Tips dari Scott Fitzgerald untuk Menghadapi Tipuan Lampu Sein Ibu-ibu

Tips dari Scott Fitzgerald untuk Menghadapi Tipuan Lampu Sein Ibu-ibu

play.google.com

Hidup anda di jalan raya kiranya belum lengkap kalau tak ditipu oleh lampu sein ibu-ibu yang mengendarai sepeda motor. Dikira ke kanan, taunya ke kiri. Dikira ke kiri, taunya ke kanan. Giliran nggak kasih sein, tiba-tiba berhenti. Spontan yang dibelakang langsung menggerutu. Kaget.

Tentu tak semua ibu-ibu atau kalau mau diperluas lagi perempuan yang seperti itu. Saya bahkan belajar bawa motor dan mobil dari ibu saya. Tapi, kebetulan, saya pernah mewawancarai ibu-ibu soal alasannya bawa motor. Satu kesimpulan sahih yang saya dapat: Selain nganter anak sekolah karena hemat ongkos, berkendara itu ternyata menyuguhkan sensasi tersendiri.

Memang saya akui, memiliki kuasa penuh mengendalikan stang atau setir itu menyenangkan. Meski begitu, kuasa penuh terkadang menyulitkan. Faktanya, ibu-ibu yang membawa motor dengan tipuan sein plus sarung tangan buat masak bikin ribet pengendara lain. Kalau menabrak dan celaka, kita yang kena. Kalau kita yang celaka, kita yang iba. Serba salah.

Entah dimana salahnya mengapa hal ini terus terjadi dan seolah berkembang biak di jalan. Apakah sosialisasi safety riding yang tak merata ke segala usia atau gara-gara SIM nembak? Saya pikir ini masalah mendasar. Jangan main-main dengan lampu sein, ibuu…

Tentu saja bukan hanya ibu-ibu. Ada juga remaja dengan rambut dicat pirang yang menggunakan motor dengan knalpot sampai menyembur ke muka dan asapnya lebih berbahaya daripada asap rokok. Manuvernya bisa dibilang lebih gila lagi. Suara motornya saja sudah bikin pekak, apalagi tiba-tiba mendadak disalip dalam sepersekian detik di situasi-situasi berbahaya.

Namun, karena jumlah mereka tak terlalu banyak dan biasanya sudah diselesaikan oleh razia polisi, maka tipuan sein ibu-ibu lah yang menjadi tren kekinian. Lalu terbentuklah stereotip. Stereotip ini sebenarnya rada seksis. Tapi ya begitulah adanya.

Jika menelisik secara historis, seorang pengarang novel dan cerpen tersohor, Scott Fitzgerald pernah menawarkan atau mungkin memprediksi fenomena ini pada 1925! Dalam karyanya berjudul ‘The Great Gatsby’, kalau anda jeli, tak hanya menggambarkan susahnya hidup Scott saat harus menghidupi mimpinya menjadi penulis ketika masa kemiskinan dan kriminalitas merajalela.

Atau, tentang Jay Gatsby, sang karakter utama, yang delusional dan mencintai orang yang salah dan menyangka harta akan membawa kembali kekasihnya yang sudah pergi. ‘The Great Gatsby’ ternyata juga berbicara tentang perempuan yang digambarkan ugal-ugalan ketika membawa kendaraan, jika menurut cocoklogi saya.

Btw, lucu juga di Amerika ternyata ada soal begituan. Saya akan jabarkan beberapa hal yang terjadi dalam kisah tersebut biar jelas. Jadi ceritanya, Jordan Baker, saat ingin ke rumah Gatsby setelah setuju dengan bujukan Nick Carraway untuk menolong Gatsby balikan dengan Daisy, mengendarai kendaraan yang membuat Nick sangat panik. Namun, di sini pula disebutkan interpretasi Scott mengenai kenapa ada ibu-ibu yang membawa kendaraan ugal-ugalan.

Berikut kutipkan dialog mereka berdua:

“You’re a rotten driver, either you ought to be more careful or you oughtn’t to drive at all.”

“I am careful.”

“No, you’re not.”

“Well, other people are.”

“What’s that got to do with it?”

“They’ll keep out of my way, it takes two to make an accident.”

Dalam konsep tersebut sangat jelas bahwa takkan ada kecelakaan, kecuali dua pihak saling ugal-ugalan. Catet, dua pihak. Hal itu menggambarkan, selama ada satu pihak yang masih awas dan mampu menganalisis situasi, maka mereka akan terhindar dari sesuatu yang buruk.

Pesan itu masuk akal, karena dalam situasi normal, tentu saja ada pihak yang merasa terancam, lalu memilih untuk menyelamatkan diri dari pengendara yang kehilangan kontrol. Suatu hal yang naluriah, bukan?

Hal itu saya tangkap sebagai sebab mengapa ibu-ibu merasa biasa saja, meski salah – entah sadar atau tidak – melakukan tipuan lampu sein yang berbahaya. Mereka tetap merasa nyaman, karena satu pihak sudah mengantisipasi manuver-manuver dadakan yang mirip pesawat jet tempur itu. Ya, kalau tidak, pasti nabrak. Kalau udah nabrak, urusannya repot. Jadi, selama tenang, ya tenang saja.

unosa.net
unosa.net

Selain mengenai perilaku ugal-ugalan dengan “tenang” tersebut, saya juga teringat perilaku lainnya, yakni ugal-ugalan dengan “emosional”. Masih dalam buku ‘The Great Gatsby’, saat Daisy berkendara dengan perasaan penuh emosi bersama Jay Gatsby karena Tom Buchanan, sang suami, berhasil menjebak perasaannya, maka kacau lah sudah rencana mereka berdua untuk kembali bersama.

Sesuatu yang buruk terjadi. Ia mengetahui suaminya selingkuh dan saat selingkuhannya tampak di depan mata, Daisy malah memacu mobil sport milik Jay Gatsby mengarah tepat ke perempuan yang jadi selingkuhan suaminya. Padahal, sang perempuan itu sedang berdiri dan berteriak, karena mengira mobil sport tersebut milik Tom. Ya sudah, tewas.

Namun, Jay Gatsby mengambil tanggungjawab itu. Ia rela disalahkan dan akhirnya mati dalam keadaan yang hina. Bahkan tak ada orang yang mau datang melayatnya.

Jika pada bagian pertama, Scott menganjurkan tenang saja saat berkendara, pada bagian kedua ini Scott malah menganjurkan bahwa sekalipun hati-hati, terkadang hal buruk memang suka menyasar kepada kita. Tidak konsisten? Bisa saja. Namun, mengingat tak ada yang 100% di jalanan, maka hal ini masih dapat saya terima. Selalu ada hal yang tak terduga di jalan. Itu sudah menjadi risiko.

Kalau tak kita yang menggerutu, kita yang celaka. Maka, antisipasi terhadap hal-hal yang tak terduga itu penting. Dan, yang terpenting, tetaplah tenang, sehingga dapat mengantisipasi hal-hal tersebut.

Maka dari itu, wahai para pengendara, dengan menguasai konsep dari Scott Fitzgerald, Insha Allah kita mampu menghadapi ibu-ibu yang bermanuver dengan lampu sein di jalan. Atau pihak lainnya, karena seperti yang saya bilang di awal, tak melulu perempuan yang suka ugal-ugalan.

Bisa saja ada pihak tak terduga, seperti om-om dengan bulu dada lebat yang bawa mobil atau dedek-dedek gemez bawa motor dengan semburan asap knalpot ke muka. Akhirul kalam… Drive safely, tetap awas, dan patuhi rambu lalu lintas. Siap, 86!