Agar Kita Tidak Naif Menyikapi Kasus Tora Sudiro

Agar Kita Tidak Naif Menyikapi Kasus Tora Sudiro

Tora dan Mieke (instagram.com/t_orasudi_ro/sry)

Tora Sudiro dan istrinya ditangkap karena memiliki dumolid. Di sini kita bisa menunggu komentar tentang mereka yang mengira bahwa itu satu jenis narkoba baru dan mereka yang sadar itu salah satu obat resep untuk gangguan kesehatan mental.

Di Indonesia, gangguan kesehatan mental kerap dianggap gila atau setara orang sinting. Banyak dari kita tak paham apa itu kesehatan mental dan menganggap mereka yang datang ke psikolog atau psikiatris sebagai orang yang mengalami gangguan kejiwaan.

Kesehatan kejiwaan di Indonesia barangkali lebih rumit dari sekadar menentukan seseorang gila atau tidak, waras atau tidak. Spektrum gangguan kejiwaan yang rumit, kebijakan kesehatan yang belum menyentuh perkara inti, hingga stigma bagi para penderitanya membikin masalah kejiwaan seperti Dajjal.

Kita tahu deskripsi tubuh dan wajahnya, tapi tak pernah benar-benar melihat. Kita hanya meraba-raba, membayangkan, tanpa pernah bisa tahu bagaimana wujud aslinya.

Tora Sudiro barangkali satu dari sekian juta penderita gangguan kesehatan mental di Indonesia. Gangguan ini jangan disamakan dengan orang delusional, seperti yang merasa mirip dengan Abraham Lincoln atau merasa bahwa menurut bisikan leluruh di Kulon Progo akan dibangun bandar udara.

Data Riset Kesehatan Dasar 2013 mencatat prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia mencapai 1,7 per mil. Artinya, 1-2 orang dari 1.000 penduduk di Indonesia mengalami gangguan jiwa berat, sementara layanan kesehatan jiwa masih belum maksimal.

Ada banyak jenis gangguan kesehatan mental yang memerlukan penanganan partikular. Misalnya, mereka yang menderita gangguan Bipolar tentu tak bisa disamakan dengan mereka yang menderita gangguan Schizophrenia. Resep obat juga tak bisa diberikan kepada sembarang pasien.

Di Indonesia, kesenjangan pengobatan gangguan jiwa di Indonesia mencapai lebih dari 90%. Artinya, kurang dari 10% penderita gangguan jiwa yang mendapatkan layanan terapi oleh petugas kesehatan. Kebanyakan justru berobat ke tenaga non-medis seperti dukun maupun kiai.

Margaret Chan, direktur jenderal WHO, menyebutkan bahwa estimasi biaya yang dikeluarkan untuk perawatan kesehatan jiwa di 36 negara selama 2015-2030 sebesar US$ 925 miliar.

Dari data yang dikeluarkan oleh survei Atlas Kesehatan Mental WHO 2014 diketahui bahwa rata-rata pemerintah dunia menghabiskan 3% dari anggaran kesehatan mereka untuk kesehatan mental. Sementara negara-negara yang lebih miskin menganggarkan 1%, negara kaya menghabiskan 5%.

Sejauh ini, pemerintah telah meningkatkan anggaran kesehatan menjadi Rp 106,1 triliun pada 2016 dibanding 2015 yang sebesar Rp 74,3 triliun. Berdasarkan persentase terhadap jumlah total anggaran, anggaran kesehatan dalam APBN 2016 naik menjadi 5% dari 3,75% dalam APBN-P 2015.

Pemerintah akhirnya memenuhi amanah Undang-Undang (UU) No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan untuk mengalokasikan 5% dari APBN untuk kesehatan.

Saya beberapa kali menulis tentang gangguan kejiwaan di Tirto. Setidaknya dari kita punya dana Rp 106,1 triliun untuk kesehatan, menurut Human Right Watch, pemerintah hanya menganggarkan 1,5% saja untuk kesehatan jiwa.

Angka ini terlalu kecil dan masih belum memenuhi standar minimal yaitu 5% dari anggaran total kesehatan nasional. Jika ini dibiarkan, dikhawatirkan angka depresi akan terus meningkat dan biaya pengobatan jiwa akan semakin membengkak.

Tentu ini tidak membuat penyalahgunaan obat bisa dibenarkan. Tapi menganggap bahwa setiap pengguna obat penenang adalah pecandu tanpa memahami mengapa mereka mengonsumsinya, ya naif.

Selama ini, dumolid digunakan sebagai pengobatan medis pada pasien yang mengalami gangguan tidur atau insomnia. Mengonsumsi obat ini tidak bisa sembarangan, dumolid hanya bisa dikonsumsi berdasarkan resep dokter.

Tapi, jika anda bukan penderita gangguan kesehatan mental, anda tidak akan tahu betapa rumit dan berkelindannya pelayanan kesehatan bagi mereka yang memiliki gangguan kejiwaan.

Hal sederhana seperti mengakses dokter jiwa yang tak bisa dilakukan semua orang. Bagi banyak orang, biaya konsultasi kejiwaan terlalu mahal. BPJS memang meng-cover layanan ini, tapi banyak orang yang mengeluhkan prosesnya yang rumit.

Berbeda dengan sakit fisik yang bisa diobati segera, mereka yang depresi, suicidal, dan secara konstan ingin menyakiti diri sendiri, tak punya kemewahan waktu.

Anda tak pernah tahu kapan akan mengalami panic attack. Seseorang dengan gangguan mood parah bisa saja tampak biasa-biasa dan bahagia pada pagi hari, tapi tiba-tiba menyayat lengan pada sore hari.

Ada banyak kasus dimana mereka yang menderita gangguan kesehatan jiwa dianggap hanya cari perhatian dan ini benar. Mereka mencari perhatian karena butuh bantuan dan pertolongan medis, sebab tak mampu lagi menolong diri sendiri.

Namun, tak semua orang punya stamina membantu terus menerus dan siap membantu kapan saja. Dan, obat jadi satu-satunya alasan mereka bisa berfungsi normal, meski tak semua orang mau mengonsumsi obat terus menerus.

Tapi, pada saat yang sama, kesehatan mental di Indonesia masih belum jadi prioritas utama, keliatan gila dikit, pasung!

Ini penting, kriminalisasi pengguna obat medis untuk membantu mengatasi gangguan kesehatan jiwa hanya akan memperumit keadaan. Penjara di Indonesia kelebihan kapasitas 55% atau 101.266 jiwa. Dari angka itu, ada 31% narapidana dan tahanan korban yang jadi pengguna narkoba.

Sistem Database Pemasyarakatan Ditjen Pemasyarakatan Kemenkum HAM per Juni 2017, menunjukkan, luas bangunan penjara di Indonesia sekitar 227 hektare. Luas ini tak melampaui luas lahan dua kampus besar di Indonesia. Luas lahan Universitas Indonesia 320 ha dan Institut Pertanian Bogor 250 ha.

Ada 6.115 jiwa penghuni yang masih kecanduan narkoba dan menjalani terapi metadon. Di sisi lain, selama April-Mei 2017, ada 236 tahanan meninggal dunia akibat kelebihan kapasitas penghuni penjara. Selama tiga bulan itu, ada 123.643 tahanan sakit.

Berapa dari orang yang ditangkap dalam kasus narkoba sebenarnya adalah pasien gangguan kesehatan mental yang mengonsumsi obat untuk membantu mereka menghadapi penyakitnya?

Dalam spektrum yang sama, kriminalisasi penderita gangguan kesehatan mental karena menggunakan obat penenang tanpa resep sama jahatnya dengan memenjarakan Fidelis karena menanam ganja untuk mengobati istrinya.

  • eka

    Kalau saja tora menggunakan obat penenang sesuai aturan (ke dokter dan dokternya meresepkan obat tsb) maka tak akan ada kriminalisasi. Peraturan nya dibuat dgn tujuan melindungi masyarakat dari bahaya penyalahgunaan.

  • Maulana Affandi

    iya, semua harus dilihat dari sudut pandang lain spy tdak langsung menjudge

  • Yg terpenting apa yg menjadi tujuan utama dr mengkonsumsi itu,

  • Ridho Irkham Zamroni

    Wooow 1000 / 1-2 indonesia terkena? Bahaya sekali tuuhhh. Thx infonya gan bermanfaat bnget

  • Kebanyakan artis sekarang kaya gini beli obat penenang biar serasa tenang tapi itukan tidak baik dikonsumsi

  • KiosCoding

    Intinya kembali pada niat pemakainya tersebut jika niatnya untuk pengobatan si oke oke aja tapi jika niatnya menyimpang ya wajib diluruskan #CMIIW

  • Calysta Adelina

    bener gan .. kesehatan itu harus di utamakan

  • Nitha Syakiraa Domm

    mungkin tora ga bisa tidur pikirannya ga tenang jd dia minum obat itu…soalnya kerjaan dia kan byk…kalau ga tidur bisa sakit nantinya…