Berdamai dengan Perempuan yang Tidak Menikah dan Tidak Beranak

Berdamai dengan Perempuan yang Tidak Menikah dan Tidak Beranak

Ilustrasi (missingbeatsoflife.blogspot.co.id)

Saya sempat kebelet menikah. Saat itu, mencari pujaan hati seolah menjadi tujuan utama, terlebih banyak teman yang sudah berpacaran dan akhirnya menuju pelaminan. Ada rasa iri dan cemburu.

Namun, semakin mengeksplorasi hidup ini – mulai dari berorganisasi, berkelana, berjejaring, hingga menyepi di pondokan untuk bermeditasi – rasa tersebut sirna. Justru ada hal-hal yang lebih menarik dari persoalan kebelet nikah tadi.

Saya tidak menolak pernikahan atau bahkan memiliki anak, tapi menikmati kesendirian bukan sesuatu yang salah, seharusnya. Sebab, di zaman yang tidak menentu ini, menikah terkesan seperti perlombaan balap karung.

Anda akan dipaksa cepat-cepat melompat, disoraki, tak peduli kaki-kaki anda terkekang atau terbebani. Yang beruntung mencapai garis, dipuja-puji. Yang jatuh, bersiap tersingkir. Kemudian ditinggal penonton, perlombaan pun selesai.

Lalu, bagaimana nasib peserta yang jatuh dan tersingkir? Bagaimana nasib orang, terutama perempuan, yang jatuh atau gagal berumah tangga? Tersingkir dari strata sosial, karena menyandang status ‘janda’.

Kalau anda masih suka pulang ke rumah sendiri tanpa harus memikirkan orang lain, apalagi tak sanggup menyajikan makanan dan menyiapkan pakaian bersih di rumah, berarti tak ada alasan untuk kebelet nikah. Belum lagi masalah klasik seperti finansial dan beda agama, eh?

Ada yang bilang menikah saja, nanti semua akan beradaptasi dengan mudah. Enak saja, dikira nikah bisa sesederhana itu? Penyederhanaan pemikiran seperti itu sama saja mematikan nalar.

Banyak orang jatuh cinta dengan pasangan yang rumit, salah satunya saya. Sulit untuk membayangkan bisa satu atap nantinya. Bahwa rumah tangga tak semudah namanya, rumah dan tangga. Begitu juga dengan memiliki anak. Tak ada istilah ‘siap atau tidak siap, harus bisa’. Bisa karena siap, kalau tidak siap berarti tidak bisa.

Pernah melihat ibu-ibu yang sebenarnya tidak bisa mengurus anaknya sama sekali, entah itu karena memiliki gangguan atau ketidaksiapan, tapi dipaksakan dan akhirnya kerap menelantarkan anaknya?

Slogan ‘banyak anak banyak rejeki’ hanyalah mitos yang tidak relevan lagi. Kedua orang tua saya berasal dari keluarga yang memiliki tujuh hingga dua belas anak. Dan, anak yang dilahirkan dari saudara-saudari mereka, maksimal hanya tiga.

Mereka sebenarnya sadar bahwa memiliki anak merupakan tanggung jawab besar yang menghabiskan banyak pikiran, tenaga, dan dana. Jangan bayangkan hidup menjadi masyarakat kelas menengah di kota itu nyaman.

Apa bisa seorang anak tumbuh dekat taman yang bersih, tanpa harus takut karena tidak pakai alas kaki? Apa bisa seorang anak berbaur dengan anak yang lain dan tidak terkurung di dalam rumah?

Jika kelak memutuskan untuk memiliki anak, saya ingin anak saya masuk ke sekolah umum yang mumpuni, yang mana tujuan dari sekolah adalah belajar mencari kebahagiaan. Tidak ada paksaan untuk menjadi yang terbaik.

Seperti sekolah-sekolah umum di Finlandia, yang mana guru-gurunya sangat memperhatikan kesejahteraan dan kebahagiaan anaknya. Tidak menjerat anak ke dalam pusaran PR dan ujian yang membuatnya stres. Di sini, apa ada seperti itu?

Kalaupun ada, pasti bukan sekolah umum, melainkan sekolah-sekolah swasta yang mahal. Berapa uang yang anda punya? Mau menikah dengan orang kaya supaya mampu, terus selamanya ketergantungan? Malas memperkaya diri dengan kemampuan sendiri?

Tapi ada yang bilang, “Kamu terlalu idealis bahkan utopis, mencita-citakan yang tidak masuk akal.” Lho, bukankah kita akan berdosa, jika tidak mampu memberikan penghidupan yang layak bagi anak-anak kita? Apakah kita rela kebebasan berekspresi anak kita tertekan nantinya akibat di-bully?

Saya sendiri sudah kebal dengan ucapan “perempuan itu tidak sempurna, jika tidak menikah atau tidak memiliki anak”, mengapa?

Pertama, perempuan diciptakan dengan rahim dan payudara bukan serta serta-merta untuk reproduksi, melainkan diberi akal untuk bertanggung jawab atas produksi serta kebebasan memilih.

Kedua, menikah itu wajib bila sudah mampu, tapi bisa juga sunah, makruh, bahkan haram. Rasanya tidak perlu mengejar pahala sampai segitunya, sampai mengabaikan dampaknya. Justru karena mencintai Tuhan, saya tidak ingin memberi penghidupan yang buruk untuk saya sendiri, pasangan, dan anak.

Ketiga, biasanya yang berbicara mengenai kesempurnaan perempuan – terutama berkaitan dengan alat reproduksi – adalah perempuan itu sendiri. Jika kamu memang sebegitu merasa sempurna, lantas kenapa kamu harus menjatuhkan perempuan lain?

Kalau kamu merasa cukup dengan diri sendiri, kenapa masih ingin merasa lebih baik? Tidakkah itu menunjukkan kekosongan dan ketidakpuasan dalam diri, sehingga memaksa kamu membuat pencitraan yang terkesan sempurna?

Dan, tahukah kamu, mengadu-adu perempuan atas dasar yang tak adil merupakan upaya patriarki untuk mengatur tubuh perempuan dari zaman kolonialisme hingga kapitalisme, yang terus-terusan menyuapi kita dengan citra perempuan domestik.

Mari kita berdamai dengan banyak hal, terutama ketika melihat kondisi hari ini, yang menjadikan manusia sebagai makhluk konsumtif baik jiwa dan raga. Proses damai itu tidak akan terjadi, jika kita tidak berhenti melakukan sesuatu demi pencitraan dan kesempurnaan yang fana.

Sudah saatnya pula kita berdamai ketika melihat perempuan yang memilih tidak menikah dan tidak memiliki anak. Masa kita mau, saling mencemooh, karena tersihir ilusi budaya patriarki?

  • Artikel yang sangat menarik ya gan.

  • Dedi Kurniawan94

    Mantap artikelnya, sangat menginspirasi…

  • kata-kata dan gaya bahasanya
    sangat bagus
    enak untuk di baca

  • Setiaw Ari

    harus tetap semangat menikah ya gan…

  • Kevin Kurnia

    Delusional gan, kagak ada yg nyihir2 or ilusi segala

    • Dea

      Jadi gitu yah? Enggak punya argumen bagus balesnya “Delusional Gan”, yah kalau cuman lempar tuduhan delusional mungkin situ juga perlu dipertanyakan sudah bangun dari delusi pernikahan belum?

  • Terharu… Budaya oh budaya..