Terowongan Penghubung Abad Kejayaan Megalitikum

Terowongan Penghubung Abad Kejayaan Megalitikum

Menuju stasiun kereta api terakhir untuk akses ke lokasi situs purbakala Gunung Padang, Kabupaten Cianjur, penumpang akan melewati sebuah terowongan tua peninggalan kolonial.

Saat berada di dalam, yang terasa hanya pengap. Gelap gulita. Penumpang akan merasakan sebuah perjalanan yang was-was, menanti ada sebuah cahaya di lorong akhir.

Terowongan beton uzur itu berdiri di Desa Cibokor, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Kereta dari arah Bogor dan Sukabumi akan melewati perbukitan dan hamparan pepohonan hijau, lalu melintasi gulitanya terowongan Lampegan.

Terowongan Lampegan
Terowongan Lampegan

Mulut gerbang terowongan bercat putih dan merah mendekati oranye. Di bagian atas mulut terowongan, ada angka tahun 1879-1882. Angka tahun ini menunjukkan pembangunan terowongan yang berlangsung selama tiga tahun.

Sedangkan di bagian bawah keterangan tahun tadi, ada tulisan ‘Direnovasi 2010’. Keterangan ini menyiratkan, pada tahun itu terjadi perbaikan di terowongan.

Menurut salah seorang warga, Ujang, terowongan tersebut memang pernah diperbaiki lantaran amblas, karena air merembas dari bagian atas terowongan. Ujang mengatakan, proses perbaikan berlangsung sangat lama. Renovasi awal dilakukan pada 2000 dan berakhir pada 2010.

Megalitikum Terbesar

Terowongan Lampegan menghubungkan tiga kota, yaitu Bogor, Sukabumi, dan Cianjur. Di situ adalah pintu awal untuk masuk ke situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara, Gunung Padang.

Kejayaan Zaman Batu
Kejayaan Zaman Batu

Sekitar 8 kilometer, Gunung Padang kokoh berdiri dari Terowongan Lampegan. Jarak 500 meter, Stasiun Lampegan berdiri. Tempat istirahat kereta api Pangrango dan Siliwangi yang bergerak dari Stasiun Paledang di Bogor sana.

Panjang terowongan ini, kurang dari 700 meter. Cukup panjang untuk sebuah terowongan kereta api yang dibangun masa penjajahan. Nama Lampegan sendiri tercipta sangat unik.

Menurut Ujang, nama terowongan Lampegan sendiri dari ucapan ‘latah’ yang tak disengaja. “Dulu teh, kan pekerja terowongan itu orang kita. Terus itu penerangan di dalam pakai lampu teplok. Pas lampu teploknya mati, pekerjanya pada teriak, ‘lampu gan! Lampu gan!’,” kata Ujang, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek.

Padahal, kata Ujang, yang dimaksud para pekerja itu adalah lamp againt (lampu lagi). Namun, penuturan Ujang agak berbeda dengan keterangan penulis buku Jendela Bandung, Pengalaman Bersama Kompas (2007), Her Suganda.

Her menulis, nama tersebut diambil dari ucapan mandor Belanda. Saat itu, sang mandor yang memeriksa pekerjanya di dalam terowongan selalu berujar “lamp pegang! Lamp pegang!”

Meski kurang populer, terowongan Lampegan merupakan saksi bisu sejarah perkeretaapian tanah air. Masa kolonial, terowongan itu dilintasi kereta yang mengangkut hasil bumi, seperti kopi dan palawija.

Suasana yang syahdu dan sunyi tercipta saat saya menghadap lorong panjang Lampegan. Di dalam sana, ada bagian tembok yang agak menjorok ke dalam. Konon, fungsinya sebagai tempat berlindung orang saat mereka masuk ke dalam terowongan dan ada kereta api yang melintas.

Tertua

Ya, bisa jadi terowongan Lampegan merupakan yang tertua dibangun oleh pemerintah kolonial. Ketika saya mencari data di internet mengenai terowongan kereta api tertua, saya menemukan fakta bahwa terowongan ini benar-benar tertua di Indonesia.

Terowongan ini lebih tua dari terowongan Lembah Anai di Sumatera Barat (1890-1891), Sawahlunto di Sumatra Barat (1892-1894), dan Ijo di Jawa Tengah (1885-1886).

Soal panjangnya, Lampegan masih kalah bila dibandingkan dengan terowongan Wilhelmina di Ciputrapinggan, Jawa Barat (1.116,1 meter), Sawahlunto di Muara Kalaban, Sumatra Barat (835 meter), Mrawan di Jawa Timur (690 meter), Sasaksaat di Jawa Barat (949 meter), dan Eka Bakti Karya di Sumberpucung, Jawa Timur (850 meter).

Di sekitar stasiun, saat ini berdiri beberapa warung kecil. Namun, yang paling banyak terasa kecipratan rezeki adalah tukang ojek. Mereka kerap berkerumun, menunggu orang-orang yang ingin pelesir ke Gunung Padang. Ongkosnya pun terbilang lebih mahal, ketimbang tukang ojek yang ada di dekat lokasi situs megalitikum itu.

Terowongan Lampegan memang bukan objek wisata komersial yang ada di Cianjur. Namun, terowongan ini menarik dikaji dan dinikmati, terutama jika Anda menyukai sejarah. Bagaimana? Tertarik bernostalgia menembus masa lalu melalui terowongan ini?