Tikus Pustaka v Kuda Pustaka

Tikus Pustaka v Kuda Pustaka

cravebits.com

Dulu di rumah saya, setiap malam sering kedatangan tamu yang datang tak dijemput pulang tak diantar. Kehadirannya ditandai bunyi-bunyi misterius. Suasana pun menjadi sedikit tegang. Bukan karena takut, tapi justru bikin nyolot. Ini bukan jelangkung, bro… sis… “Woii, itu tikus kenapa dateng melulu ya?!”

Hewan pengerat, berbulu, dan berekor panjang itu memang kurang ajar, kecuali Mickey Mouse yang selalu jadi idola anak-anak dan om-om yang belanja di pasar. Mereka pintar mencari celah untuk masuk ke dalam rumah, entah dari atap rumah atau saluran air.

Berbekal sapu dan nyali yang cukup, saya berusaha mengusir tikus yang telah mengobrak-abrik seisi dapur. Memang menyebalkan, jika harus berurusan dengan hewan pengerat yang satu ini. Dari mulai selang air sampai kabel-kabel. Kalau sudah menggerogoti kabel, kulitnya ditinggal begitu saja. Menumpuk. Ini pasti sabotase.

Yang paling menyebalkan kalau datang tikus yang ‘intelek’. Oh, saya tidak sedang menyindir siapa-siapa. Ini beneran ‘intelek’. Tikus jenis ini suka sekali menggerogoti buku-buku, tidak peduli itu buku kiri, kanan, tengah, atau tengah ke bawah karya Enny Arrow.

Itu kenapa saya membatalkan proyek perpustakaan mini, yang awalnya akan dibangun di dalam rumah saya. Saya khawatir perpustakaan itu jadi lumbung makanan yang bisa bikin tikus berperut buncit. Sayang kan sudah beli buku mahal-mahal. Tapi nggak sampai ratusan miliar rupiah sih. Mulaiii…

Bukan maksud saya untuk memulai apa-apa, tapi mendengar rencana DPR yang akan membangun perpustakaan senilai Rp 570 miliar, rasanya kok mirip-mirip. Saya khawatir proyek spesial megaproyek di rumah kita itu hanya akan bikin perut tikus makin buncit. Jangan salah, di gedung anggota dewan yang terhormat itu banyak tikusnya. Ratusan.

Bayangkan, berapa banyak buku yang bakal digerogoti tikus di perpustakaan yang katanya bakal menjadi terbesar di Asia Tenggara itu? Bukankah sebaiknya uang sebesar Rp 570 miliar dipakai untuk membeli ratusan kontainer berisi perangkap tikus?

Salah satu anggota DPR yang ngotot agar megaproyek ini terwujud adalah Ade Komarudin (Akom), politikus senior Partai Golkar yang menggantikan Setya Novanto sebagai ketua DPR. Salah satu alasan Akom kenapa perpustakaan ini harus jadi, yaitu ingin meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Sungguh mulia, bukan?

Saya sih sepakat dengan cita-citanya untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Tapi, kalau menurut saya, membangun perpustakaan megah di kompleks parlemen tidak tepat. Kalau untuk meningkatkan minat baca masyarakat luas, kenapa harus dibangun di Jakarta? Apakah karena Ibukota Negara?

Suasana di perpustakaan Gedung DPR, Jakarta. (detik.com)
Suasana di perpustakaan Gedung DPR, Jakarta. (detik.com)

Di Jakarta dan sekitarnya sudah banyak gedung perpustakaan. Sebut saja Perpustakaan Nasional, yang banyak menyimpan dokumentasi bersejarah pada masa pra-kemerdekaan. Di Depok, yang terletak di pinggiran Jakarta, ada perpustakaan yang luar biasa mewah, yang berada di kampus Universitas Indonesia (UI).

Berkunjung ke Perpustakaan UI serasa masuk mal di Ibukota. Perpus UI lebih cocok disebut ‘Hotel Buku’ ketimbang perpustakaan. Anda akan senantiasa menikmati kenyamanan tiap jamnya saat duduk membaca sebuah buku.

Jika ada anggota DPR yang merasa tidak nyaman dengan kondisi perpus di lingkungan internal DPR saat ini, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian bisa menyempatkan waktu blusukan ke Perpus UI. Di samping mencari referensi, para anggota dewan bisa sekalian bertemu dan berdiskusi dengan mahasiswa-mahasiswi di sana.

Dengan begitu, rencana pembangunan gedung baru perpustakaan yang megah nan mewah menjadi tidak mendesak sama sekali. Alangkah bijaknya, dana sebesar Rp 570 milliar dikonversi menjadi beberapa ‘rumah baca’, yang disebar ke seluruh pelosok negeri, terutama ke daerah-daerah yang masih minim pengetahuan dan wawasan.

‘Rumah baca’ bisa jadi media alternatif bagi masyarakat setempat tatkala kondisi sarana dan prasarana pendidikan masih suram. Virus-virus gemar membaca pun otomatis menyebar dan menjangkiti warga setempat.

Oh ya, ada satu lagi. Kalau urusan meningkatkan minat baca, para legislator yang terhormat bisa belajar dari seorang Ridwan Sururi, pencipta perpustakaan keliling dengan kuda atau disebut Kuda Pustaka di Purbalingga. Sebuah kegiatan yang inspiratif dan revolusioner.

Pak Ridwan mencoba untuk menumbuhkan minat baca warga di sekitar tempat tinggalnya. Beliau biasa berkeliling dengan kudanya yang mengangkut buku-buku, lalu berkeliling menjemput warga yang ingin membaca. Jika dilakukan secara terus-menerus, saya yakin membaca akan menjadi kebiasaan baru. Sebuah budaya membaca pun akan tercipta.

Lebih baik wakil-wakil rakyat yang duduk di kursi empuk dan bersuhu sejuk di Jakarta untuk ‘menjemput bola’. Setidaknya mengalokasikan anggaran untuk mereka-mereka yang berjuang di garis terdepan keliterasian.

Tapi membayangkan Akom dan Fahri Hamzah blusukan dan mengkampanyekan pentingnya membaca kepada masyarakat atau syukur-syukur melakukan hal serupa dengan pak Ridwan kok sama sulitnya dengan melihat Arsene Wenger legowo angkat kaki dari Arsenal. Suatu hil yang mustahal.

Saya sadar dengan apa yang saya suarakan ini pasti tak berpengaruh terhadap keputusan pembangunan perpustakaan senilai Rp 570 miliar. Tapi, ya mau bagaimana, “Itu tikus-tikus bikin sewot, pak!”

Jangan katakan ada proyek lain yang lebih spektakuler dibanding perpustakaan ini. Mungkin megaproyek revitalisasi kamar mandi berlapis emas di Gedung DPR?

  • wahyu murdiomo

    proyek itu cuma buat kenang2an aja klo nanti udah ga menjabat biar bisa ngmong ke anak cucu cicit..buat songong2an gitu…visi emg bagus tapi caranya konyol…logikanya gini..perpus terbesar di asia tenggara di bangun di komplek parlemen…trus masyarakat di papua dan pelosok lainnya kdu ya terbang dulu ato renang dulu ke jakarta..hello anggota dewan…kami mending bertanya ke mbah google…simpel dan gak ribet…apa kerja anggota dewan kaya gitu ya?