Tetap “Cool” Tanpa “Full Day School”

Tetap “Cool” Tanpa “Full Day School”

tabloidjubi.com

Dear… Pak Muhadjir Effendy, menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang saya banggakan. Apa kabar pak? Bagaimana rasanya menjadi menteri selama 14 hari? Pasti melelahkan. Bagaimana tidak, setelah diangkat, dilantik, lalu langsung bekerja. Ya harap maklum saja, namanya juga kabinet kerja, kerja, kerja.

Tapi saya berharap pak Muhadjir tak lupa piknik. Itu penting sekali agar pikiran tetap segar, sehingga bekerja menjadi lebih produktif. Soal referensi mau ke mana, bapak bisa lihat artikel-artikel wisata di VIVAlog.

Bapak mungkin tahu bagaimana emejingnya Wana Wisata Grape di kaki Gunung Wilis. Atau, air terjun Krecekan Denu dan air terjun Serondo yang begitu eksotis. Ya betul pak, itu di Madiun, kampung halaman bapak.

Itu baru di Madiun, apalagi di Malang dan Yogyakarta, dua kota yang sangat akrab bagi bapak, bukan? Saya yakin bapak itu tipikal orang yang bekerja secara berimbang, antara kehidupan pribadi, keluarga, dan tentunya negara yang kita cintai ini. Kalau ada lelah-lelah sedikit itu wajar, mengingat usia yang tak muda lagi. Atau mungkin bisa jadi karena selama 14 hari ini bapak menjalani full day office?

Bekerja sehari penuh memang melelahkan, pak. Apakah menjadi lebih produktif? Belum tentu. Beberapa teman saya yang jam kerjanya nine to five suka curi-curi waktu keluyuran, terutama saat jam makan siang. Belakangan ini bahkan keluyurannya dikuadratkan, karena sambil cari pokemon segala. Saya pun kurang tahu mereka cari ke mana, yang pasti trafik di sekitar lokasi panti pijat tergolong tinggi saat jam-jam segitu. Mungkin mereka lelah.

Makanya ketika pak Muhadjir mencetuskan gagasan full day school atau sekolah sehari penuh bagi anak-anak, saya terkagum-kagum. Warbiyasak. Brilian! Tapi kabarnya dibatalkan ya? Kok bisa? Katanya usulan itu sudah disetujui pak Wapres Jusuf Kalla.

Ide itu sebenarnya sangat bermanfaat. Ya setidaknya frekuensi kunjungan beberapa teman saya ke panti pijat bisa menurun. Yang tadinya dipijiti, jadi mijiti. Maksudnya mijiti anak karena kelelahan. Modyar kalian…

Oke, oke… Balik lagi soal full day school. Bukankah ide itu sudah diterapkan di sejumlah sekolah swasta? Memang sih, apalagi di sekolah-sekolah swasta elite di kota besar. Lagipula, model terbaik dari pembangunan kita – termasuk di dunia pendidikan – memang dari elit, bukan?

Kalaupun gagasan full day school tidak didasari oleh penggalian akar masalah yang jelas, itu sudah menjadi hal lazim dalam sebuah pembangunanisme ala elite, meski kita yang terkadang kurang waras ini tahu bahwa itu bukan solusi yang tepat. Saya pikir pak Muhadjir lebih paham, karena beliau kan mantan rektor sebuah universitas ternama.

Alasan pak Muhadjir ingin menerapkan full day school secara bertahap untuk membentuk karakter anak didik dan tidak menjadi ‘liar’ di luar sekolah adalah masuk akal. Prioritaskan kuantitas daripada kualitas. Jangan samakan dengan Finlandia, dimana sekolah hanya 5 jam per hari. Tanpa PR dan ujian nasional pula.

Di Finlandia, cara belajarnya: 45 menit belajar, 15 menit istirahat. Ah, tampak santai betul. Anak didik bisa ‘liar’. Bukan begitu pak Muhadjir? Tapi apakah memang begitu? Nggak juga sih, Finlandia diakui sebagai negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia. Ya itu Finlandia, beda sama kita yang memang masih berkembang terus gak maju-maju.

Saya pun tergelitik dengan alasan ‘liar-liar’ itu. Mungkin supaya anak-anak kita tidak menjadi cabe-cabean kali. Sungguh mulia. Bagaimana tidak, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sampai memikirkan nasib anak di luar sekolah, terutama yang orangtuanya bekerja. Pak Muhadjir sepertinya harus membuat ditjen khusus soal penitipan anak juga. Biar semua anak diurus dan dibiayai negara.

Tapi saya dengar-dengar, program sekolah gratis akan ditinjau ulang ya pak? Lho, bagaimana mau dibiayai negara ini? Mohon konfirmasinya pak di kolom komentar di bawah artikel ini. Kalau iya, bapak memang menteri segudang ilmu dengan sejuta manfaat. Ya setidaknya ini bisa menjadi inspirasi novel terbaru saya nanti. Kira-kira judulnya “Habis full day school, terbitlah full payment school.”

Ada juga yang bilang ide full day school tidak fokus pada anak itu sendiri. Lebih condong kepada kepentingan orangtua. Ya kalau menurut saya memang seperti itu. Yang tahu seluk-beluk anak kan orangtua. Sekarang pun rencana itu dibatalkan karena protes para orangtua.

Ini yang saya sebut masalah klasik dalam pengembangan program anak. Orang dewasa merasa paling tahu apa kebutuhan anak dan bagaimana menjawabnya. Sudah menjadi takdir bahwa kita harus buta dan tuli dengan suara anak pada proporsi yang wajar, meski salah satu hak dasar anak itu adalah hak berpartisipasi.

Muatan lain dari ide luar biasa full day school ini adalah tidak mempertimbangkan konteks negara kita secara utuh, baik dari sisi geografis maupun ekonomi. Saya harus akui, dengan keragaman budaya, kondisi geografis dan lainnya, tidak mudah memang merancang satu program yang cocok untuk diberlakukan dari Sabang sampai Merauke.

Bayangkan anak-anak Papua, misalnya. Mereka sudah seperti Ninja Hatori, karena harus mendaki gunung lewati lembah untuk menuju ke sekolah. Atau, tidak usah jauh-jauh ke Papua. Di Jawa pun cukup banyak konteks dimana anak butuh waktu berjam-jam untuk menuju ke sekolah dan pulang ke rumah. Mau sampai jam berapa mereka di rumah, pak? Dan, jam berapa mereka harus berangkat?

Dari sisi ekonomi, program ini mungkin lebih sesuai untuk anak-anak kelas menengah ke atas. Memang ada yang peduli dengan anak-anak kelas bawah? Kalau anak-anak yang orang tuanya kerja serabutan, jadi buruh kasar dan pekerjaan lainnya yang tidak jelas durasi kerjanya, bagaimana? Apa bapak dan ibu guru bersedia menemani anak-anak ini sampai orang tuanya pulang? Kalau pun bersedia, harus sudah dipikirkan tambahan gaji untuk bapak-ibu guru yang kita muliakan ini.

Tapi, ngomong-ngomong, jika memang duit negara masih cukup untuk membayar tambahan gaji guru, apa tidak lebih baik diprioritaskan untuk membayar upah yang layak bagi para guru di pedalaman?

Saya bisa maklumi, memang kalau di negeri ini ada pejabat baru, semangatnya luar biasa. Ganti menteri, ganti kebijakan, ganti kurikulum, ganti buku. Ya itulah formulasi paling efektif untuk memajukan dunia pendidikan kita ini. Saking mau majunya, kita bahkan sampai tidak tahu harus dimulai dari mana. Masalah klasik ya, pak? Masalah yang sepertinya akan tetap lestari dan dilestarikan… Salam hormat untuk pak Muhadjir!

  • Kevin91

    Bagaimana pun juga full day school itu ada positif dan negatifnya. Tapi dampak positif yang ditulis di artikel ini lucu haha… Mas, nyinyir??

  • Taslim

    Komentar: bukan solusi yang baik untuk skala nasional dari sisi ekonomi dan geographi dan sisi yang lain, masih sebuah hayalan untuk berlaku nasional, still far to go.