Mari Uji Seberapa Tulus Maaf Lahir Batin Kita

Mari Uji Seberapa Tulus Maaf Lahir Batin Kita

Ilustrasi (prweek.com)

Sewaktu Lebaran, saya paling malas bikin ucapan “Mohon maaf lahir dan batin” yang kemudian disebarluaskan melalui pesan massal. Saya bahkan cenderung diam ketika orang heboh dan memenuhi aplikasi obrolan di telepon genggam dengan ucapan itu.

Ya paling saya hanya menulis “Selamat Lebaran, semoga setiap makhluk menemukan pencerahan dan kedamaian”. Mengapa begitu? Karena itu yang saya lakukan, yaitu mencoba terus mencari pencerahan.

Pencerahan itu tidak mudah didapatkan, jika selama Lebaran kita tidak menyempatkan diri untuk berkontemplasi terhadap diri kita selama bulan Ramadan. Apakah yang kita lakukan sesuai dengan makna puasa yang mendidik kita untuk bersabar dan menahan diri?

Kita sudah berpuasa sebulan penuh dan sering kali mendengar bahwa berpuasa untuk meningkatkan rasa empati kepada mereka yang tidak mampu. Namun, yang ada, setiap berbuka kita selalu kalap untuk makan. Terlebih, banyak orang yang selalu memusingkan diri mencari dan menghabiskan uang untuk sajian yang mewah.

Dan, hanya pada bulan Ramadan, penjualan dan pembelanjaan meningkat. Orang-orang menyerbu mal untuk berburu baju terbaru dan termahal untuk dipakai pada hari raya. Emo ergo sum, aku belanja maka aku ada.

Lantas, di mana esensi bulan Ramadan, yang mana kita diperintahkan untuk menahan diri, terutama menahan diri dari segala hasrat untuk menjadi hamba sahaya budaya konsumtif dan keriyaan?

Hanya pada bulan Ramadan, orang-orang berlomba membagikan makanan di jalanan dan berbuka puasa bersama yatim piatu. Tapi kenapa mereka tak sering lakukan itu pada bulan lain selain Ramadan?

Oh ya, saya hampir lupa, pada bulan lain kan sibuk banget. Pahalanya juga lebih sedikit. Masuk surga juga harus hitung-hitungan dong. Kalau bisa efisien, kenapa tidak? Lantas, apa yang salah dari mendadak syar’i pada bulan Ramadan?

Lagipula, siapa sih yang peduli sama orang miskin pada bulan lain selain Ramadan? Begitu kan?

Dan, katanya lagi nih, setelah bulan Ramadan, dosa kita akan berkurang bahkan dihapus. Istilahnya 0-0. Karena itu, ada baiknya saling maaf-maafan. Tapi nyatanya, setelah Lebaran, saya masih saja kena pelecehan seksual di pinggir jalan. Orangnya nggak minta maaf pula.

Oh ya, kan habis Lebaran, sudah bersih dari segala dosa. Jadi nggak masalah buat dosa lagi, cuma melecehkan saja kan?

Dan, saat lebaran pula, kita mendengar banyak anggota keluarga yang suka menanyakan hal-hal seperti kapan nikah, kapan punya anak, kapan nambah, kapan nambah, kapan nambah. Sebuah pertanyaan yang memojokkan anggota keluarga yang belum atau tidak menikah, yang belum atau tidak punya anak.

Membandingkan satu sama lain hanya karena yang satu sudah ‘laku’ dan yang lain belum, rasanya menyakitkan. Lantas, buat apa berpuasa, jika pada hari raya Idul Fitri kita tidak mampu menahan diri untuk tidak menyakiti sesama keluarga?

Sejak zaman ‘Seputih kapas, sebening embun’, minta maaf lahir batin saat Lebaran itu gampang. Terlebih, dengan menyebar pesan secara massal. Nggak banyak makan kuota pula. Paket hemat, lagi.

Minta maaf yang benar-benar tulus itu yang susah. Ujiannya tak cukup sebulan saja, melainkan 12 bulan, kemudian 12 bulan lagi, 12 bulan lagi, 12 bulan lagi, dan seterusnya. Tak cuma sekadar upaya menunjukkan eksistensi di media sosial. Toh, kita masih mendengar ujaran kebencian, bahkan saat khotbah Idul Fitri.

Jika kita sungguh-sungguh meminta maaf, seharusnya tidak tersinggung ketika orang yang kita sakiti mengungkit kesalahan kita, karena ada beberapa orang yang tidak mudah memberi maaf. Ada pula yang pemaaf, tapi menolak lupa.

Orang yang meminta maaf, apalagi berani secara terbuka dan massal, yang kudu menurunkan ego dan gengsinya. Sanggup? Saya kok nggak yakin ya?

Kalau memang ikhlas maaf-maafan, kenapa masih saja melakukan kesalahan serupa setelah bulan Ramadan dengan terus merisak, mempersekusi, mengintimidasi, dan melecehkan mereka yang sudah tersakiti?

Itu yang menjadi alasan saya menahan diri untuk mengirim pesan maaf secara massal, karena saya lebih memilih meminta maaf secara langsung ketika melakukan kesalahan. Bukan menunggu hari raya seolah segala kesalahan bisa auto-maaf atau auto-ampun dengan mengirim pesan massal. Hari ini sudah minta maaf, belum?

Oh ya, tolong jangan berikan saya alasan “Tuhan saja bisa memaafkan, kenapa kamu tidak?” Ya, karena saya bukan Tuhan, tidak mudah memaafkan orang-orang yang sudah menyakiti, mempermalukan, dan membuat saya kecil di mata saya sendiri. Sedangkan Tuhan yang serba Maha tidak perlu dibela.

Kalau saya mah bisa apa setelah kamu sakiti? Paling nangis di kamar…