Untuk Kaum Ibu yang Suka Berbohong demi Anaknya

Untuk Kaum Ibu yang Suka Berbohong demi Anaknya

Ilustrasi (phinemo.com)

Saya selalu berharap bus yang saya tumpangi menjadi kendaraan penjelajah waktu, terutama saat terjebak macet dan hujan yang membekukan. Alangkah bahagia bisa menembus dimensi imajinasi.

Harapan saya tentunya, bisa memasuki dunia Alice In Wonderland. Ingin merasakan dunia tanpa matahari, tanpa bulan. Sebuah dunia keremangan yang pastinya akan membuat penyair mati, karena tidak menemukan bulan sebagai inspirasi kecintaannya.

Tapi tiba-tiba, lamunan saya buyar ketika melihat seorang ibu berpayung hitam di pinggir jalan. Seorang anak dipegangnya erat. Tampak kesedihan di raut mukanya. Selang beberapa menit, mereka berpisah. Sang ibu pergi sambil menyeka air mata. Perlahan, tubuhnya hilang ditelan kelok jalanan yang basah.

Ada apa gerangan?

Mau ke mana ibu itu?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja beranak pinak di dalam labirin pikiran.

Ah, saya yakin ibu itu pembohong!

Saya yakin sang ibu berdusta kepada anaknya!

Tidak mungkin dia berkata jujur mengenai alasan kepergiannya di saat hujan sedang deras-derasnya!

Tidak mungkin seorang ibu keluar rumah dalam kondisi hujan deras tanpa mengiming-imingi sesuatu pada anaknya!

Saya pun teringat sama Mak. Sebagai lelaki, saya begitu kagum dengan perjuangan perempuan, terutama kaum ibu dalam menjalani kehidupan. Mereka adalah perempuan perkasa yang selalu hadir di sekeliling kita. Empu dunia yang melahirkan peradaban cinta.

Namun, saya mengenal kaum ibu sebagai pembohong sejati. Ibu yang selalu menyimpan rapat kunci kejujuran dalam setiap nafasnya. Kebohongan yang akan dilakukan demi kelangsungan hidup terutama urusan makan dan pendidikan.

Saya sering mendengar keluhan seorang teman perempuan, yang juga seorang ibu, yang sampai harus menjual mas kawin demi menutup kebutuhan anaknya. Ada pula teman yang antusias makan mie goreng, karena belum makan seharian demi mendahulukan anaknya makan.

Dan, bahkan ada seorang teman yang terpaksa meminjam uang karena kecopetan. Dia menjaga keutuhan rumah tangga dengan mengatakan uang bulanan masih ada, padahal uangnya lenyap disamber copet jahanam. Dia harus berbohong, karena dia tahu suaminya itu temperamental, apalagi kalau tahu uangnya hilang.

Saya pun memiliki ibu yang akrab disebut Mak, yang ternyata suka berbohong terutama kepada saya. Ini baru saya sadari ketika tepat 40 hari Mak meninggal. 40 hari itu akhirnya membuka kotak pandora yang sekian puluh tahun tertutup rapat oleh senyum dan gincu Mak. Cerita kotak pandora itu hadir dari Teteh, kakak perempuan saya, yang menceritakan secara rinci persoalan yang selama ini tertutup rapat.

Mak adalah seorang pembohong paling konsisten sepanjang hidupnya. Beliau mampu menyimpan dengan rapih beragam persoalan. Mungkin tabu bagi dirinya berkeluh kesah, selain hanya pada Tuhan – sang pemilik peradaban langit dan bumi.

Memang saya tak pernah melihat atau mendengar Mak mengeluh apapun. Hidup tampak begitu mengalir, sederhana, dan tenang selama saya mengenal Mak. Tidak ada persoalan yang harus membuat parang meradang atau membuat Rahwana bergolak dalam tubuh.

Namun mendengar cerita Teteh, saya baru memahami siapa Mak sesungguhnya. Akhirnya, saya pun belajar betapa penting kebohongan dihadirkan demi kenyamanan keluarga dan kehidupan sosial.

Saya ingat satu waktu, ketika masih kuliah, memerlukan kamera untuk mulai belajar dan bekerja. Saat itu, harga kamera Rp 14 juta. Tentu bukan uang kecil untuk ukuran kami yang hidup sangat sederhana. Namun apa lacur, saya ingin memilikinya, lalu menceritakan keinginan itu kepada Mak tercinta. “Doakan semoga ada rejekinya,” ucap Mak dengan tenang saat itu.

Seminggu kemudian, tiba-tiba Mak memberi uang untuk membeli kamera. Uang yang demikian besar dan baru seumur hidup saya memegang uang sebanyak itu. Luar biasa kebahagiaan menyeruak seperti matahari pagi. Namun, ketika saya tanya dari mana Mak mendapatkan uang itu, ia tidak menjawab apapun. Hanya senyum tulus dan tetesan air mata yang menuruni lembah keriput wajahnya.

Namun sekarang, setelah Mak meninggal, Teteh menceritakan muasal uang itu yang ternyata dari penjualan tanahnya di kampung. Sakit saya mengetahui itu, karena bagaimana pun tanah itu hasil perjuangannya bertahun-tahun berdagang di pasar tradisional, demi mimpi kembali ke kampung menunggu kematian menjemputnya.

Di lain waktu, ketika saya pulang ke rumah, saya menyaksikan seorang saudara menangis terisak meminta maaf kepada Mak. Saya tidak tahu masalahnya saat itu, karena Mak menyuruh saya pergi, dan urusan obrolan itu hanya milik mereka berdua.

Kembali Teteh menceritakan ihwal peristiwa itu. Dan ternyata, tangisan itu karena kasus penjualan jongko baju Mak di salah satu pasar tradisional. Mak yang mantan PKL itu memiliki jongko yang beliau titipkan pada saudaranya untuk dipakai usaha bersama dan berbagi untung setiap akhir bulan. Namun ternyata, jongko itu dijual oleh saudara Mak demi menutup hobi sang suaminya yang gemar judi koplo.

Saya mengetaui itu sekarang setelah Mak tiada. Saat Mak masih hidup, Mak tidak pernah menceritakan masalah jongko yang dijual itu. Padahal, jongko itulah yang menjadi ATM Mak setiap akhir bulan dan menjadi sawah untuk mengairi kehidupan saudaranya.

Namun, Mak memang orang luar biasa.  Dia tidak marah dan menganggap jongko itu memang sudah waktunya berpindah tangan. Dahsyat!

Lain waktu ada orang meminjam uang. Mak selalu saja memberinya, meski tidak besar. Padahal Mak tahu, orang itu tidak pernah membayar utangnya. Berkali-kali saya melarangnya. Namun, Mak selalu mematahkan argumen saya dengan ucapannya yang sederhana. “Biar, rejeki mah tidak akan pernah kemana. Yang penting kita nolong orang.”

Cerita lain sebelum kematian maha indah menjemput Mak tercinta, kakak perempuan menelepon sambil menangis meminta saya membelikan buah naga untuk Mak. Tentu saya bingung mendengar permintaan itu, karena setiap waktu ketika saya di samping Mak, tak pernah sekalipun Mak minta apapun. Hanya sesekali minta dipijit, sambil bercerita bapak dan saudaranya yang telah meninggal selalu datang menemuinya.

Namun, ternyata Mak kembali berhasil membohongi saya. Mak mampu membunuh keinginan makan buah naga dengan mengatakan tidak ingin apapun, hanya karena alasana sederhana: malu!

Malu! Kenapa malu?

Saya anaknya yang dihidupi dengan keringat, darah, dan perasaannya selama berpuluh tahun. Buah naga yang tidak seberapa harganya itu, bukan buah yang sulit dibeli dan tidak akan membuat hidup saya bangkrut.

Namun itulah karakter Mak yang sesungguhnya. Tidak pernah mau menjadi beban orang lain. Selalu ingin menjadi payung, meski badannya sendiri basah dan kedinginan…

Saya yakin kebohongan Mak bukan hanya itu saja. Saya yakin ada berjuta kebohongan seperti gunung es yang tersembunyi di dasar samudera. Kebohongan yang telah menjadikan saya tumbuh dan besar menjadi manusia yang memiliki peradaban cinta.

Namun kebohongan yang paling luar biasa dan membuat saya hormat luar biasa pada Mak hanya satu hal: Mak mampu menyembunyikan identitas saya yang sebenarnya bukan anak kandungnya!

Saya hanya bisa menangis mengetahui itu. Ternyata, saya bukan darah dagingnya! Tuhan, maafkan saya telah menyakitinya berpuluh tahun…

Kini, saya berharap Mak mendapatkan hamparan surga yang maha indah dan bertemu dengan Nabi Muhammad tercinta yang menjadi panutan seumur hidupnya, dan tentu bersama Bapak kembali menjalani hidup sebagai petani. Mencangkul hamparan awan biru yang maha indah dengan gerimis yang mendendangkan lagu keabadian.

Biarlah mereka bercengkrama di surga. Saya hanya akan meneruskan wasiat kebohongan itu demi menjaga senyum dan kebahagiaan orang-orang yang saya kasihi. Satu hal yang ingin saya katakan, sahabat semua yang membaca tulisan ini, sebenarnya merupakan hasil dari kebohongan mulia para ibu.

Sudahkah Anda berbohong hari ini?

  • Hidayat Adhiningrat

    Kisah yang sangat menarik kang Bebeng. Terima kasih sudah membaginya…

  • Ugie Prasetyo

    Meweeeeek uing macana, inget Almarhumah Mamah anu ngantunkeun 3 taun kamari. Mugi sepuh urang-urang ditangtayungan surga anu jembar….

  • Nice bang 👌👌 two tumbs lah pokok nya

    Numpang jejak bang, kali minat tengok tetangga. Hehe
    http://imoetmutia.blogspot.co.id/2017/03/bunda-sang-malaikat-dunia.html?m=1

  • Artha Amalia

    Ibu…wanita mulia yang mau mengorbankan apa saja demi kebahagiaan buah hatinya. Bahkan rela berbohong. Hiks… T_T

    Sudahkah kau memberi sesuatu untuk Mak?
    Coba berilah barang yang bisa membuat Mak bahagia. Entah baju, sepatu, tas atau apapun. Cek harga sebelum belanja di priceza.co.id agar sesuai dengan banyak isi kantongmu.
    Memang tak seberapa, memang tak bisa membalas semua jasa Mak…tapi paling tidak, itu bentuk perhatian dan usahamu untuk menyenangkan hatinya
    *sekedar saran

  • Pura Joko Pambudi

    Crying…