Popularitas Tuyul dalam Mitologi & Karya Ilmiah: Dari Menembus Istana Presiden Hingga...

Popularitas Tuyul dalam Mitologi & Karya Ilmiah: Dari Menembus Istana Presiden Hingga Waktunya Pensiun

Ilustrasi (christmas-specials.wikia.com)

“Bekerjalah seperti tuyul: tak pernah kelihatan, tak butuh segala pujian, tapi hasilnya selalu memuaskan.” (anonim)

Kutipan di atas, yang saya comot dari status seorang motivator, sekurang-kurangnya menyodorkan dua kebenaran: pertama, seseorang memang tak sepatutnya menciptakan drama di tempat kerjanya; dan kedua, memang seperti itulah tuyul bekerja.

Dibandingkan makhluk halus beken lainnya, tuyul adalah yang paling tersohor dan paling spesifik tujuan keberadaannya. Mitologi mengenai tuyul menyebar tak hanya di Nusantara, melainkan merambah hingga semenanjung Indochina, meliputi Singapura, Malaysia, Kamboja, Thailand, bahkan sampai ke China dan Korea Selatan.

Uniknya, di seluruh mitologi yang berkembang di pelbagai negara itu, meski terdapat sedikit variasi bentuk tubuh dan karakteristiknya, tujuan keberadaan tuyul hanya satu: mencuri uang untuk tuannya.

Tak ada mitologi yang berkisah perihal tuyul yang mengincar istri orang seperti genderuwo, atau ongkang-ongkang kaki di dahan pohon dan menggoda orang lewat seperti sundel bolong.

Meskipun penyebarannya luas dan kisahnya sering diangkat menjadi film dan cerita fiksi, historiografi tuyul amatlah gelap. Belum ada satu pun sumber sejarah yang menerangkan etimologi tuyul, walaupun makhluk halus ini keberadaannya relatif baru, bahkan dibandingkan pocong yang baru masuk pada abad ke-16 sekalipun.

Hal ini barangkali disebabkan oleh stigma negatif sejarawan terhadap mitologi makhluk halus. Sejarah dianggap sebagai tumpukan data siap gali yang valid, rasional, dan bebas bias. Intinya, semua kriteria yang tak memungkinkan makhluk halus menjadi kajian ilmiah.

Namun, sulit menafikkan tuyul dalam perkembangan sosio-kultural masyarakat Jawa. Penyebaran mitologinya yang masif, keterkenalannya yang mencengangkan, dan fungsi praktisnya dalam perekonomian, membuat tuyul amat menggoda untuk dikaji lebih dalam.

Era Kolonialisme

Sumber tertua yang menyebut keberadaan tuyul adalah Mededelingen van het Nederlandsch Zendelingen Genootschap 4 (1860) karya S.E. Harthoorn pada tahun 1860. Tuyul di situ mendapat sebutan setan gundul, yang barangkali berasal dari penampakan fisik makhluk halus tersebut yang kepalanya licin plontos.

Nomenklatur setan gundul juga muncul di sumber berikutnya, yaitu De Javaansche geestenwereld karya Van Hien pada tahun 1894. Karakteristik setan gundul serupa dengan tuyul: makhluk halus berbentuk bocah berkepala gundul, senang bermain-main, dan digunakan sebagai pesugihan (dari bahasa Jawa sugih, yang artinya kaya).

Meskipun baru disebut pada abad ke-19, besar kemungkinan kalau setan gundul memiliki sejarah yang jauh lebih panjang. Beberapa sejarawan asing menduga bahwa mitologi tuyul bermula sejak uang digunakan sebagai alat tukar secara masif di Jawa, yaitu pada abad ke-13.

Ada pula yang mengaitkan setan gundul sebagai makhluk halus yang sama dengan Ama Menthek, lelembut penghancur padi yang dalam perkembangannya berevolusi menjadi pencuri padi. Jika hipotesis ini benar, maka sejarah setan gundul bermula sejak sebelum abad ke-10.

Selama masa Depresi Besar dan Perang Dunia, kapitalisme di Jawa turut mendapatkan pukulan telak. Kesempatan untuk mendapat pendapatan besar amat minim dan perekonomian memasuki masa senjanya.

Saat itu, penduduk miskin meningkat jumlahnya dengan kecepatan yang mengagumkan, dan penduduk kaya serta golongan bangsawan terepresi habis-habisan.

Imbas dari krisis tersebut tak hanya terjadi pada sektor ekonomi, melainkan juga pada mitologi. Setan gundul, yang barangkali dianggap tak lagi memadai di masa krisis, pelan-pelan menghilang.

Perekonomian kembali bangkit pada tahun 1940-an, dan bangkit pula mitologi tentang pesugihan. Orang-orang membutuhkan hantu baru sebagai pengganti setan gundul untuk menjelaskan fenomena kaya mendadak.

Tuyul, yang barangkali sebelumnya telah ada tapi tak terkenal, dibuatkan panggung dalam mitologi baru yang hendak diusung.  Sejak itu dimulailah era hantu bocah gundul yang terkenal ini.

Era Post-Kolonial dan Modern

Sejarawan pertama yang mengulas tuyul pada era ini adalah Clifford Geertz, seorang antropolog asal Amerika Serikat yang melakukan penelitian di Mojokuto, Jawa Timur. Dalam bukunya yang berjudul Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, Clifford Geertz mendeskripsikan tuyul secara detail.

Geertz tak hanya mendeskripsikan anatomi tubuh tuyul dengan detail yang mengagumkan. Ia juga menguraikan secara panjang lebar mengenai aktivitas tuyul, karakter orang yang memilikinya, hingga bagaimana cara mendapatkannya.

Dalam khazanah pertuyulan, Clifford Geertz pantas menyandang gelar ‘Bapak Tuyul’.

Hasil penelitian Clifford Geertz lalu disempurnakan oleh Peter Boomgaard. Pada bukunya yang berjudul Illicit Riches: Economic Development and Changing Attitudes Toward Money and Wealth as Reflected in Javanese Popular Belief, Boomgaard fokus mengulas relasi antara makhluk halus dengan mentalitas ekonomi masyarakat Jawa.

Mitologi Jawa, dan khususnya tuyul, mengalami zaman yang gilang gemilang pada era ini. Buku-buku yang mengulasnya bermunculan, baik non-fiksi maupun novel, studi sejarah, ataupun kitab klenik. Tak hanya dalam media cetak, tuyul juga dipopulerkan oleh media elektronik dan layar lebar.

Tak hanya populer sebagai bahan kajian, pesugihan tuyul juga mengalami kenaikan yang signifikan dibandingkan era sebelumnya. Kondisi ekonomi yang semakin membaik, masih kuatnya mistisisme di tengah masyarakat, dan kesenjangan sosial yang makin melebar akibat kapitalisme, membuat pesugihan tuyul makin digandrungi sebagai jalan pintas menuju kemakmuran.

Memang tak ada data valid yang bisa dirujuk, entah dari kepolisian maupun dinas perpajakan. Kita hanya bisa menarik kesimpulan tersebut dari menjamurnya iklan pesugihan tuyul di berbagai media dan makin ramainya orang-orang yang mengalap berkah di tempat-tempat wingit yang dipercaya sebagai markas tuyul.

Yang paling menarik adalah pemakaian frasa ‘setan gundul’ oleh Presiden Soeharto kala itu untuk menyebut para aktivis pro-demokrasi. Hal itu membuktikan bahwa tuyul atau setan gundul mencapai puncak popularitas hingga menembus Istana Presiden, sesuatu yang tak pernah digapai pada era sebelumnya.

Namun, kita tahu, bahwa setelah mencapai titik puncaknya, sebuah kurva hanya punya satu kepastian: menukik turun.

Era Internet

Alon-alon waton kelakon. Peribahasa Jawa tersebut, yang bersepadan dengan peribahasa ‘biar lambat asal selamat’, dianggap tak lagi relevan dengan dunia yang bergerak makin gegas seperti sekarang. Orang-orang menuntut kecepatan dalam segala hal dengan tak mengorbankan kepastian atau keselamatan.

Hal itu juga berlaku pada upaya seseorang dalam mencapai kekayaan secara praktis. Pesugihan, lambat tapi pasti, sepi peminat. Situs-situs wingit masih tetap dikunjungi, hanya saja tak seramai era sebelumnya.

Iklan-iklan klenik yang dulu menjajakan tuyul dan bentuk pesugihan lain, mulai beralih menawarkan jasa terawang togel dan pelbagai azimat pengasihan.

Tuyul barangkali adalah pesugihan yang paling terdampak. Keterbatasannya dalam mencuri (tuyul memiliki semacam kuota yang membatasinya mengambil uang dalam sehari), kelemahannya pada mainan yang telah jamak diketahui, dan uba-rampe yang tak bisa dibilang sepele selama pemeliharaannya, menjadikan tuyul tak lagi diminati oleh masyarakat.

Tak berarti pesugihan lantas mati. Dengan kecanggihan teknologi dan kemajuan pola pikir, berkembanglah pesugihan-pesugihan jenis baru yang relatif mudah dipelajari, bebas tumbal, dan tentunya menghasilkan kekayaan dengan kecepatan yang mengagumkan.

Kita bisa menggolongkan skema Ponzi ke dalam pesugihan jenis baru tersebut. Jangan lupakan pula investasi bodong dan penipuan berkedok agama. Ketiga jenis penipuan tersebut, serta belasan modus penipuan lainnya, berhasil menenggelamkan kejayaan pesugihan tradisional pada era saat ini.

Popularitas tuyul memang tak terdampak secara signifikan. Setahun lalu film tentang tuyul dirilis di bioskop, dan masih kita dapati berita-berita tentang penangkapan tuyul di pelbagai pelosok negeri.

Namun, kemajuan zaman dan perubahan pola pikir masyarakat memunculkan satu pertanyaan: sudahkah waktunya bagi tuyul memikirkan masa pensiun?