Untuk Mahasiswa dan Alumni Unpad soal Gelar Kehormatan Bu Mega

Untuk Mahasiswa dan Alumni Unpad soal Gelar Kehormatan Bu Mega

youtube.com

Suatu hari, 25 April 1989, petinju kelas berat Mike Tyson naik ke panggung untuk menyampaikan pidato penerimaan gelar kehormatan Doctor of Humane Letters dari Central State University di Ohio, Amerika Serikat. Pria kekar yang tak lulus SMA itu kebingungan di atas mimbar. Lantas, ia berujar, “Saya tidak yakin sesungguhnya gelar dokter apa yang saya terima, tapi melihat para suster yang cantik di sini, saya pikir akan menjadi dokter ginekologi.”

Padahal, Mike Tyson diganjar gelar kehormatan atas pengaruhnya pada banyak anak muda dengan menunjukkan kerja kerasnya sehingga bisa melewati aral rintangan. Setidaknya begitu kata Presiden Central State University, Arthur Thomas. Lho, tapi kenapa Mike Tyson berimajinasi ingin jadi dokter plus suster-suster cantik nan semok? Dokter ginekologi lagi. (Gosah googling)

Ketika itu, Tyson dengan bangga mengatakan, gelar dari Central State University adalah titik tertinggi kesuksesannya. Hebatnya lagi, petinju yang pernah gigit kuping lawannya tersebut mengaku juga memperoleh gelar kehormatan dari Grambling University. Tampaknya “Si Leher Beton” ini hidup dengan banyak gelar. Asal jangan gelar perkara aja ya, om… Oh tidak, blio kan sudah jadi muallaf. Masya Allah…

Jauh rentang waktu dan tempat sejak Tyson menerima gelar kehormatan, Megawati Soekarnoputri pada Mei lalu juga memperoleh gelar doktor kehormatan (Honoris Causa) untuk bidang politik dan pemerintahan dari Universitas Padjadjaran (Unpad), almamaternya beberapa awak Voxpop Indonesia, di antaranya Hidayat AdhiningratRausyan Fikry, dan Saliki Dwi Saputra.

Wahai para alumni dan adek-adek mahasiswa Unpad! Bu Mega akhirnya kembali ke kampus yang ia tinggalkan pada 1967. Di kampus tempat ia menuntut ilmu hanya dua tahun itu, beliyau sumringah bukan main. Berjuta tepuk tangan menyeruak dalam ruangan aula yang biasanya dipakai untuk wisuda adek-adek mahasiswa.

Sebenarnya Unpad bukan kali ini saja memberikan gelar kehormatan. Perguruan tinggi negeri itu pernah menganugerahi gelar kehormatan kepada beberapa tokoh dunia, seperti tokoh revolusioner Vietnam Ho Chi Minh, presiden pertama Yugoslavia Josip Broz Tito, Raja Malaysia Tuanku Syed Sirajuddin, mantan perdana menteri Malaysia Mahathir Mohamad, budayawan Jawa Barat Ajip Rosidi, dan pengusaha Chairul Tanjung.

Nama-nama mentereng itu tentu nggak bisa dipungkiri sudah memberikan jasa yang berpengaruh bagi bangsa dan negaranya. Sebab, hakikat dari gelar kehormatan adalah sebuah gelar kesarjanaan yang diberikan oleh sebuah universitas yang memenuhi syarat kepada seseorang. Gelar ini diberikan untuk orang yang punya jasa dan karya luar biasa bagi ilmu pengetahuan dan umat manusia.

Kembali ke suasana yang mengharukan dan membanggakan saat bu Mega diberi gelar kehormatan. Sejumlah tokoh pun melayangkan puja-puji penganugerahan itu. Meski bapak Jokowi berhalangan hadir karena kesibukannya, bu Mega tetap larut dalam kegembiraan.

Namun, di luar sana, mahasiswa-mahasiswi mengkritik bu Mega yang katanya nggak pantas lah menerima gelar kehormatan. Para alumni yang mengaku militan dan kritis ikut-ikutan nimbrung menggugat pemberian gelar kehormatan sampai membuat petisi online.

Aduh, aduh… Bu Mega itu sudah berjuang pantang menyerah membesarkan partai. Kita harus hormati perjuangan beliyau. Baiklah, saya nggak boleh emosi. Jadi begini adek-adek mahasiswa dari BEM Kema Unpad yang buat pernyataan sikap bertajuk “Doctor Honoris Causa: Dari Unpad untuk Bu Mega” di situs resmi, dan kakak-kakak alumni sekalian. Bapak rektor sudah mengatakan kok kalau pemberian gelar kehormatan untuk bu Mega itu karena pencapaian beliyau di masa transisi demokrasi yang penuh darah dan air mata.

Bapak rektor juga bilang, bu Mega itu bisa membawa stabilitas politik dan mengatasi tantangan perekonomian nasional akibat krisis ekonomi yang susah move on. Jelas kan? Ya tentu saja bapak rektor sedang menjelaskan pengabdian bu Mega saat jadi presiden pada 2001-2014.  Ketika itu adek-adek mahasiswa yang sekarang protes bu Mega masih umur berapa ya?

Asal tahu aja, ibu nggak pernah melakukan privatisasi sejumlah BUMN, nggak pernah melepas aset negara ke asing. Eh, pernah apa nggak ya? Kok jadi saya yang lupa? Saya yang lupa atau yang memberi gelar yang lupa?

Selain itu, kata bapak rektor, pola kepemimpinan bu Mega sangat menginspirasi generasi berikutnya. Ya, generasi muda. Terbukti kok, karena memimpin partai begitu lamanya, ibu memberikan inspirasi kepada mbak Puan untuk menjadi ketua DPP partai dan menteri yang diidolakan anak muda. Ya setidaknya mbak Puan sudah memberi inspirasi metode diet yang bijak, dengan imbauan agar tidak banyak-banyak makan nasi. Inilah inspirasi keluarga.

Dan, yang paling hebat, bu Mega juga menjadi inspirasi bangsa. Banyak pelajaran baru yang bisa kita petik. Setidaknya dari beliyau, kita sekarang tahu bahwa Presiden Indonesia saat ini adalah petugas partai. Kurang bekerja demi bangsa dan negara apalagi coba? Mana tepuk tangannya???

Pemberian gelar kehormatan oleh Unpad jelas harus dirayakan penuh gegap gempita. Sebab, Unpad telah tercatat dalam sejarah sebagai kampus pertama di Indonesia yang memberikan gelar kehormatan untuk bu Mega. Sebelumnya, gelar doktor kehormatan diberikan oleh Universitas Waseda (Jepang), Moscow State Institute of International Relations (Rusia), dan Korea Maritime and Ocean University (Korea Selatan). Keren kan kampus kalian? Lalu, kalian masih mau protas-protes apa lagi, dek?

Mau protes masalah pendidikan ibu di Fakultas Pertanian yang nggak kelar itu? Ibu kan sudah bilang, beliyau hengkang dari kampus, lantaran situasi politik di Indonesia. Waktu itu, ibu masuk kuliah tahun 1965. Terus keluar tahun 1967. Ada peristiwa apa tahun segitu? Saya lupa, karena buku dan fakta sejarah soal peristiwa pada periode itu sudah disita.

Jadi, masalah ibu nerusin kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) tahun 1970 dan berhenti lagi tahun 1972, ya terserah ibu. Kalian mau melihat masalah itu dihubungkan dengan Pasal 4 (b) Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No 21 Tahun 2013 tentang Pemberian Gelar Doktor Kehormatan ya?

Bunyinya gini. Calon penerima gelar Doktor Kehormatan harus memiliki gelar akademik paling rendah sarjana (S1) atau setara dengan level 6 dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Nah, untuk persoalan gelar sarjana, ibu kan sudah menjelaskannya saat pidato pemberian gelar doktor kehormatan waktu itu.

“Badai politik membuat saya meninggalkan kampus ini. Semua memaksa saya untuk tidak belajar di kampus ini.” Tuh, kata bu Mega. Tapi pasti ada yang cerewet ingin bilang, “Lho, waktu kuliah di UI tahun 1972, kenapa berhenti lagi? Bukankah badai sudah berlalu?”

Selain gelar sarjana, seseorang juga bisa mendapatkan gelar kehormatan kalau setara level 6 dalam KKNI. Level 6 dalam KKNI sendiri setara dengan jenjang diploma 4 atau sarjana terapan. Lalu, ada adek-adek mahasiswa yang nyinyir kalau pemberian gelar kehormatan itu karena bu Mega adalah ketua umum partai politik yang sedang berkuasa.

Ssttt… Jangan pernah mengaitkan pemberian gelar ini sebagai barganing position untuk “merayu” bu Mega agar para menteri alumni Unpad tidak kena reshuffle. Kita tahu wacana pergantian menteri itu semakin santer belakangan ini. Apalagi Golkar, PAN, dan partai lain pecahan Koalisi Merah Putih sudah bermesraan dengan pak Jokowi.

Kalau adek-adek nggak rela, tinggal minta saja tuh prosedur pemberian gelar kehormatan ke rektorat. Alasannya bisa nggak dipertanggungjawabkan? Prosesnya bener apa nggak? Coba minta dokumen-dokumennya ke pak rektor. Itu pun kalau adek-adek berani mintanya.

Lho, bukankah mahasiswa takut sama dosen? Lalu dosen takut sama dekan. Dekan takut sama rektor. Rektor takut sama menteri. Menteri takut sama presiden. Presiden takut sama??? Jawab aja ndiri…