Tidak Ada Komunis, Bangsa Ini Lebih Cinta Kapitalis

Tidak Ada Komunis, Bangsa Ini Lebih Cinta Kapitalis

Carlos Latuff/archive.org

Komunis hari ini seperti kisah mistis. Mendadak bangkit dari liang lahat, setelah dibunuh sebagai ‘penjahat’. Layaknya hantu yang gentayangan karena mati penasaran, ia sewaktu-waktu bisa muncul dengan penampakan yang buruk rupa.

Dahi saya mengernyit saat tahu ada isu palu arit di selembar duit. Isu datang dari seorang yang konon akan diajukan sebagai imam besar. Ia sangat percaya diri saat berkoar tentang adanya simbol palu arit di lembar demi lembar uang yang baru dikeluarkan Bank Indonesia.

Dalam sebuah ceramah yang seharusnya diisi dengan siraman rohani, ia justru mengisinya dengan siraman palu arit. Kalau ada palu arit, berarti pertanda kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI). Kira-kira begitu dalihnya.

Seolah tak cukup di panggung dakwah, ia pun mencoba untuk mengutarakannya di depan wakil rakyat yang duduk di parlemen. Ia pantang menyerah menyakinkan bahwa apa yang dilihat dengan mata kepalanya adalah simbol palu arit.

Keyakinan itu kemudian turun ke para pengikutnya. Mereka yang akan selalu berdiri setia turut mempercayai hal serupa. Ketika junjungannya bilang ada palu arit di selembar duit, para pengikutnya tidak punya pilihan lain selain mempercayainya.

Media sosial menjadi gelanggang yang sempurna untuk menyebarkan kepercayaan mereka soal munculnya palu arit di alat pembayaran resmi di negeri ini. Seperti virus di udara, isu palu arit menyebar kemana-mana. Seolah dosa besar dan bakal masuk neraka paling jahanam, kalau tidak ikut menyebarkannya.

Anda boleh saja percaya dengan apa yang dikatakan mereka, tapi mempercayai apa yang ditegaskan oleh Gubernur BI, Agus Martowardojo, adalah pilihan yang tidak menggadaikan nalar.

Saya bisa dengan amat paham dengan ucapan Agus Marto yang mengatakan bahwa logo yang dipersoalkan itu merupakan logo BI yang dipotong secara diagonal, sehingga membentuk ornamen yang tidak beraturan.

Gambar tersebut ialah gambar saling isi (rectoverso) yang merupakan bagian dari unsur pengaman uang rupiah. Unsur pengaman dalam uang rupiah bertujuan agar memudahkan masyarakat untuk mengenali ciri-ciri keaslian uang, sekaligus menghindari pemalsuan.

Gambar rectoverso dicetak dengan teknik khusus, sehingga terpecah menjadi dua bagian di sisi depan dan belakang lembar uang, dan hanya dapat dilihat utuh bila diterawang. Rectoverso biasanya digunakan sebagai pengaman di berbagai mata uang di dunia, karena hanya bisa dibuat menggunakan mesin khusus.

pojoksatu.id
pojoksatu.id

Saya kira penjelasan soal tidak adanya simbol palu arit oleh Gubernur BI sudah amat jelas. Namun, banyak orang tidak tercerahkan sama sekali. Gubernur BI dan semua pihak yang terkait soal produksi uang baru malah akan dilaporkan ke pihak berwenang, karena mereka dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas munculnya simbol palu arit.

Dewasa ini memang lapor-melaporkan begitu mudah terjadi. Persoalan remeh-temeh selalu berujung pada saling serang dengan laporan. Giliran rakyat jelata melaporkan bagaimana kehidupan mereka yang sengsara justru dianggap angin lalu.

Persoalan ini membuat saya bertanya-tanya, apakah saat kita memiliki keimanan yang kuat lantas langsung bisa melihat sesuatu yang tidak kasat mata? Tiba-tiba saja bisa melihat kuntilanak, tuyul, genderuwo, dan bahkan simbol palu arit di selembar duit yang begitu samar-samar keberadaannya.

Ini bukan pertama kali isu komunis mengemuka. Kita tahu bahwa tahun-tahun sebelumnya sering terumbar isu yang sama. Banyak orang yang masih percaya komunis kembali bangkit. Mereka bilang fakta, meski tidak tampak nyata.

Seperti ahli konspirasi, mereka berani berspekulasi. Semua itu muncul karena delusi. Bayangan yang dianggap kebenaran. Dianggap benar walau samar-samar. Melihat sesuatu yang tidak jelas, kemudian meyakininya setengah mati.

Kemudian menuding kiri bakal bikin tragedi lagi. Lantas menebar benci tanpa henti. Buku, baju, film, hingga acara dicurigai. Kiri adalah ironi negeri ini. Kalang kabut di pikiran tentang bayang-bayang sebuah tragedi.

Tapi semua imajinasi itu kelewat tinggi. Tak ada lagi komunis di bumi pertiwi. Ide-ide dari Marxisme hanya manis bila ditulis. Tidak ada lagi yang menjunjung Marxisme tinggi-tinggi. Dunia tahu bahwa pemegang Marxisme berakhir dengan tidak manis. Jadi untuk apa kehadiran kembali komunis?

Delusi tidak akan berhenti sampai di sini. Jasad komunis akan terus digotong oleh mereka yang ingin dicap nasionalis. Mereka memunculkan lawan agar jadi pahlawan dan melanggengkan kekuasaan. Mencoba membangkitkan dan memberi stigma bahaya pada komunis agar skenario masa lalu tertutup rapat.

Tidak ada komunis hari ini, esok, dan bahkan seterusnya. Biarkan komunis beristirahat dan tertawa melihat dunia dari alam baka. Menyaksikan manusia diperah oleh paham seterunya.

Maaf komunis, bangsa ini lebih mencintai kapitalis…