tak heran, jika seorang kawan pernah berkelakar bahwa PAN adalah Partai Artis Nasional, karena saking banyaknya para pesohor menjadi kader partai.

Tapi tak apa, selama itu berhasil mendulang suara dan tak mengobral kebencian terhadap SARA, maka itu sah-sah saja dalam politik. Jangan seperti di mana gitu, saya lupa nama kotanya, mendulang suara dengan memanfaatkan isu SARA. Begitu kan?

Lantas, setelah punya cukup modal – non tunai, pastinya – apa lagi yang dibutuhkan? Tentu saja, kontribusi yang akan diberikan Vicky kepada masyarakat Kota Bekasi nantinya. Jika Vicky terpilih sebagai wali kota Bekasi, dunia kebahasaan Bekasi akan semakin beragam dengan bertambahnya kata-kata ajaib dari sang pemimpin.

Kita tidak hanya mendengar remaja Bekasi mengatakan kata ‘sekolah’ menjadi ‘kolah’, tetapi akan ada kata-kata semacam kontroversi hati yang bersahutan di sepanjang Kalimalang. Ketika macet dan masyarakat protes, maka akan dibalas dengan ocehan intelektual dari sang pemimpin yang tentu saja akan efektif…. membuat rakyat malas dan urung untuk protes.

Pemilihan wali kota dan wakil wali kota Bekasi masih tahun depan, PAN pun masih belum menentukan siapa yang bakal diusungnya. Maka, mari kita doakan yang terbaik untuk Hendrianto alias Vicky Prasetyo. Bisa diusung sebagai calon wali kota Bekasi oleh PAN dan partai lainnya, serta meraup suara tertinggi dalam pemilihan nanti.

Terus si Neng langsung nyerocos, “Gue aja diboongin, gimana kalo ntar jadi wali kota!”

Tabik.