Tak Ada Cabe-cabean dan Terong-terongan pada Masa Depan

Tak Ada Cabe-cabean dan Terong-terongan pada Masa Depan

Ilustrasi (moya-planeta.ru)

Sejak lahirnya Nabi Adam hingga wafatnya Nabi Muhammad. Sejak runtuhnya Konstantinopel hingga bangkitnya kejayaan Eropa. Sejak kemerdekaan Indonesia hingga hancurnya Tembok Berlin. Dan, sejak munculnya demo 212 hingga kepergian sang ‘imam besar’, maka diputuskan bahwa tomat adalah sayuran. Tak lagi bisa disebut buah.

Perdebatan apakah tomat termasuk sayuran atau buah memang mengalami pergulatan panjang dan tak kenal lelah. Hal itu diikuti oleh teman-teman nabatinya. Sebut saja timun, labu, dan paprika. Tak ketinggalan buah yang menjadi buah bibir di ensiklopedia perdebatan panjang abad 21: terong dan cabai.

Secara ilmiah, kelimanya masih tergolong varian buah. Bukan sayuran. Sebenarnya saya sendiri kurang sepakat, bila terong dan cabai dikatakan buah. Lebih baik mengikuti tomat, berubah jadi sayuran.

Jadi begini, kalau memang terong dan cabai dikatakan buah, apa kamu pernah lihat terong dan cabai sebagai sajian pencuci mulut di pesta pernikahan? Apa kamu pernah lihat terong dan cabai dijadikan makanan pembawa saat berkunjung ke rumah sakit? Apa ada jus terong dan cabai di lapak penjual jus buah-buahan?

Saya kok nggak pernah nemu ya, dan saya pikir juga nggak ada. Kenapa begitu? Karena buah identik dengan dominasi rasa manis. Lihat saja apel, pisang, nanas, anggur, dan sebagainya. Keempatnya bisa dan pasti dijadikan pencuci mulut, makanan pembawa, dan jus buah. Lha kalau terong? Apalagi cabai.

Dan, yang bikin saya heran nggak kelar-kelar, kenapa pula ada sekumpulan gadis yang masih imut dan berwajah manis disebut cabe-cabean? Gadis manis kok disamakan dengan cabai yang rasanya pedas. Ya nggak relevan toh.

Kalaupun sebutan itu merujuk ke arah perilaku negatif, ya tetap nggak pas kalau disebut cabe-cabean. Sebab, cabai lebih banyak positifnya. Misalnya, merawat kesehatan kulit, menambah nafsu makan, hingga penyegaran saluran pencernaan.

Lalu, kenapa pula ada sekumpulan remaja tanggung disebut terong-terongan?  Apakah terong dikatakan sebagai buah atau sayuran alay? Apakah terong tergolong tanaman yang tak banyak manfaatnya? Apakah terong adalah tanaman yang tak sedap dipandang mata?

Asal tahu saja, sel pencegah kanker paling efektif adalah terong. Ia memiliki senyawa Fitokimia atau yang lebih dikenal krim BEC5. Bahkan di Australia dan Inggris telah diujicoba kalau penggunaan krim BEC5 efektif 100% untuk ribuan kasus. Apalagi banyak makan terong bisa menjaga kesehatan otak.

Jadi ya nggak tepat kalau remaja tanggung alay dan suka tawuran disebut terong-terongan. Kembalikan mereka ke posisi sebenarnya. Lepas dari segala stigma. Lagipula sekumpulan anak remaja yang disebut terong-terongan atau cabe-cabean itu adalah manusia juga. Bukan buah-buahan atau sayuran.

Begitu juga dengan terong dan cabai. Andai terong dan cabai bisa ditetapkan sebagai sayuran, tomat bakal kedatangan teman lama di rak sayuran. Tak perlu repot-repot lagi membuktikan rasa terong dan cabai, karena rasanya sungguh tidak manis.

Tomat sendiri sudah masuk kelompok sayuran, menyusul putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat. Putusan itu tak lepas dari peran para petani, tengkulak, hingga eksportir dan importir di Amerika. Mengapa bisa begitu?

Jika tomat masih tergolong buah, ia akan dikenakan pajak impor 10%. Beda dengan sayuran. Tak ada persen-persenan seperti itu.

Selain itu, jika tomat masih mahal, masyarakat Amerika khawatir kondisi nutrisi kulitnya. Selain buat kesehatan mata, tomat juga berguna untuk memutihkan kulit dalam satu malam. Tak percaya?

Coba kamu cari saja di yucub dengan kata kunci ‘tomat memutihkan dan menghaluskan kulit’. Saya yakin, sebagian penontonnya bukan orang-orang Amerika, melainkan Indonesia.

Langkah Amerika memutuskan tomat adalah sayuran, bukan buah, boleh saja diapresiasi. Kamu tahu sendiri Amerika itu negara adidaya. Jika mereka menetapkan sebuah putusan, tidak menutup kemungkinan negara-negara di seluruh dunia mengikutinya. Percaya kan?

Kalau belum, saya kasih contoh terbaru. Amerika menetapkan bahwa Arab Saudi sebagai pusat anti-radikalisme dan terorisme. Kemudian Iran dan Qatar adalah negara teroris. Nah, akhirnya semua negara mengikuti keinginan Amerika.

Nah, kembali ke tomat. Kalau tomat ditetapkan sebagai sayuran, bisa jadi Indonesia akan memberlakukan keputusan serupa. Indonesia kan negara toleran. Bukan begitu? Lha, kalau tidak toleran, tidak mungkin Freeport bisa sepuas-puasnya mengeruk emas di Papua sejak zaman baheula.

Penetapan tomat menjadi sayuran oleh Amerika seharusnya juga bisa menginspirasi Indonesia bahwa banyak perdebatan panjang yang perlu diteliti. Tak perlu lagi ada perdebatan soal Al-Maidah 51, chat porno, kriminalisasi ulama, hingga tulisan soal warisan.

Indonesia bisa mengangkat perdebatan panjang yang lain. Misalnya, apakah Hamish Daud pantas menjadi suami Raisa? Eh bukan ding, misalnya kayak penentuan apakah wajah bulan itu mirip kelinci atau kepiting? Itu lebih layak.

Namun, sekali lagi, semua yang ada di dunia ini tak lepas dari kepentingan ekonomi. Sebab, kita masih menganut mazhab ‘beda pendapat adalah beda pendapatan’.

Tomat ditetapkan sebagai sayuran karena kepentingan ekonomi. Arab Saudi menyerang Qatar juga karena masalah ekonomi. Rencana full day school juga terkait ekonomi.

Jadi, kapan terong dan cabai juga ditetapkan sebagai sayuran? Dan, tak ada lagi sebutan terong-terongan dan cabe-cabean pada masa depan.

  • Unik LOL I cant stop laugh!