Tips Bermaafan dengan Kalori, Kolesterol, dan Saudara-saudaranya saat Lebaran

Tips Bermaafan dengan Kalori, Kolesterol, dan Saudara-saudaranya saat Lebaran

cecoia.com

Idul Fitri adalah hari yang paling dinanti-nanti oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia, baik yang full berpuasa maupun yang dapet setengah, seperempat atau tiga perempat saja. Ya faktanya memang begitu. Semuanya merasa menggapai Hari Kemenangan.

Semua orang lalu menjadikan Idul Fitri sebagai ajang untuk saling bermaaf-maafan, karena selama menjalani kehidupan banyak melakukan kesalahan, baik yang disengaja maupun yang disengaja banget.

Dan, biasanya, pada hari selain Idul Fitri, kita suka gengsi minta maaf. Tapi tetep aja sih, yang namanya mantan masih gengsi minta maaf saat Lebaran. Ya sudah, lagipula manusia memang tempatnya salah dan selalu disalahkan, bukan?

Kalau kata para ustadz dan kyai, kehidupan kita setelah Ramadan harus lebih baik. Selama Ramadan, kita dilatih bersabar. Maka setelah Lebaran, kita juga harus tetap menjadi orang penyabar. Anggap saja kemacetan arus mudik sebagai ujian. Tepatnya ujian skripsi, karena selalu berulang dan nggak pernah kelar.

Ketika Ramadaan, kita juga dilatih menjadi orang yang dermawan. Maka setelah Lebaran, kita juga harus tetap demikian adanya. Maksudnya bukan dermawan jika ada, kalau nggak ada ya demikian. Bukan itu.

Dan, satu lagi, selama Ramadan, kita dilatih menjadi seorang yang harus menjaga asupan makan dan minum. Maka setelah Lebaran, seharusnya pola makan kita terus membaik. Bukan ‘membaik’ secara menu. Pagi hari makan opor ayam, siang makan rendang, malamnya opor lagi, besoknya kolesterolmu naik.

Padahal, kita sudah sujud syukur berat badan turun 1-2 kilogram selama Ramadan, karena sahur dan buka puasa secara tidak berlebihan. Itu yang fana. Yang kekal, tentu amal ibadah.

Tapi godaan sungguh berat, ketika opor ayam dan rendang menghadang. Apalagi ibu atau nenek kita yang minta. “Kok kamu makannya cuma sedikit? Ayo habiskan, mubadzir!” Kalau sudah begitu, maka mubadzir pula usaha selama ini.

Belum lagi godaan yang datang dari second line. Godaan itu bernama kue Lebaran. Mulai dari nastar, kue cokelat, kastangel, putri salju, putri malu, putri tidur, putri titian, putri Indonesia, dan kawan-kawannya. Jangan dikira kue-kue itu hanya bisa bikin karang gigi saja, faktanya kue-kue berbahan dasar tepung terigu dan butter adalah monster bagi tubuh.

Biasanya, ketika kita asyik bercengkrama dengan om, tante, saudara, atau dedek-dedek gemez tetangga sebelah, tanpa disadari bisa abis kue satu toples. Setelah itu total asupan kalori harian kita meledak. Mungkin banyak dari kita yang belum akrab dengan apa yang namanya kalori?

Baiklah, kalori itu semacam satuan dari energi. Dalam dunia gizi dapat diartikan sebagai sumber energi yang kita peroleh dari makan dan minum. Dengan kata lain, kita makan dan minum supaya memperoleh energi, sehingga bisa beraktivitas secara fisik. Lalu, apa yang terjadi, jika aktivitas fisik sedikit, tetapi makan dan minumnya banyak? Penimbunan lemak!

Sebenarnya ada banyak cara untuk bermaaf-maafan atau berdamai dengan kalori, kolesterol, dan saudara-saudaranya terutama saat Lebaran. Salah satunya dengan bertanya kepada ayah/ibu atau suami/istri, apakah ketika Lebaran lebih sering bertamu atau mengundang tamu?

Ini akan berkaitan dengan jumlah porsi opor ayam, rendang, ketupat, dan kue Lebaran yang akan disajikan. Dengan begitu dapat mengurangi kemungkinan overeating alias makan berlebih. Karena untuk mengendalikan jumlah asupan kalori, tidak hanya urusan perut lapar atau kenyang saja, tapi juga mata yang ‘lapar’.

Mungkin kita sebenarnya tidak terlalu ingin membuat atau membeli kue banyak-banyak. Tapi dengan alasan ‘bentuknya lucu’, maka kita jadinya kalap. Alhasil, kue-kue itu menjadi mubadzir, karena tidak termakan. Dan, dengan alasan tidak mau menyia-nyiakan (karena sudah sering disia-siakan), kita sendiri yang santap habis. Di situlah kalori menumpuk.

Sekadar info, lemak berbeda dengan kolesterol. Lemak belum tentu kolesterol, kalau kolesterol sudah pasti lemak. Lalu, seonggok lemak yang menyebabkan tubuh menjadi gemuk namanya apa? Itu namanya trigliserida.

Segala macam lemak yang masuk dalam tubuh dan tidak dibakar untuk keperluan energi, akan menumpuk menjadi trigliserida. Begitu juga dengan karbohidrat. Karbohidrat yang kita konsumsi, lalu tidak kita bakar untuk energi, maka akan menjadi lemak trigliserida juga.

Lalu apa kolesterol? Kolesterol adalah lemak yang menjadi ‘biang keladi’ penyakit semacam jantung koroner dan stroke yang menyerang otak. Semua itu diawali oleh penyempitan pembuluh darah. Siapa yang bikin sempit? Kolesterol! Daging ayam, daging sapi, dan pangan hewani lainnya yang kamu makan dengan lahap itu adalah sumber kolesterol.

Mentega atau butter yang merupakan bahan baku kue Lebaran juga mengandung kolesterol, karena mentega sendiri bersumber dari hewani. Kalau margarin, barulah dari nabati dan tidak mengandung kolesterol. Semua unsur nabati tidak mengandung kolesterol, termasuk santan dan minyak goreng. Lho? Hanya saja mereka menaikkan level kolesterol tubuh  dengan cara lain.

Tenang saja, ada cara untuk mengatasi hal tersebut, salah satunya adalah mengonsumsi serat. Bolehlah kita makan opor ayam dan rendang sapi secara bersamaan, tapi jangan lupa makan sayur dan buah.

Gak usah ribet-ribet untuk itu, cukuplah mentimun, daun kemangi, buah pepaya, nanas, jeruk, dan sebagainya. Serat, selain memperlancar pencernaan, juga berfungsi menyerap kolesterol berlebih. Lalu, kolesterol berlebih akan dibuang bersama feses.

Berkaitan dengan penyempitan pembuluh darah, kok bisa sih jadi sempit? Emangnya awalnya gimana? Awalnya terjadi pengikisan pembuluh darah akibat tekanan darah yang tinggi. Nah, salah satu penyebab tekanan darah tinggi adalah garam atau bisa saya perjelas: Natrium.

Nyatanya sumber natrium tidak hanya garam dapur. Tepung terigu yang menjadi bahan dasar kue lebaran juga mengandung natrium penyebab hipertensi, impotensi, gangguan kehamilan, dan janin.

Salah satu solusinya, selain tidak maruk makan kue Lebaran dan cemilan asin lainnya, banyak-banyaklah minum air putih, si minuman tanpa kalori.

Tanpa perlu dijampi-jampi, nanti kelebihan natrium bisa hilang bersamaan dengan urin dan keringat. Air putih juga menjadi opsi terbaik dibanding sirup atau minuman soda yang banyak mengandung gula. Ini juga merupakan langkah pencegahan penyakit diabetes mellitus.

Mengatasi natrium berlebih juga dapat diatasi dengan mengonsumsi makanan sumber kalium (potassium). Zat gizi ini banyak terdapat dalam buah dan sayur. Contohnya: pepaya, pisang, brokoli, kacang-kacang, alpukat, semangka, jeruk, dan sebagainya. Terdapat pula di yoghurt, ubi, dan kentang panggang.

Banyak yang bilang, “Wah, Idul Fitri kan hari raya, bukankah tidak ada salahnya ‘merayakan’ dengan banyak makan sehari atau dua hari saja? Gak enak sama tamu dan tuan rumah?”

Nah, sebenarnya ada istilah cheat day, yaitu suatu hari seolah ‘melupakan’ apa itu kalori, kolesterol, diabetes, dan sebagainya. Satu atau dua hari mungkin tidak masalah. Tapi kalau keterusan gimana? Bukankah yang namanya cheating itu bikin nagih? (gosah buka google translate).

Jika sampai khilaf, biasanya kita akan terus menerus memaafkan kalori, kolesterol, dan saudara-saudaranya dengan cara yang salah. Tekad berolahraga secara rutin untuk membakar lemak yang sudah terlanjur kembali menumpuk ini, terhalang oleh masuk sekolah, masuk kerja, kuliah, dan berbagai alasan klasik lainnya’.

Sifat pemaaf kita yang masih kental dalam suasana Lebaran itu berkata, “Ya sudah, masih ada weekend.” Lalu, apa yang terjadi? Bagi yang bekerja, minggu depan sudah masuk. Pekerjaan pun menumpuk. “Kita butuh istirahat!” Jadi, weekend selanjutnya kita manfaatkan dengan tidur seharian.

Setelah masuk kembali, ternyata sudah dituntut lembur dan deadline. Kita pun stres, kita butuh asupan. Tanpa sadar atau tidak, kita bekerja sambil makan cokelat, keripik, kue sisa Lebaran, mie instan pada malam hari, minum kopi (dengan gula), dan sebagainya.

Begitu seterusnya sampai-sampai kita ketemu lagi sama bulan Ramadan tahun depan. Lalu, kita kembali tersadar dan insyaf, karena sudah membiarkan diri ini menjadi seonggok lemak dan timbunan gula. Kalau pada bulan-bulan lainnya?

  • Hidayat A

    Mas. Sungguh artikel ini begitu menggambarkan keadaan saya sekarang. Jangan bilang siapa-siapa, saya akan bookmark artikel ini 😀