Tips & Trik Menjadi Mahasiswa Selow agar Tak Berakhir Konyol

Tips & Trik Menjadi Mahasiswa Selow agar Tak Berakhir Konyol

suaramahasiswa.info

Belakangan ada dua kejadian yang menggemparkan publik. Pertama, kasus Yuyun, remaja berusia 14 tahun yang diperkosa beramai-ramai dan dibunuh secara keji oleh 14 pemuda di Bengkulu. Kedua, pembunuhan dosen oleh mahasiswanya sendiri di Medan, Sumatera Utara.

Soal Yuyun, kang Hidayat Adhiningrat telah membuat artikel yang mengejutkan. Artikel berjudul “#NyalaUntukYuyun di Tengah Euforia Kita” tersebut mencegat rasa kemanusiaan kita bahwa bersikap acuh tak acuh sama saja bersekongkol dengan kematian yang dihadapkan kepada orang lain.

Saya akan menulis kasus yang kedua, soal mahasiswa pembunuh di Medan. Tapi, sebelum melanjutkan tulisan ini, izinkan saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas dua peristiwa tersebut.

Alkisah, menurut riwayat portal-portal berita online, dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Nur Ain Lubis (63), ditikam oleh mahasiswanya bernama Roymardo Sah Siregar (20).

Ironisnya, kejadian itu persis ketika bangsa kita merayakan Hari Pendidikan Nasional. Dan, peristiwa itu terjadi di kampus, sebuah lembaga pendidikan yang seharusnya mencetak manusia-manusia intelektual.

Sempat ada beberapa versi terkait insiden ini. Versi pertama, pelaku bunuh korban lantaran cekcok masalah skripsi. Versi kedua, pelaku membunuh korban karena selalu diberi nilai jelek dan pernah dimarahi kepergok pacaran di toilet kampus. Ketiga, berdasarkan investigasi terakhir polisi, pelaku berbuat nekat karena dendam.

Roymardo diduga kesal lantaran sering dimarahi dan diusir dari kelas, karena memakai kaos dan jarang membawa buku. Bu dosen Nur Ain Lubis katanya juga sering mengancam memberi nilai buruk dan tak akan meluluskan mata kuliah Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), kalau si Roymardo tak mengubah sikapnya.

Sebenarnya kesal saat menghadapi dosen adalah hal yang lazim di dunia kampus. Saya juga sering kok ketemu dosen-dosen yang nyebelin di kampus dulu. Bukan cuma satu dek Roymardo, tapi bisa 5 orang dosen. Saya nggak bisa bayangkan kalau kau kuliah di tempat saya dulu.

Seorang kawan saya yang sekarang menjadi dosen menjadi takut. Belum lama ini, ia mem-posting berita soal itu di Path. Ia menulis, “Duh, jangan sampe deh gue dibunuh gini.” Kasian kan? Profesi yang mulia ini bisa-bisa nggak ada lagi yang mau. Bagaimana nasib generasi penerus yang tak bisa diteruskan nantinya? Sekarang saja kita sudah kekurangan tenaga pendidik.

Memang masalah ini terletak pada si pelaku. Ya, kalau mau ketemu dosen mbok yang rapih lah. Mosok situ pacaran di toilet aja rapih, pas kuliah nggak rapih. Lagipula, mosok ke kampus nggak bawa buku. Kau mau belajar apa mau pacaran di toilet. Eh?

Kalau boleh, saya mau sedikit bernostalgia. Dulu, ada satu dosen yang nyebelin banget. Selain nyebelin, dosen ini terkenal ‘killer’ alias super galak. Kalau dia masuk kelas, ada trik-trik khusus untuk menghadapinya.

Pertama, baca novel buku semaleman, karena pasti bakal ditanya pas mata kuliahnya. Kalau perlu bikin contekan.

Kedua, pakai baju dengan warna yang nggak menyolok, kalau perlu gelap. Nggak apa-apa, asal jangan nasibmu yang gelap. Jodohmu juga.

Ketiga, duduk di belakang kawan yang punya badan gemuk atau tinggi supaya pandangan belio terhalang.

Tapi si Roymardo ini sepertinya nggak selow. Padahal, selow itu jawaban terbaik supaya terhindar dari perbuatan keji. Saya akan kasih tips bagaimana bersikap selow saat jadi mahasiswa agar nggak konyol kayak si Roymardo. Sebab, dosen itu punya berbagai karakter. Sama kayak teman-teman kalian di kampus. Ada yang nyebelin, nyentrik, cerdas abis, jarang masuk, dan ‘killer’.

Di sini, saya tidak mengatakan kalau Nur Ain Lubis itu dosen ‘killer’ atau apa. Saya yakin beliau adalah dosen yang baik. Yang kurang ajar ini si Roymardo. Berikut ini tips dari saya ketika menghadapi dosen yang bener-bener nyebelin dan ‘killer’.

Pertama, belajar sebanyak-banyaknya, karena memang tugasmu sebagai mahasiswa ya bercinta di toilet belajar. Baca buku materi kuliah agar otak nggak tumpul. Yang bahaya kalau otak ketinggalan di rumah. Yang ada cuma planga-plongo ketika ditanya dosen ‘killer’ di kelas.

Kedua, kalau kamu kesal sama dosen, jangan main fisik. Cobalah bersikap cool. Tapi jangan terlalu cool, nanti kaku. Simpan ke-cool-anmu itu saat ketemu pacar atau gebetan. Lalu hadapi dengan santai.

Ketiga, jika belum terlanjur diajar oleh dosen ‘killer’ atau nyebelin, coba pilih mata kuliah lain. Kalau nggak bisa, ganti dosennya.

Keempat, curhat ke teman-teman. Apa masalah kamu sama dosen ‘killer’ atau nyebelin itu? Jangan diam saja di pojokan. Bisa-bisa fantasi liar kamu itu menyebabkan hal konyol kayak si Roymardo.

Kelima, gunakan moto minimarket: senyum, sapa, salam. Saya tahu kamu bukan pegawai minimarket. Tapi, kalau kebetulan papasan di kampus, nggak ada salahnya kamu melakukan hal itu. Toh, kalau dicuekin, kamu tetap dapat nilai A pahala.

Keenam, meminimalisasi kesalahan. Ya kalau nggak mau ditegur, coba pakaian yang rapih sebelum berangkat ke kampus. Jangan lupa mandi. Jangan kayak Wahyu Alhadi (Awang Blackdog), waktu kuliah pakai kaos oblong, celana robek-robek, sandal jepit, dan rambut gondrong ala Amy Search Isabella jaman doeloe.

Ketujuh, ini cara terakhir. Coba belajar nulis satir ke Hinayana, Isidorus Rio Turangga, atau Eko Rio Wibowo. Isidorus juga masih mahasiswa tuh. Kamu bisa belajar sama dia. Siapa tahu tulisan kamu dimuat di Voxpop. Puas melampiaskan kekesalan, dapat honor pula.

Satu hal yang mau saya tegaskan, dosen juga manusia. Bukan hanya milik rocker macam Candil, yang mantan vokalis Seurieus itu. Mereka punya kelebihan dan banyak pula kekurangannya. Asal masih seimbang nggak apa-apa. Buat adek-adek mahasiswa, jangan lupa proses studi di kampus itu baru sekelumit dari persoalan hidup. Keluar dari sana, kau akan tahu persoalan hidup yang lebih besar. Masih kuat mentalnya?

Kalau nggak kuat, bisa berguru kepada Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, mbak Puan Maharani, soal apa itu revolusi terpental mental. Meski tahu, pura-pura nggak tahu saja. Kalau ditanya sama beliyau, kamu bilang saja begini. “Wah, saya belum tahu. Apa itu ya?”

  • terimaksih info tentang : Tips & Trik Menjadi Mahasiswa Selow agar Tak Berakhir Konyol sangat bermanfaat.
    semoga website ini terus menyajikan info, berita, dan artikel yang menarik dan bermanfaat.