‘Tidak Ada New York Hari Ini’ dan Hipster Gagal Seksi

‘Tidak Ada New York Hari Ini’ dan Hipster Gagal Seksi

darkroom.baltimoresun.com

Saya sempat membaca tulisan di linimasa yang berjudul “Lemesin Aja Tsaaay…”, yang kemudian memberikan komparasi antara Generasi Millennial (generasi 80-an) dengan Generasi Y dan Z (generasi 90 hingga 2000-an). Dalam penjelasannya, digunakan dua komparasi mengenai sosok Rangga dalam AADC yang tampak cool dan Raditya Dika yang menerbitkan beberapa karya buku bergenre humor dan lebih fun. Keduanya digambarkan sebagai representasi zamannya.

Artikel tersebut menjelaskan perihal bagaimana Millennialis mencoba menjadi fun, sementara Gen Y atau Z berusaha menjadi cool. Belum lama ini, saya menemukan saat dimana dua generasi yang beda zaman itu menjadi satu: saat saya tak lagi menemukan buku ‘Tidak Ada New York Hari Ini’ karya Aan Mansyur di toko buku.

Setidaknya ada lima toko buku yang telah saya kunjungi di Bandung, untuk mencari buku itu. Hasilnya nihil. Tidak ada ‘Tidak Ada New York Hari Ini’. “Buku-buku itu habis dalam hitungan jam setelah ia datang.” Begitu kata beberapa penjaga toko. Saya pun senang, sekaligus resah. Senang, karena setelah sekian lama, orang-orang jatuh cinta lagi sama puisi dan sastra. Resah, karena saya tak cukup hipster dan ada hal lain yang akan saya jelaskan nanti.

Saya yang merasa sudah cukup hipster dengan mengetahui dan menyukai puisi Aan Mansyur seperti ‘Berlibur di Akhir Pekan’, yang mengisahkan kemunafikan orang bahagia, ‘Melihat Api Bekerja’, ‘Sudahkah Kau Memeluk Dirimu Hari Ini?’, atau pemikirannya, semisal perihal jiwa kekanak-kanakan yang ia tulis di blognya.

Aan Mansyur, yang sudah menuntaskan mimpi saya sejak lama, memiliki perpustakaan pribadi bernama Katakerja, harus menerima bahwa saya tak lagi sendiri menyukai karyanya. Aan Mansyur kini sudah termasyhur. Dan, membicarakan serta memiliki karyanya, terutama ‘Tidak Ada New York Hari Ini’, akan tampak seksi.

Di sisi lain, dengan banyaknya orang yang membaca karya sastra, berarti saya akan memiliki banyak teman untuk berbagi hal berbau sastra. Membahas karya seorang idola jelas membahagiakan, tak kalah bahagianya berbicara dengan seorang perempuan yang dicintai plus segelas kopi yang menemani. Seksi sekali.

Bertemu dengan seorang yang sepemikiran, satu gagasan, dan satu ideologi juga membuat kita melayang dan terus berharap untuk melanjutkan percakapan hingga kapan pun. Dan, hal itu terjadi pada beberapa hari lalu, semua orang seakan tiba-tiba bisa saya ajak bicara soal karya sastra Aan Mansyur.

Sepertinya pemikiran dan permainan kata-kata Aan Mansyur yang sungguh ajaib dan tampak sangat mengalir mampu menjembatani antara Millennialis, Gen Y, dan Z. Mereka sangat bisa menikmati keindahan karya sastra milik Aan, dengan wujud yang fun ataupun cool.

Namun, hal ini jelas pula menjadi titik dimana saya resah pada berikutnya. Menjadi pembaca, selayaknya, adalah perihal menikmati ruang sepi di perpustakaan atau di sudut kamar sendirian. Dan, menjadi pembaca yang baik itu sulit. Ia harus ditempa dengan berbagai banyak bacaan.

Saya tak pernah khawatir dengan Aan, yang saya rasa sudah sangat mencintai dan menghargai kesendiriannya dalam menjaga idealisme sebuah karya. Buku, layaknya apa yang dipikirkan Bung Hatta, akan selalu membuat mereka yang mencintainya bebas, seperti Aan Mansyur.

Aan Mansyur (virala.id)
Aan Mansyur (virala.id)

Saya hanya khawatir kepada mereka yang kini membaca ‘‘Tidak Ada New York Hari Ini’. Ada kekhawatiran perihal mereka yang membeli buku tersebut adalah Generasi Millennial yang sekedar tampil cool atau Gen Y dan Z yang tampil lebih fun. Keduanya memiliki kecenderungan untuk mengaktualisasi diri tanpa memahami substansi.

Di linimasa saya, seringkali puisi hanya dijadikan suatu hal yang rendah. Misalnya untuk media kode-kodean remaja hingga dewasa kepada pacarnya atau siapa saja yang dicintai, yang bersumber dari akun-akun yang katanya akun puisi. Dengan pemaknaan yang sangat dangkal ini, jelas saya sangat khawatir bahwa buku kumpulan puisi Aan kali ini akan dimaknai dengan salah dan berakhir serupa.

Saya takut apa yang mereka lakukan hanyalah karena proses sebab akibat dari proses simulasi yang melahirkan hiperrealitas di benak mereka. Dengan membayangkan suara Nicholas Saputra, yang suaranya sangat ideal untuk cross over sesuatu hal yang bermakna, yang membacakan puisi Aan Mansyur, jelas saya khawatir bahwa ini bakal lebih dari kode-kodean. Alasan mereka memiliki kumpulan puisi ini adalah untuk tampil kekinian dan tampil cool atau fun di lingkaran sosial. Tanpa memahami pemaknaan puisi Aan.

Ketidakberdayaan mereka dalam menyaksikan kisah roman AADC 2, saya khawatirkan membuat saya mungkin akan kehilangan teman-teman yang kini mendadak berbicara sastra secepat saya menemukan teman-teman yang kini mendadak berbicara sastra.

Mereka terlalu melambung jauh membayangkan keindahan, hanya demi suka ataupun euforia sesaat. Lalu hilang tak berbekas dan mencari lagi tren baru. Saya khawatir mereka tak lagi merasa perlu untuk membaca karya Aan lainnya, seperti ‘Kukila’, ‘Sudahkah Kau Memeluk Dirimu Hari Ini’, atau ‘Melihat Api Bekerja’, yang saya rasa sama indahnya dengan ‘Tidak Ada New York Hari Ini’.

Saya sadari, saya egois, meski itu terkadang perlu. Pandangan saya dipengaruhi perasaan kagum seorang penggemar kepada sang idola. Maka, saya akan memandang hal ini lebih jauh lagi. Ini adalah risiko menjadi seorang penulis. Seorang yang bisa terkenal kapan saja dan lalu kembali menghilang dalam sunyi.

Namun, yang terpenting adalah berkarya sebanyak-banyaknya, dan terus meningkatkan kualitas sebuah karya. Aan telah melakukan hal yang benar dengan menampilkan karyanya di AADC 2. Ia membuat dunia mengenal seberapa ajaib dirinya.

Tapi tetap saja, perasaan saya masih tercampur emosi. Maka, saya akan tutup dengan perasaan setengah naif-setengah egois. Saya senang, karena pada akhirnya dunia menyadari kejeniusan Aan. Saya marah, karena saya tak menemukan buku yang saya cari. Tidak ada ‘Tidak Ada New York Hari Ini’ hari ini. Namun, karya Aan yang lain, seperti ‘Kukila’ dan ‘Melihat Api Bekerja’, masih ada hari ini.

Mungkin ia akan datang lagi esok dan saya harus buru-buru menemukannya sebelum lagi-lagi kehabisan. Saya harap, puisinya bagus dan mengalir, khas tulisan Aan banget. Kalau sampai kehabisan lagi, maka saya harus menyatakan: gagal menjadi hipster seksi.

  • Aan who? Who cares?
    Semua tertuju pada Rangga dan Cinta and the gang.
    Selama masih ada Rangga dan Cinta di benak mereka, masih akan ada “Tidak Ada New York Hari Ini” di sana.
    Seperti masih ada “Pecahkan saja gelasnya biar ramai…” di benak saya hehehe…

    • ini benar. dan saya sedih karena mereka menggagalkan jalan saya mendapatkan buku 🙁

  • Pingback: Keceriaan Dunia Sophie dan Muramnya Hari Buku Nasional | Voxpop Indonesia()