Bahkan untuk Urusan Vagina, Kita Dijajah dan Dibodoh-bodohi

Bahkan untuk Urusan Vagina, Kita Dijajah dan Dibodoh-bodohi

Ilustrasi (rob donnelly/slate.com)

Waktu masih tinggal di Jakarta, senja adalah satu-satunya waktu paling pas untuk lari-lari lucu. Namun, suatu ketika, jadwal lari saya jadi sangat tidak menyenangkan, lantaran di kiri-kanan kulihat saja banyak pohon cemara spanduk iklan pemutih vagina.

Begitu sok tahunya iklan tersebut bertitah bahwa vagina seharusnya berwarna cerah dan harum semerbak. Vagina tidak seharusnya hitam, vagina sudah semestinya wangi bunga-bunga, supaya pria suka.

Begitulah hasil perselingkungan patriarki dengan kapitalisme. Bahkan di wilayah paling privat, perempuan dijajah, didikte, bagaimanapun wilayah pribadi tersebut harus jadi pemuas.

Entah apa yang membuat mereka merasa perlu mengatur warna dan bau vagina. Padahal, mereka tidak pernah atur-atur penis. Kecuali, jebakan ego maskulin soal bentuk yang besar dan panjang.

Belum pernah ada produk yang lantang menyatakan sebaiknya penis berwarna cerah dan memiliki wangi herbal agar perempuan suka. Bahkan di wilayah privat, kapitalisme masih berusaha membodoh-bodohi perempuan.

Permintaan produk pemutih memang paling banyak berasal dari wilayah Asia dan Pasifik, salah satunya Asia Tenggara.

Saya ingat betul hampir lima tahun lalu, ketika bekerja di Bangkok selama dua minggu, saya memutuskan untuk tidak membawa deodoran dan pelembab tubuh. Saya pikir beli sajalah di 7-Eleven.

Namun, ternyata, urusan beli deodoran dan pelembab nggak semudah itu. Tak ada satupun deodoran  dan pelembab tanpa bahan pemutih.

Kalaupun ada, harganya jauh lebih mahal. Permasalahan yang sama juga saya temui di Manila, Yangon, dan Phnom Penh. Sulit betul mencari produk tanpa pemutih.

Produk perawatan tubuh memang salah satu yang getol melanggengkan post-colonialism hungover.

Karena dulu kita dijajah orang putih, maka sudah semestinya badan, ketek, muka, dan vagina kita juga putih supaya bisa sejajar dengan para penjajah itu. Sebab yang kulit sawo matang atau kuning langsat tidaklah secantik yang berkulit putih. Bah!

Kembali lagi ke soal vagina. Seperti halnya kulit tubuh dan wajah, vagina tidak harus berwarna cerah. Lebih masuk akal, jika mereka yang berkulit putih juga memiliki vagina berwarna lebih cerah, dan mereka yang memiliki kulit lebih hitam juga memiliki warna vagina lebih gelap.

Lalu, bagaimana ceritanya yang ras berkulit sawo matang macam orang Indonesia kudu punya vagina berwarna putih? Pakai cat akrilik, mungkin?

Vagina tidak hanya terdiri atas satu bagian. Setiap bagian vagina memiliki fungsi yang berbeda dan warna yang berbeda. Wajar saja kalau vagina tidak berwarna cerah dan memiliki corak warna berbeda (menggelap atau menerang) pada bagian berbeda. Misalnya, labia bisa jadi berwarna lebih gelap, sementara perineum berwarna lebih cerah.

Selain itu, warna labia juga tidak akan berubah cuma karena sering berhubungan seks. Sama halnya dengan kulit tubuh, emangnya ada yang kulit tubuhnya berubah karena berhubungan seks?

Meski aliran darah ke alat kelamin saat berhubungan seks dapat mengubah warna dan bentuk, itu sifatnya sementara saja. Tidak ada bukti bahwa warna dan bentuk vagina dapat mengalami perubahan permanen akibat berhubungan seks.

Kebingungan soal warna dan bau vagina ini diperparah dengan minimnya penelitian mengenai variasi alat kelamin perempuan. Karena itu, konstruksi normal-tidaknya kelamin perempuan menjadi tidak jelas dan bergantung pada referensi.

Referensi yang paling sering digunakan adalah film dewasa, buku anatomi/kedokteran, atau literatur feminisme. Referensi terhadap film dewasa ini bisa jadi biang keladinya, karena perempuan di film-film dewasa memang dibentuk untuk memuaskan pandangan laki-laki.

Dusta lain lagi yang diinjeksi kapitalisme adalah vagina harum semerbak. Padahal, vagina tidak seharusnya harum.

Memang betul tidak semua bau vagina adalah bau yang sehat, tetapi juga tidak ada vagina yang memiliki wangi bunga Lili putih atau bau sereh seperti banyak disarankan iklan pembersih vagina.

Dan, kalau vagina berbau tidak sehat, sabun cuci vagina yang harum semerbak seperti bunga-bunga juga tidak akan membantu. Paling bener ya ke dokter.

Vagina memiliki bau yang khas, dan memang tidak seharusnya harum. Penelitian yang diterbitkan oleh Jurnal Kandungan dan Kebidanan Jerman meneliti 2.100 molekul bau pada vagina. Bau yang kita cium adalah campuran dari 2.100 molekul tersebut.

Sebab itu, setiap bau vagina adalah unik, bahkan memiliki semacam ‘bau mini’ dibalik bau yang lebih mendominasi. Masak iya, dari 2.100 molekul bau vagina tersebut mau diseragamkan jadi semerbak bunga-bunga?

Selain molekul bau, metabolisme, makanan, dan bakteria juga mempengaruhi aroma vagina. Seperti mulut dan perut, vagina adalah rumah dari jutaan bakteria.

Bakteria ‘baik’ ini bersifat asam dan berfungsi mengatur pH pada kadar 4,5. Karena itu, adalah normal apabila kita bisa mencium bau vagina hingga jarak kurang lebih 30 cm.

Bau vagina juga akan menguat saat datang bulan. Bau ini bisa bervariasi, tergantung keadaan hormon pada siklus bulanan.

Bau vagina juga berbeda untuk tiap orang, sebagian memiliki bau yang kuat, sebagian lain memiliki bau yang lebih subtil. Berkeringat dan hubungan seksual juga dapat mempengaruhi bau vagina.

Namun ingat, tidak semua bau vagina adalah bau yang sehat. Kenali bau sehat dan tidak sehat. Jangan ragu ke dokter, kalau ada yang tidak beres. Kalau khawatir dokter kebanyakan yang menstigma, bisa juga ke klinik ramah perempuan seperti Angsa Merah.

Dan, kalau bertemu kapitalis patriarki yang berjualan vagina cerah semerbak bunga-bunga, jangan sekali-kali merasa terintimidasi. Ingat, mereka cuma kebanyakan nonton film porno!

  • Jerry Jey Louhenapessy

    Hahahaha bener juga yaaa,, stujuu

  • Velasco

    Bener juga bagian private pun dibahas..

  • Park Jijun

    Tulisannya seru 👌👏👏👏

  • layung kemuning

    Setuju