Terima Kasih Skuat Garuda!

Terima Kasih Skuat Garuda!

sepakbolamagz.com

Ada rasa jemu yang seketika menyerang tatkala membuka akun media sosial, baik Facebook maupun Twitter, dalam dua bulan terakhir ini. Alasannya apalagi kalau bukan isu-isu yang kerap mendera bangsa ini: politik yang berbaur isu SARA.

Bak cendawan pada musim hujan, isu tersebut begitu subur menghiasi linimasa, seolah tak ada hal lain yang layak diperbincangkan. Tak ada lagi aib yang bisa ditutupi. Semua dimanfaatkan demi kekuasaan dan pundi-pundi materi.

Entah ke mana perginya rasa malu dan sopan santun bangsa ini? Entah ke mana raibnya akal sehat dan nurani bangsa yang katanya ramah ini? Karakter mulia itu seolah hanya tinggal kenangan.

Satu pertanyaan meraung-raung dalam benak saya. Apakah bangsa kita sedang sakit sesakit-sakitnya?

Saat penduduk di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua berteriak-teriak soal pembangunan yang tidak merata, bencana alam, dan segerombol masalah pelik lain, Jakarta malah sibuk dengan kepentingan (kelompok) masing-masing.

Beruntung, kita masih punya olahraga. Selain sebagai tontonan yang mengasyikkan, olahraga selalu memiliki filosofi dan pesan mulia. Semisal sepak bola. Kampanye anti-rasisme membahana dari lapangan hijau, sebab rasis adalah kejahatan.

Saya kebetulan menggemari banyak cabang olahraga semisal balap, basket, bulu tangkis, sepak bola, hingga American football. Termasuk gulat profesional bertajuk World Wrestling Entertainment (WWE) yang dianggap ‘kolokan’ oleh sebagian orang.

Setidaknya, narasi di tayangan itu masih lebih realistis dan menarik ketimbang sinetron dan reality show di Indonesia. Jadi sah-sah saja mendaku kalau tayangan olahraga bak ‘surga kecil’ yang nyaman dan menenangkan.

Yah, meski jagoan saya di cabang sepak bola, FC Internazionale Milano, tengah berperilaku menyebalkan. Bagaimana tidak sebal, hasil-hasil minor berupa kekalahan justru kerap dialami. Sungguh, Inter bikin patah hati, namun anehnya saya tak pernah patah mencintainya. Eeaaa…

Masih dari cabang olahraga yang sama, selama hampir satu bulan terakhir perhatian tertuju pada tim nasional Indonesia. Kebetulan, skuat Garuda tengah berjibaku di turnamen sepak bola antar negara di Asia Tenggara, Piala AFF.

superball.id
superball.id

Ketika suhu politik di negeri ini sedang mendidih karena isu SARA, menyaksikan aksi-aksi Boaz Solossa dkk adalah sebuah kenikmatan yang paripurna. Walau saat yang bersamaan, degub jantung ini selalu lebih cepat dan tak karuan akibat khawatir pada penampilan anak asuh Alfred Riedl yang awalnya tampak angin-anginan.

Tapi apa yang ada di dalam tubuh timnas yang kerap mereka pertontonkan di hadapan kita adalah kebalikan atas apa yang terjadi di negeri ini. Para pemain dengan agama yang berbeda-beda, dengan etnis dan bahkan warna kulit yang berlainan, nyatanya bisa berbaur satu sama lain.

Mereka tunggang langgang mengejar dan menggiring bola, pontang-panting menghalau serangan lawan dan berjuang bersama-sama demi satu nama, Indonesia.

Timnas dikapteni oleh Boaz Solossa, anak Papua, yang beragama Kristen. Boaz dan rekannya, Lerby Aliandry, jelas minoritas. Sebab, sebagian besar skuat Garuda beragama Islam. Sebut saja Andik Vermansyah, Evan Dimas, Fachrudin Ariyanto, Manahati Lestusen, dan Muchlis Hadi Ning.

Sewaktu Manahati bikin gol penyama kedudukan saat melawan Vietnam di laga kedua semifinal, mereka merayakannya dengan cara bersujud di lapangan Monas hijau. Tapi apakah mereka ribut-ribut soal jabatan kapten timnas? Tentu tidak. Mereka tetap kompak. Kalau tidak, mana bisa sampai ke final?

Timnas Indonesia di Piala AFF 2016 adalah perwujudan kebhinekaan yang sejati. Komposisi pemainnya pun merata, mulai dari Sumatera hingga Papua, bahkan Belanda. Adalah Stefano Lilipaly, pemuda kelahiran Utrecht, Belanda, pemain hasil naturalisasi yang tampil ciamik.

detik.com
detik.com

Begitu juga dengan Zulham Zamrun dan Rizky Rizaldi Pora yang berdarah Ternate, Maluku Utara. Kemudian Evan Dimas dari Surabaya, serta Bayu Gatra dan Andik Vermansyah yang berasal dari Jember, Jawa Timur.

“Semakin lama saya berada di Indonesia, saya makin mengenali karakter dan budaya orang Indonesia. Negara ini negara yang luas dan memiliki keberagaman budaya dan amat religius,” kata Alfred Riedl, sang pelatih, dalam suatu kesempatan.

Riedl yang aslinya dari Austria itu kerap mengadakan ritual berdoa bersama sebelum pertandingan, sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Riedl didampingi asistennya, Wolfgang Pikal, yang juga kelahiran Wina, Austria. Pikal sendiri mualaf dan sudah beberapa kali umroh.

Atribut khas klub kesayangan para suporter pun berubah secara masif. Hanya ada warna merah dan putih saja yang berjubel di stadion guna menunjukkan dukungan. Tak ada nyanyian tentang Persib, Persija, PSM, atau Persipura.

Semangat kedaerahan diperam dalam-dalam dalam balutan cinta kepada negara. Lalu, tak bisakah ini dijadikan sebagai contoh yang paling hakiki bahwa kita masih bertanah air yang satu, berbahasa yang satu, dan berbangsa yang satu?

Jika anda adalah orang yang kerap mendaku diri sebagai warga Indonesia, namun cuitan, status, dan ucapan masih berbau kepentingan kelompok, ada baiknya bercermin. Kita seharusnya malu di hadapan pemain-pemain sepak bola dan suporternya, yang barangkali kesejahteraannya tak lebih baik dari anda.

Mereka justru mengajari kita tentang Indonesia yang sesungguhnya. Keberhasilan skuat Garuda melaju ke babak final Piala AFF, setelah membungkam timnas Vietnam dengan agregat 4-3, juga patut dirayakan.

Penantian selama enam tahun untuk menembus partai puncak telah berakhir tahun ini. Apapun hasil akhirnya, timnas Indonesia adalah juaranya. Sebab, lagi-lagi, mereka mengajarkan kita bahwa perbedaan justru bisa menyatukan. Demi satu nama, Indonesia.

Terima kasih skuat Garuda!