‘The Power of Mbak-mbak’

‘The Power of Mbak-mbak’

Ilustrasi (jorsindo.com)

Meja judi kini bukan lagi satu-satunya tempat bertaruh. Martabat dan materi bahkan nyawa lebih terancam saat kamu mulai menggeber gas motor untuk turun ke jalanan. Iya, taruhan sebenar-benarnya berada di ring jalanan. Dan, jika kamu baru mengetahuinya dan kebetulan masih selamat, kamu boleh berbangga hati telah menjadi petarung sejati setiap hari.

Ajaibnya angka korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas yang dicatat oleh Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya naik 15% sepanjang 2016. Sementara kamu masih selamat wal’afiat sembari membaca tulisan ini, apa ya ndak bejo namanya?

Memang sih angka kecelakaan tahun lalu sedikit turun. Tapi itu juga berkat perbaikan infrastruktur jalan seperti memperbanyak rambu peringatan dan rambu larangan, memperjelas marka jalan, pelebaran jalan, serta penertiban parkir liar. Dan juga pengaspalan jalanan berlubang.

Tapi sepertinya informasi yang terakhir itu tak berguna amat, jika nyatanya lubang di hatimu jauh lebih menganga dan mengkhawatirkan.

Ah, dasar orang kita hobinya nyinyir, perbaikan-perbaikan itu kerap luput dari apresiasi. Banyak kasus kecelakaan yang mengkambinghitamkan garis marka yang tak jelas lah, rambu yang tertutup pepohonan lah, bahkan lagi-lagi kamu menyalahkan jalanan berlubang. Sudah kubilang kan yang berlubang itu hati dan nalurimu, jangan lagi berhalusinasi di bundaran BI jalanan.

Padahal nih ya, faktor terbesar penyumbang kecelakaan di Indonesia adalah faktor manusia atau bahasa medoknya: human error. Mengantuk adalah alasan paling klise di seantero galaksi bima sakti. Klise yang kedua adalah melamun.

Katanya, melamun membuat pengendara di jalan menjadi tak berkonsentrasi secara penuh. Padahal, berdasarkan riset kecil-kecilan, tiga dari tiga temanku mengatakan bahwa melamun saat menyetir motor itu membuahkan ide orisinil, angan-angan hidup, bahkan ilham dan hidayah.

Mereka yang berpikir keras sambil menyetir adalah orang-orang cerdas. Bahkan andai saja di zaman Dinasti Ming mereka sudah mengenal kendaraan bermesin, kujamin biksu Tong lebih memilih menempuh perjalanan dengan motor matic sambil menyumpal telinganya dengan earphone ketimbang berkuda dengan murid-murid silumannya.

Human error juga bisa disebabkan oleh faktor manusia lainnya. Bisa oleh pejalan kaki yang menyeberang serampangan, bisa juga oleh pengendara lainnya. Pada era yang lalu, para pengendara menandai perilaku pengendara mana yang kiranya bisa membahayakan bahkan mencederai mereka. Contohnya seperti pria ugal-ugalan, gerombolan moge, bocah gonceng tiga, dan cabe.

Tapi dari jenis pengedara tersebut, tak ada apa-apanya jika mereka harus berbelakangan atau bersampingan dengan pengendara wanita tunggal yang agak sepuh, sebut saja emak-emak. Belakangan, masyarakat telah menyadari bahaya perilaku berkendara para emak-emak ini. Bahkan hal ini diakui oleh ibuku sendiri saat bertemu dengan emak-emak lainnya.

Lain halnya dengan sesama komunitas pengendara motor yang solid. Kita bisa melihat ada tegur sapa tiap kali berpapasan di jalan, walau tak saling kenal. Kontras betul dengan para pengendara sesama emak-emak. Mereka justru jauh lebih atraktif dan kompetitif saat bertemu emak-emak lainya. Tersirat adanya motif saling mendahului, saling kejar, dan menunjukkan kibaran jilbab yang terurai merdeka sebagai simbol kemenangan.

Memang tak semua perilaku emak-emak seperti itu sih, tapi sifat kewanitaan seperti; daya saing sengit, mudah cemburuan, tak mau kalah, dan mau menang sendiri itu tak bisa dipungkiri. Cukup disayangkan dengan usia yang matang, emak-emak seharusnya bisa memberi contoh layaknya orang dewasa yang keibu-ibuan.

Jika boleh membandingkan, aku lebih memfavoritkan perilaku pengendara yang satu ini, yaitu mbak-mbak. Mereka adalah pengendara yang begitu santun dan banyak menginspirasi. Selain itu, saat berada di jalanan, kaum mbak-mbak ini selalu menjunjung tinggi penampilan. Mereka bisa menjadi rujukan cara berpakaian yang fashionable dan gemesable.

Cara mereka melindungi diri juga lebih-lebih dari standar aturan memakai helm ‘sampai klik’ dan mengenakan jaket. Tangan dan kakinya selalu dibalut kaos warna warni. Separuh wajahnya dibekap masker dengan gambar beruang madu dan tak lupa kenakan kacamata biar tak silau. Kesiapan head to toe mereka jauh lebih matang dan tak perlu diragukan.

Mbak-mbak jauh lebih ramah daripada pengendara lainnya. Tak cukup hanya bertegur sapa seperti para pengendara vespa, mereka bahkan melempar-menyambung obrolan. Bagi mereka marka boleh putus-putus, hubungan asmara boleh putus-nyambung, tapi ngerumpi mengobrol tak boleh putus.

Sambil mengendarai motor, mbak-mbak yang kebetulan bertemu dengan mbak-mbak lainnya di jalan kemudian merapatkan manuver, beriringan, dan mulai mengoceh. Mereka saling ber’HAH?’, ‘HAH?’, ‘HAH?’ karena nampaknya lupa menurunkan masker.

Sampai pada lampu merah yang kesekian, mereka berlainan jalur dan terpaksa obrolan harus diakhiri. Sambil masing-masing melengos, mereka dadah-dadah terlebih dulu sebagai unggah-ungguh. Pemandangan seperti itu bikin takjub, alangkah indahnya sebuah keakraban yang terjalin. Kadang aku iri, sebab kebanyakan temanku para pria yang tak asik.

Aku sempat berkhayal, andaikata karakter superhero Flash adalah sosok perempuan dalam taksir mbak-mbak yang masih ranum, pasti jauh lebih lincah plus menyegarkan. Sebab, melihat kegesitannya di jalan, pengendara mbak-mbak rela memacu motornya lebih cepat, lebih berisiko dibanding pengendara lain. Selap-selipnya itu, lho.

Mereka bicara soal prioritas, kepentingan, dan sesuatu yang dikejar. Mereka tak klemar-klemer sepertiku yang tergolong ingusan penikmat angin jalanan. Perilaku ini sebetulnya hampir sama seperti pentolannya, emak-emak. Mereka para pembibit memang wajar memiliki sifat natural seperti itu. Fast and curious.

Dan, terakhir yang kukagumi dari tipe pengendara satu ini adalah mereka mampu mengharumkan negara yang dimulai dari jalanan. Kesegaran yang hakiki saat berada di jalan adalah berkendaraan tepat di belakang mbak-mbak. Aroma vanila, bubble gum, atau j-lo seringkali berhasil terendus gratisan.

Mereka jauh dari kata apek, lebus, dan busuk. Jika bapak bangsa pernah berkata, “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia’, maka kini saatnya, “Beri aku sepuluh pemudi, niscaya akan kuharumkan jagat raya.”

Tetep drive safely aja mbak… Keluarga jodoh menunggumu di rumah…