Terserah Saja Mau Bendera Prancis, Indonesia, Palestina…

Terserah Saja Mau Bendera Prancis, Indonesia, Palestina…

Pasang bendera Prancis di foto profil Facebook kok dinyinyirin. Ketik tagar #PrayForParis di Twitter kok disindir-sindir. Kenapa nggak pasang bendera negara sendiri sih? Kenapa nggak ketik juga #PrayForPalestine?

Ya terserah yang punya akun, ngapain jadi ribet. Mau pasang bendera Prancis, Indonesia, Palestina, Lebanon, bebas-bebas saja. Salah sendiri punya hobi nyinyir.

Bukan berarti yang pasang bendera Prancis tidak peka dengan apa yang terjadi di Tanah Air atau Palestina. Belum tentu yang pasang bendera Palestina, Indonesia, atau Lebanon tidak bersimpati kepada para korban serangan teroris di Paris.

Ini kan cuma gara-gara kecanggihan Facebook saja yang menyediakan filter berbendera Prancis, mirip seperti filter foto profil berwarna pelangi ketika mendukung pernikahan sejenis waktu itu.

Mungkin Mark Zuckerberg, pemilik Facebook, harus menyediakan filter bendera semua negara supaya nggak ada iri-irian. Kalau memang Mark terbukti pilih kasih, hanya negara-negara barat saja, silakan tinggalkan Facebook. Tutup akun. Beres.

Apa yang terjadi di Prancis sekarang ini kan masalah kemanusiaan. Pembantaian warga sipil. Begitu juga di beberapa negara lainnya, termasuk di Indonesia yang lagi heboh pengadilan rakyat atas tragedi 1965.

Masalah kemanusiaan itu ya universal, lintas bangsa, negara, agama, maupun ideologi. Jadi ngapain ribet soal bendera. Toh, Prancis sebenarnya sangat familiar di telinga orang Indonesia. Nggak percaya?

“Gue mau ke Prancis dulu ya.” Wah, hebat. “Perempatan Ciamis maksudnya.” Pernah dengar kan? Guyonan basi yang sampai sekarang masih populer. Seolah tak mau kalah dengan guyonan Hong Kong. “Lu beli tuh? Beli dari Hong Kong!”

Jadi bebas-bebas saja kalau mau pasang bendera Prancis. Wah sok keren lu? Dasar borjuis! Ya suka nggak suka, kalau kaum borju nggak bergerak meruntuhkan kekuasaan monarki absolut di Prancis pada 1789, tidak akan ada Revolusi Prancis.

Kalau tidak ada Revolusi Prancis, tidak ada yang namanya Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara (La declaration des droits de l’Homme et du citoyen). Tidak ada yang namanya ‘Kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraan’ (Liberte, Egalite, Fraternite).

Prancis sudah bicara kemerdekaan, persamaan hak, kebebasan berpendapat, kebebasan pers, berserikat dan berkumpul, sejak lebih dari 200 tahun lalu.

JJ Rousseau adalah seorang filsuf tersohor asal Prancis pada Abad Pencerahan (Age of Enlightenment), dimana pemikirannya mempengaruhi Revolusi Prancis dan perkembangan politik modern. Rousseau yang hidup pada rentang waktu 1712-1778 telah menginspirasi para pemikir hebat seperti Friedrich Hegel dan Sigmund Freud.

Sampai saat ini, Prancis masih menjadi salah satu kekuatan terbesar di dunia. Produk domestik bruto (PDB) negara yang terkenal dengan ikon Menara Eiffel tersebut sekitar US$ 2,3 triliun atau terbesar keenam di dunia. Prancis memiliki kekuatan nuklir yang besar dengan 360 hulu ledak aktif dan 59 pembangkit listrik tenaga nuklir.

Prancis ya simbol peradaban dunia, bukan sebuah kemewahan. Prancis adalah milik warga global (global citizen), termasuk warga di negara berkembang seperti Indonesia. ISIS – jika benar pelaku teror di Paris – sangat jeli melihat ini untuk cari perhatian.

Mungkin benar kata Martin Albrow, seorang sosiolog yang ternama itu, bahwa globalisasi menyangkut seluruh proses dimana penduduk dunia terhubung ke dalam komunitas dunia yang tunggal, komunitas global.

Apalagi, saat ini, perkembangan teknologi dan komunikasi memfasilitasi terbentuknya komunitas global. Seolah tidak ada lagi batas antar negara (borderless), kalau sudah masuk ke media sosial.

Apa yang terjadi di Paris, langsung direspons cepat oleh netizen. Begitu juga dengan yang dialami Palestina, Lebanon, Jepang, Indonesia, dan sebagainya.

Seperti kata Anthony Giddens, seorang sosiolog modern, bahwa globalisasi sebagai intensifikasi hubungan sosial seluruh dunia, yang menghubungkan daerah yang jauh dalam sedemikian rupa, sehingga kejadian lokal dibentuk oleh peristiwa yang terjadi bermil-mil jauhnya dan sebaliknya.

Maka brilianlah orang-orang seperti Mark Zuckerberg, pemilik Facebook, dan beberapa pendiri Twitter seperti Evan Williams, Noah Glass, Jack Dorsey, dan Biz Stone yang berhasil menghubungkan warga dunia tanpa batas.

Ketika mereka mengajak warga dunia untuk bersimpati dengan menyediakan filter foto profil berbendera Prancis, ya itu terserah mereka. Yang mau pasang juga terserah. Ya nggak pasang juga terserah. Terserah sajalah pokoknya…

Foto: en.wikipedia.org