Terminal 3 Ultimate sebagai Perwujudan Mimpi Jomblo Kebelet Kawin

Terminal 3 Ultimate sebagai Perwujudan Mimpi Jomblo Kebelet Kawin

indonesia.travel

Bangunan megah yang nilainya setara 2 Paul Pogba ditambah 4 Zinedine Zidane itu telah beroperasi sejak 9 Agustus. Namanya Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno Hatta, Banten. Belakangan, terminal ini ramai diperbincangkan. Mulai dari mati lampu, kepadatan lalu lintas, banjir tampias air, hingga penampakan wajah DN Aidit yang diunggah oleh kang Hidayat Adhiningrat, salah seorang petinggi Voxpop.

Sekadar testimoni, saya pernah naik bus Damri dari Bandara Soekarno Hatta menuju Blok M. Bis kemudian masuk parkiran Terminal 3 sekitar jam 9 lewat 10 menit. Lantas saya tertidur. Lima puluh menit kemudian saya terbangun, dengan bus Damri yang tengah melewati Terminal 3 Ultimate. Nyaris 1 jam lamanya. Durasi itu dua kali lipat perjalanan dari bandara ke Slipi. Saya nggak usah mengukur komparansi jarak, kan? Kasihan kaum LDR, telinganya gatal mendengar kata ‘jarak’.

Sembari terjebak kepadatan yang nggak penting, saya berpikir hingga keras. Jika Ignasius Jonan, menteri perhubungan yang lama, memberikan izin operasi Terminal 3 Ultimate, bisa jadi saya terbang via terminal yang keren itu pada 23 Juni lalu. Tentu bakal lebih banyak cerita kenangan dalam artikel ini. Tapi pak Jonan tampaknya paham kondisi lapangan, sampai berani-beraninya melarang Terminal 3 Ultimate beroperasi.

Sejatinya mimpi terhadap beroperasinya Terminal 3 Ultimate itu sama halnya dengan para jomblo yang bermimpi untuk menikah. Penat lama menjomblo kiranya sama penat dengan kondisi Bandara Soekarno Hatta dengan Terminal 1, Terminal 2, dan Terminal 3 tanpa Ultimate.

Apalagi, jika kemudian iming-imingnya adalah luar biasa, sudah membanding-bandingkan dengan bandara di Hong Kong maupun Singapura, dengan aneka kemegahan yang digembar-gemborkan sana-sini. Persis para jomblo yang menelan bulat-bulat kata orang bahwa nikah itu enak, makan ada yang masakin, bobo ada yang nemenin, dan seterusnya.

Sebuah mimpi ingin setara dengan orang lain yang pada akhirnya menggerakkan untuk terus bersemangat, meski entah semangat itu ada modalnya atau tidak. Ini belum menghitung segala kisah bahwa nanti di Terminal 3 Ultimate akan mengedepankan budaya lokal, penuh karya seni, dan segala kisah lain nan sangat menggugah untuk menantikan dengan rindu beroperasinya tempat itu.

Bahwa mimpi beroperasinya Terminal 3 Ultimate setara dengan mimpi kaum jomblo yang kebelet kawin pada akhirnya tampak jelas dan nyata pada proses selanjutnya. Terminal 3 Ultimate dibangun dengan penuh perjuangan, termasuk satu hal yang saya salut adalah keberhasilan memindahkan patung Bung Karno dan Bung Hatta ke tengah-tengah bundaran. Sama persis dengan jomblo yang mulai mendekati calon pasangan idamannya, pun sudah dapat tanda-tanda positif untuk melangkah ke jenjang berikutnya.

Kombinasi antara terlalu lama menjomblo, terlalu ingin ditemenin saat bobo, hingga gambaran-gambaran lain perihal indahnya perkawinan membuat niatan untuk melangkah ke jenjang itu menjadi tidak terbantahkan. Bahkan kalau perlu jangan dihalangi. Pamali, katanya. Maka dua calon pengantin yang sudah kebelet ingin berkasih-kasihan menghadap penghulu, minta legalitas dunia akhirat untuk menikah.

Sialnya, penghulu bilang bahwa dua calon pengantin itu belum siap. Ada hal-hal yang perlu dibenahi, sebelum melangsungkan perkawinan. Persis kala Terminal 3 Ultimate diajukan kepada menteri perhubungan yang kena reshuffle itu dan penolakan beliau untuk memberikan izin beroperasi, karena masih ada kekurangan yang krusial. Mimpi untuk menikah maupun beroperasi pada bulan Juni kandas sudah, meski untungnya bukan hubungannya yang kandas. Hanya penundaan.

Sama persis ketika banyak orang yang begitu terburu-buru untuk menikah, maka ada saja kalangan yang begitu ingin buru-buru menggunakan Terminal 3 Ultimate. Orang yang buru-buru ingin menikah sejatinya hanya membayangkan bagian yang enak-enak saja, mungkin belum terbayang ihwal membayar angsuran KPR maupun kala pompa air macet dan butuh dipancing.

Boleh jadi urusan macet, urusan mobil yang parkir sembarangan, hingga urusan jelek-jelek lainnya tidak terpikirkan pun terbayangkan benar saat hendak membawa Terminal 3 Ultimate ke realita hidup.

Sebuah keuntungan mendadak muncul, ketika sang penghulu yang melarang sepasang calon pengantin untuk menikah itu mendadak dicopot dari jabatannya. Dan, yang lebih indah dari itu, penghulu yang menggantikannya adalah bapak calon pengantin. Namanya juga bapak, wong disuruh menghantam muka guru saja dilakoni, apalagi cuma memberi izin menikah? Kisahnya kok sama dengan Terminal 3 Ultimate? Ah, itu mungkin hanya kebetulan.

Maka, ketika perkawinan berlangsung dengan sederhana atas rekomendasi sang bapak dan juga disahkan oleh sang bapak sendiri, realita perkawinan segera tiba. Adapun Terminal 3 Ultimate izinnya dikeluarkan dalam waktu singkat sesudah menhub yang baru menjabat dan diresmikan pula oleh beliau. Perkara sebelumnya menhub yang baru ini memegang perusahaan apa dan lagi ada megaproyek apa, itu sekadar kebetulan kok.

Terburu-buru menikah menyebabkan banyak hal baru yang tampak tak sesuai mimpi. Sekadar ingin kawin, tapi lantas nggak paham kalau pasangan itu ternyata jam 9 malam sudah kudu bobo, sudah kebiasaan dari kecil dan tidak bisa ditoleransi. Atau, kayak kisah-kisah epik negeri ini, saat yang dinikahi ternyata tiada berbeda jenis kelamin. Tidak sesuai mimpi, bikin kagok, hingga bahkan bikin kagol.

Maka, jika kemudian ada cerita macet gila-gilaan di depan Terminal 3 Ultimate (semoga sekarang sudah beres), belum lagi urusan mati lampu, kisah deru gerinda yang masih nyata terdengar, hingga soal gambar DN Aidit yang mengemuka gegara petinggi Voxpop dan banjir tampias air yang menggenangi bagian depan gedung terminal, itu adalah bagian dari riak-riak perkawinan baru.

Sama porsinya ketika ternyata pasangan itu ngorok luar biasa mengerikan, saat pasangan ternyata punya tato Hello Kitty, hingga ketika mengetahui bahwa pasangan menggunakan nama mantan sebagai password. Sebab, jika perkawinan itu ternyata tidak seindah yang dibayangkan saat masih jomblo, sama halnya dengan Terminal 3 Ultimate yang ternyata belum semenawan yang dikisahkan saat dia masuk berupa sekadar gambar.

Yang sejatinya keren adalah ketika penghulu sudah melarang, tapi pasangan nekat dan kebetulan juga bejo bahwa si penghulu digantikan bapaknya sendiri, sehingga kemudian perkawinan tetap dilangsungkan. Lalu, ketika melihat pasangan yang baru menikah itu lantas berantem dan bermasalah nggak karuan, boleh jadi mantan penghulu tersenyum dari kejauhan sambil bilang, “Gue bilang juga apa?”

Bukan begitu, pak Jonan?

  • Johnthebroer

    Baru saja berangkat dari T3 bersamaan dengan keluarnya artikel ini. Komentar saya: T3 belum layak di operasikan. Area check in sangat panas dan humid sampai membuat saya mandi keringat. Konstruksi masih dilakukan disana sini. WC area check in cuma satu sehingga terjadi antrian.
    Teringat launching airport sheik hamad bin khalifa al thani Qatar yg mundur 1 tahun krn belum ready menurut ceo qatar airways padahal sudah 100% selesai, itu pun masih terjadi insiden atap bocor setelah launching.
    Ultimate berarti top of the top. Best of the best. Diatas gold …titanium. Seharusnya kesiapannya harus ultimate juga bukan hanya utk pencitraan.

  • ega chandra

    Aduh masbro, lebih baik diberi izin daripada nantinya hamil diluar nikah atau aborsi. Lebih baik mana masbro?
    Masalah kekurangan akan menjadi sebuah pembelajaran, mana yg harus diperbaiki untuk kedepannya nanti.
    Anda cukup melihat bagaimana pasangan ini belajar dari kesalahan untuk lakukan pembenahan hingga akhirnya merasakan kebahagiaan.