Valak dan Framing Jadi Hantu Senasib. Itu Mengapa Perlu Dipuk-puk

Valak dan Framing Jadi Hantu Senasib. Itu Mengapa Perlu Dipuk-puk

wallpapersinsider.com

Sebagai manusia Indonesia yang tak rela ketinggalan tren kekinian, sudah barang tentu saya nonton film The Conjuring 2. Sambil menyaksikan film yang ngeri itu, saya baru sadar kenapa penampilan tim nasional Inggris di Piala Eropa 2016 juga bikin deg-degan kayak nonton film horor?

Lha, Conjuring 2 mengambil kisah tentang Enfield poltergeist yang menjadi kontroversi sepanjang masa tentang kehidupan keluarga Hodgson terutama Janet Hodgson. Ternyata mereka masih satu famili dengan om Roy Hodgson, pelatih timnas Inggris. Semakin paripurna ngerinya.

Di sela menonton film Conjuring 2, saya sempat terlibat obrolan kecil dengan seorang kawan yang bilang bahwa dia pernah magang di media, meskipun saya nggak pernah sekalipun membaca tulisannya di media. Kawan saya ini begitu keukeuh bahwa media itu punya kemampuan untuk melakukan framing agar peraturan ini-itu dicabut. Mirip-mirip ceramah anggota front bela ini bela itu.

Secara teori, konsep framing sendiri dihubung-hubungkan dengan tradisi mengatur agenda dengan maksud tertentu. Padahal, menurut saya, satu-satunya framing yang berhasil pada masa kini adalah anggapan bahwa Raheem Sterling, pesepakbola asal klub Manchester City itu bisa menggiring bola dengan baik dan benar. Sementara di televisi saya, giringan Sterling tiada pernah sampai tujuan.

Ketika sedang asyik-asyiknya membayangkan teori framing, tiba-tiba muncul Valak. Sungguh, saya bergidik nyeri pun linu. Apalagi, kemudian muncul Bill Wilkins yang lagi asyik nonton televisi sembari mengganggu Janet yang cakep itu. Dalam Conjuring 2 ini, Valak yang super seram berhasil bikin Bill Wilkins yang jelas-jelas hantu itu menjadi takut.

Conjuring 2 ini ngerinya kuadrat karena Roy Hodgson takut Wayne Rooney Janet Hodgson sebagai manusia takut sama Bill Wilkins yang menjadi hantu. Dan, hantu Bill Wilkins takut sama Valak yang iblis itu. Mungkin yang nggak takut cuma mas-mas di depan saya, yang setelah film habis mengatakan bahwa Conjuring 2 ini nggak ngeri. Padahal, waktu Baron membunyikan lonceng saja, dia sudah teriak.

Ironisnya, seiring dengan perkembangan di media sosial sepekan terakhir, Conjuring 2 ini lebih layak dijuduli Valak. Apalagi Valak ternyata lebih terkenal di Indonesia daripada si Ed Warren yang ganteng. Mungkin ini yang menjadi pertimbangan Warner Bros Pictures untuk membuat film tersendiri soal hantu Valak. Karena orang Indonesia adalah koentji! Mungkin…

Tapi yang pasti, James Wan, sang sutradara, mencoba memformulasikan karakter Valak bersama Lorraine Warren untuk mendapatkan relevansi yang tepat. Padahal, dalam sejarahnya, menurut versi The Lesser Key of Solomon, Valak alias Ualac, Valac, Valax, Valu, dan lain-lainnya itu adalah sosok bersayap yang mengendarai naga kepala dua dan mengkomandoi 30 pasukan iblis.

Di Indonesia? Valak malah menjadi bahan olok-olokan massal, sehingga menggagalkan dengan sempurna framing James Wan terhadap Valak yang ngeri itu. Akhirnya Valak jadi nggak ngeri, malah lutuna-lutuna. Wong, ngobrol sama Lala Teletubbies karena sama-sama kena bully.

(Meme kocak Valak Conjuring 2)
(Meme kocak Valak Conjuring 2)

Begitulah, kita sedang hidup di era ketika setiap orang, baik itu yang nonton Conjuring 2 apa tidak, bisa membuat kontennya sendiri. Untuk medianya sendiri. Lha, pasang meme Valak di FB sendiri bisa saja menjadi viral, karena ada kesamaan lelucon antar para penghuni dunia lain maya.

Logika inilah yang menihilkan framing oleh media di era kekinian, sehingga bolehlah disebut bahwa si framing itu sekarang adalah hantu. Kita ingat dong bagaimana Jenderal Wiranto di-framing menjadi sosok aneh-aneh dalam penyamarannya semata-mata di-setting agar dia dianggap sebagai calon presiden yang membumi. Hasilnya? Maju pemilihan presiden pun tidak.

Framing, di kala pemimpin redaksi duduk mengatur medianya mau ke arah mana, yang ditunjang aksi negara membredel media yang tak sejalan, kini sudah tidak ada lagi. Sudah menjadi hantu. Sekarang? Selebtwit maupun selebgram bisa menentukan frame-nya sendiri. Tinggal jamaahnya apakah akan membuat suatu isu menjadi viral atau tidak, menjadi ramai atau sepi. Jamaahhh… Oh jamaahhh…

Mereka ini menyingkirkan para petinggi redaksi media dalam urusan – yang katanya – framing. Kalau kata Chris Anderson, kita hidup di era ‘The New Tastemakers’, saat peers trust peers, ketika pesan yang turun dari atas kalah dari kekuatan suara dari bawah.

Seorang kawan yang melangsungkan resepsi pernikahan tanpa mempelai pria – gegara kena DBD – tetiba menjadi berita di media mainstream. Kenapa demikian? Gara-gara dia posting foto di Instagram plus sedikit kisahnya. Yes, media kini menggali berita justru dari update status, update foto, dan update lainnya yang kece-kece itu.

(Meme kocak Valak Conjuring 2)
(Meme kocak Valak Conjuring 2)

Demikian pula Valak. Lebih banyak yang memberitakan meme Valak daripada kebenaran tentang Valak itu sendiri. Puk… puk… Lagipula, sekarang jangankan ‘framing’, mengetik saja cepet-cepetan. Ngirim artikel ke Voxpop pun cepet-cepetan. Makanya sekarang kalau ada berita di media mainstream, banyak yang typo. Typo-nya bahkan fatal seperti miliar menjadi triliun.

Valak di-setting supaya orang menjadi ngeri. Framing juga dulunya ngeri. Valak adalah sosok hantu di film horor, framing dengan segala riwayatnya juga telah menjadi hantu yang ternyata tetap horor. Maka, Valak dan framing sejatinya adalah dua hantu yang tadinya ngeri, tapi ternyata hasilnya gagal ngeri. Cuma ada di NKRI.

Ya tentu saja, Valak menjadi tidak sebanding dengan Sundel Bolong yang diperankan Suzanna. Ketika mimin akun twitter Voxpop bikin pengumuman, “Hadiri gala premiere ‘Kok Jurig 2: Sundel Bolong v Valak’ di layar tancap kesayangan anda”, sudah bisa ditebak hasilnya. Sundel Bolong menang telak. Kasihan sekali Valak. Puk… puk…