Kritik dan Saran Terbuka untuk Para Penulis

Kritik dan Saran Terbuka untuk Para Penulis

Ilustrasi (huffingtonpost.com)

Ketika seseorang menulis di ruang publik, berarti ia sedang menyita sebagian ruang yang sejatinya bukan miliknya. Maka, para penulis itu sesungguhnya kurang ajar. Sedemikian pentingkah mereka, sehingga seluruh semesta perlu membaca tulisannya?

Kekurangajaran itu tak terhindarkan, namun bisa dibuat masuk akal. Asalkan, tulisannya tak sekadar mewartakan diri sendiri dan apa yang disampaikan memang pantas diketahui publik. Mudah-mudahan dalam tulisan ini, saya cukup menghayati kekurangajaran yang masuk akal.

Sebagai ruang publik, misalnya Voxpop, pernah menayangkan artikel dengan judul sangat menarik: ‘Pancasila dari Kacamata Perempuan Milenial”, yang ditulis oleh Dea Safira Basori.

Kalimat yang dipilih sebagai teaser pun amat menyengat: “Jika kita bernegara berlandaskan Pancasila, segala hal yang termaktub seharusnya sangatlah feminis.”

Tak disangkal, mendamaikan Pancasila dan feminisme adalah pekerjaan yang sangat menarik sekaligus mulia. Namun, tak disangkal pula, pekerjaan itu terlalu berat untuk dibebankan pada sebuah artikel pendek.

Kalau Pancasila memang sudah feminis, lantas mengapa hal itu tak terjadi? Apa benar masalahnya sekadar pemahaman atau penghayatan yang kurang tepat? Lebih jauh lagi, feminisme manakah yang dimaksud?

Sulit dibayangkan, misalnya, bagaimana seorang Simone de Beauvoir – kalau kita percaya ia seorang feminis – dapat berdamai dengan Ketuhanan Yang Maha Esa, bahkan dengan interpretasi yang tidak misoginis sekalipun?

Diperlukan sebuah disertasi, tesis, atau sekurang-kurangnya makalah untuk membahas perkara sebesar itu. Maka, kepada pengarangnya, pantaslah disuntikkan suatu semangat. Siapa sangka, pada kemudian hari, gagasan dasar pada artikelnya bisa menjadi bahan membuat makalah jurnal internasional, sebuah tesis, atau bahkan disertasi.

Tapi itu bukan berarti semua tulisan harus berlagak akademik. Bukan itu poinnya. Poinnya adalah kesadaran seorang penulis bahwa betapa berat tanggung jawab yang dipikulnya, ketika ia memutuskan untuk menulis.

Karena ia hendak menempati ruang yang bukan miliknya, ia perlu menunjukkan sejelas mungkin mengapa karyanya harus atau layak menempati ruang publik. Tulisan-tulisan ringan dan jenaka pun, kalau dijiwai oleh tanggung jawab seperti itu, bisa jadi sangat memukau. Bukan tak mungkin: abadi.

Tanggung jawab itu tak berarti bahwa seorang penulis mesti mengikuti begitu saja selera publik. Tak jarang, tanggung jawab seorang penulis kepada publik justru mengambil rupa kritik.

Ketika publik tergiring ke arah yang salah, seorang penulis, berbekal kedalaman refleksi serta keluasan cakrawala wawasannya, wajib menunjukkan arah yang tepat, sekalipun publik tak menyukai arah tersebut.

Tanggung jawab penulis kian berat pada zaman sekarang, sebuah zaman dimana informasi melimpah ruah. Siapapun bisa menulis apapun. Maka, tak jarang, itu menjadi pembenaran untuk menulis sesuka hati.

Cita-cita yang agung dari penciptaan diri (self-creation) Übermensch Nietzschean seolah terlaksana hanya karena lebih menyukai drama Korea daripada film India.

Kalau itu benar terjadi, kata-kata Theodor Wiesengrund Adorno dalam The Jargon of Authenticity, pantas dipertimbangkan: “Siapa saja yang mahir dalam jargon tak perlu mengatakan apa yang ia pikirkan, bahkan tak perlu pula memikirkannya dengan benar. Jargon itu mengambil alih semua tugasnya.”

Adorno tak salah dalam hal itu. Cita-cita menjadi autentik justru kerap menjadi bumerang, seakan-akan dengan itu tak perlu lagi mempertanggungjawabkan segala ucapan, tindakan, termasuk tulisan. Tidakkah hal itu telah menggelisahkan kita belakangan ini?

Tahun ini, sebuah buku terbit untuk menanggapi kegelisahan itu. Penulisnya Tom Nichols. Untuk menjalin seluruh uraiannya, Nichols membidik sebuah judul yang tepat: ‘The Death of Expertise.

Di dalamnya, ia menyoroti bagaimana masyarakat Amerika semakin tak percaya pada kaum intelektual dan pakar, sampai pada titik yang cukup parah. Titik itu digambarkannya dalam sebuah kalimat: My ignorance is as good as your knowledge.”

Gejala itu tak seluruhnya baru. Semangat anti-intelektualisme dan anti-kepakaran sudah setua sejarah intelektual dan kepakaran itu sendiri. Yang baru pada abad informasi ini adalah begitu banyaknya orang awam merasa lebih tahu daripada para pakar.

Bahkan, tak jarang, perasaan lebih tahu itu diungkapkan dengan kemarahan. Internet dan media sosial tentu berperan besar di sini, kendati tentu bukan satu-satunya faktor.

Gejala yang ditangkap dengan jeli oleh Nichols itu pantas menjadi bahan pertimbangan para penulis. Ketika seseorang memutuskan untuk menulis, ia segera dituntut untuk lebih tahu daripada orang lain, apalagi kalau yang ditulis adalah pengalaman atau keyakinannya sendiri.

Tak ada yang salah dengan pengalaman dan keyakinan pribadi. Namun, pengalaman dan keyakinan itu perlu segera dihadapkan pada ‘tuntutan lebih tahu’ tadi.

Seluruh kalimat dalam sebuah tulisan tak lain upaya penulis memenuhi tuntutan itu, dengan batas-batas tertentu – bukan untuk menggurui pembaca, melainkan untuk bertanggung jawab kepadanya.

Ada sajak cukup bagus yang dapat menjadi panduan umum untuk proses menulis. Pengarangnya tak diketahui. Secara kebetulan, sajak ini saya temukan dalam buku ‘Menulis Secara Populer’ karangan Ismail Marahimin. Judul sajaknya ‘Panjang Tulisan’.

Bayang-bayang sepanjang badan, tulisan sepanjang bahan.

Sebelum bahan habis, teruslah menulis. Begitu bahan habis, berhentilah menulis.

Jika bahan belum habis, anda berhenti menulis, tulisan anda banyak bolongnya.

Jika bahan habis, anda belum berhenti menulis, tulisan anda banyak bohongnya.

Proses menulis bukanlah creatio ex nihilo, seakan-akan hanya dengan bersabda, “Jadilah terang”, maka terang itu terjadi. Menulis lebih mirip dengan apa yang dilakukan oleh Demiurgos, sebagaimana dikisahkan oleh Plato dalam Timaios: mengolah bahan-bahan yang sudah ada, seraya memandang kesejatian. Dan, ketahuilah, kata ‘demiurgos’ sendiri berarti tukang.

Maka, penulis sejatinya adalah seorang abdi. Ia tak mementingkan diri sendiri. Berkicau tentang diri sendiri sedapat mungkin ia hindari. Meskipun itu bertolak dari pengalaman atau keyakinan pribadi, ia tak akan menyampaikannya sesuka hati.

Saya sendiri masih terus belajar menulis. Lebih-lebih, saya bukan pakar. Kalau para pakar pun bisa keliru, saya tentu berpeluang lebih besar untuk keliru. Itulah mengapa anda tak harus percaya kepada saya.