“Tuhan, Doaku Masih Sama Kayak Kemarin”

“Tuhan, Doaku Masih Sama Kayak Kemarin”

desiringgod.org

“Mas, Tuhan itu Maha Mengetahui tidak?” tanya seorang kawan waktu kami duduk rehat usai menunaikan sholat.

Yess, tentu saja. Kenapa emangnya?” jawab saya.

Otak saya langsung loading dan simpul syaraf sudah stand by pada tombol Ctrl+F untuk mencari referensi hoax terpercaya untuk menjelaskan pertanyaan tak berguna  sulit ini.

“Tuhan tahu tidak Mas, apa yang terjadi dulu-dulu?”

“Apa yang pernah saya alami?”

“Apa yang pernah saya katakan?”

“Apa yang pernah saya perbuat?”

Spontan saya nyeletuk.

“Heeyy, kok jadi panjangan punyamu  kalimatmu?”

Dari tadi saya sebenarnya mau menjawab. Tapi, karena belum menemukan konteks kalimat nih bocah, saya hanya pendek berkata, “Iya tahu lah, terus kenapa?”

“Salah tidak Mas, tadi habis sholat saya doanya begini… Yaa Allah, doaku masih sama dengan kemarin. Dia kan Maha Tahu, masa saya harus ulangi lagi doanya,” ujar kawan saya itu.

Oalah, ternyata itu inti masalahnya. Yang kemudian terjadi adalah saya tarik lagi simpul syaraf dari tombol Ctrl+F, dan saya tekan F5 saja dulu. Orang model gini tidak bisa dihadapi dengan otak, tapi dengan hati. Kalau tidak pake hati, berat menjalaninya, meski tak terpisah jarak dan waktu.

Jujur saja, kalau persoalan apakah Tuhan itu Maha Mengetahui dan Maha Segalanya, saya pikir bagi semua yang percaya pada Tuhan, pembahasan itu telah selesai. Namun, persoalan doa ini jika dalam konteks kajian agama, saya harus cermat untuk membahasnya. Karena itu, saya coba bercerita tentang doa sebagai sebuah fenomena.

Sedikit mundur beberapa bulan yang lalu, Kerajaan Jagat Maya dan republik ini sempat heboh dengan doa RM Syafii dalam Sidang Tahunan MPR. Banyak beberapa kalangan disebut lebih banyak mengeluh daripada meminta. RM Syafii lugas menceritakan derita bangsa ini, konstalasi politik, sampai penjara cinta yang penuh derita sesak kelebihan kapasitas.

Akibatnya muncul guyonan di Warung Kopi Pak Lek Jum. “Tuhan itu bukan lawan bicara, bukan partner diskusi, tetapi tempat meminta. Nggak usah cerita deh, Tuhan juga Maha Tahu.”

Jadi sebenarnya apa itu doa? Dalam Kumpulan Filsafat Kehidupan, Kahlil Gibran mengatakan bahwa doa adalah lagu hati yang membimbing ke arah singgasana Tuhan, meskipun ditingkah oleh suara ribuan orang yang sedang meratap.

Rabi’ah Al Adawiyah, sang penggagas Mahabbah Ilahi, dalam sebuah kisah pernah diriwayatkan pernah berkata, “Karena Dia mengetahui keadaanku, mengapa aku harus mengingatkan-Nya? Apa yang diinginkan-Nya, kita harus menerima.”

Apakah ini bermakna kita sebagai hamba tidak perlu meminta? Saya pikir tidak demikian. Saya mencoba mengutip syair ‘fenomenal’ dari Rabi’ah Al Adawiyah yang saya kutip dari buku Mahabbah Cinta Rabi’ah Al Adawiyah, terbitan Yayasan Bentang Budaya Yogyakarta, cetakan keempat Juni 1999.

“Ya Allah, apapun yang engkau karuniakan kepadaku di dunia ini, berikanlah kepada musuh-musuh-Mu, dan apapun yang engkau karuniakan kepadaku di akhirat nanti, berikanlah kepada  sahabat-sahabat-Mu. Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku.”

Kuncinya keikhlasan dalam menjalani apa yang digariskan oleh Tuhan dan bersabar menunggu apa yang belum diberikan oleh-Nya.

Tiba-tiba, lengan saya basah. Seperti bau amis darah. Bocah di sebelah saya yang tadi bertanya, menatap dengan pandangan nanar. “Yess… Dia mimisan. Waduh…. Oke, ini harus dihentikan. Jangan sampai kejang-kejang karena kebanyakan mikir.”

Sederhananya, dalam Kitab Suci, Tuhan udah menyuruh kita untuk berdoa. Tuhan itu, iya Yang Maha Mengetahui dan dia tahu apa yang tersirat di hati dan apa yang dibutuhkan oleh kita. Tapi dengan berdoa, kita akan mengetahui kadar keimanan dan kualitas diri dalam beragama. “Saya lihat mimisnya sudah berhenti mengalir, tetapi tatapannya masih kosong. Oke, ada harapan.”

Saya lanjut.

Doa adalah memohon segala hal yang bersifat baik. Kalau kita meminta keburukan pada Tuhan, saya belum menemukan referensinya, belum pernah menemukan riwayat para Nabi dan ulama yang berdoa, “Ya Tuhan, jatuhkan lah azab yang teramat pedih kepada si Fulan, karena dia telah semena-mena menghalangi jalanku menyampaikan agama-Mu.”

Saya sempat menengok sebentar kepada kawan saya itu. Matanya mulai ada gelombang kerinduan riak kehidupan. Saya berdiri. Blocking. Menghadapkan muka saya kepadanya.

Saya pun berkata sambil memasang wajah serius dan dengan sorot mata tajam, “Coba kamu lihat di media sosial, berapa banyak hujatan yang dibungkus dengan doa oleh Laskar Amin dan Like? Ya Tuhan, berikanlah azab yang pedih kepada dia yang menyiksa ibunya, jatuhkan lah bencana kepada bangsa yang mendzolimi saudara seagamaku, semoga dosen killer itu masuk surga (dengan segera), dan lain-lain.”

Coba hitung, lebih banyak mana waktu yang kamu habiskan untuk berdoa di media sosial dibanding dalam ibadahmu? Panjang mana status Facebook-mu daripada dzikirmu?

Saya lihat sorot matanya bersinar, bibirnya pelan-pelan bergerak, saya lega. Dan, saya yakin dia akan berkata. Dan, yaaaak benar, dia berkata, “Kalau misal saya nulis doa di Facebook gitu, Tuhan tahu? Kan dia nggak punya FB.”

Dieeeeeeeeng, matek kon naaaaak… LoL.