Tere Liye Naik Mesin Penjelajah Waktu Bareng Doraemon

Tere Liye Naik Mesin Penjelajah Waktu Bareng Doraemon

islandsofimagination.id

Sebagai penulis novel, Tere Liye pasti paham bahwa novelnya banyak dijual di toko buku dan mungkin juga dibaca banyak orang. Sebagai penulis handal cum cendekiawan sejarah yang hebat, dimana buku-bukunya banyak digandrungi anak muda karena menebarkan sesuatu yang mendayu dan melankolis, saya tidak sangsi kalau kemudian beliau mendaku diri sebagai penulis pilih tanding yang layak disandingkan dengan Umberto Eco atau Harper Lee sekalipun.

Tapi, laiknya manusia biasa, Tere Liye tentu pernah melakukan blunder yang fatal. Entah khilaf atau disengaja. Yang pasti, dua-duanya bikin pria berusia 36 tahun itu tetap eksis. Bisa jadi sebentar lagi bakal terbit novel terbaru. Taadaaa….

Saya pun pernah melakukan blunder dalam hidup. Suatu waktu saya pernah bersiap akan cuci muka. Sabun muka yang seharusnya diusapkan di muka malah dengan riang gembira saya usapkan keseluruh rambut. Saya rasa blunder yang mirip-mirip terjadi ketika Tere Liye menulis sebuah pernyataan sikap bahwa sejarah bangsa ini dan cerita tentang kemerdekaannya tidak melibatkan orang-orang kiri dan hanya berisi para ulama yang santun dan hebat.

Karena larut dalam euforia novelnya yang laris manis dan cerita dalam novelnya – yang berdasarkan testimoni seorang kawan begitu romantis – Tere Liye lupa bahwa hal-hal fiktif yang ditulisnya di novel sudah selayaknya tidak mengurangi bobot isi batok kepalanya.

Mungkin sebentar lagi Tere Liye alias Darwis ini akan bikin status di medsos, kalau belio baru saja naik mesin penjelajah waktu kepunyaan Doraemon. Saat berkunjung ke tahun-tahun sebelum 1945, ia tidak melihat peran orang-orang kiri – yang dia maksud adalah orang-orang komunis dan sosialis – dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Bahkan, dalam perjalanan waktunya itu, Tere Liye bisa jadi tidak menemukan satu pun tokoh ‘kiri’, seperti Tan Malaka, Semaun, dan lain-lainnya, karena bung Tere sedang asyik bersantap kue dorayaki bersama Doraemon. Bung Tere juga bahkan tidak melihat adanya Bung Karno, yang pernah lantang mengatakan, “Aku tegaskan dengan tanpa tedeng aling-aling, ya, aku marxis.”

Jadi, untuk para penggemar Tere Liye, bersiap menyambut novel terbaru belio berjudul ‘Tere Liye, Sang Penjelajah Waktu’. Novel ini masih bergenre fiksi fantasi, hasil imajinasi belio tentang wara-wiri naik mesin waktu.

Mungkin yang harus dicontoh dari Tere Liye adalah menyadari bahwa tidak semua orang memiliki bakat untuk berkomentar tentang beberapa hal yang tidak ia kuasai. Setidaknya, menghindari sebuah kesalahan tolol yang masif.

Seorang dosen di kampus saya, suatu waktu pernah keukeuh dan ngeyel bahwa ibukota Turki adalah Istanbul. Kemegahan Konstantinopel dan kejayaan bangsa Romawi yang dilanjut oleh periode Kesultanan Turki yang begitu termahsyur memang memabukkan logika, sehingga mampu memampetkan nalar dan mematikan kerja otak sehat manusia.

Bung Tere seharusnya sesekali menyapa Dewi Lestari yang fokus berkarya untuk menjadi penulis novel dan abai dengan hal-hal yang berbau sosial politik. Ya setidaknya saya tidak pernah membaca kicauan Dewi Lestari yang dengan gagah bilang bahwa Soekarno adalah antek asing dan liberal.

Sudahlah bung Tere, biarkanlah kami anak-anak muda yang menjadi pilar masa depan bangsa ini belajar dengan giat dan membaca buku sejarah yang jauh lebih baik daripada anda. Bung Tere tak perlu berbuih-buih menyarankan anak-anak muda untuk bangga dengan sejarah bangsanya sendiri dan banyak membaca buku sejarah.

Kenapa tidak bung bilang saja agar anak-anak muda untuk banyak membaca novel anda? Saya yakin, novel anda jauh lebih bagus dan bermutu daripada buku sejarah yang membelokkan fakta dan memberikan narasi sepihak yang gelap tentang mengapa PKI adalah musuh bangsa dan segala diskusi tentang paham kiri adalah haram di negeri ini.

Bung Tere, propaganda di buku sejarah itu pula yang membuat orang-orang sejenis bung semakin berlipat jumlahnya di negara ini. Begini deh, ingat kasus kerusuhan di Tolikara? Ketika isu Tolikara tengah hangat dan seruan untuk berangkat jihad dikumandangkan oleh sahabat-sahabat bung, semisal Jonru dan Hafidz Ary, muncul seorang cendekiawan hebat bernama Deding Ishak yang percaya bahwa kerusuhan Tolikara adalah ulah komunis. Hebat betul!

Jadi bung Tere, kalau mau belajar sejarah, bung bisa temui Zen RS atau Muhidin M Dahlan. Saya yakin itu jauh lebih bermanfaat bagi bung Tere daripada menyerukan kepada generasi bangsa ini untuk lebih banyak membaca literatur sejarah yang disajikan di sekolah.

Atau, kalau bung Tere selo dan punya waktu luang yang kepalang banyak, kami bisa bantu bikin tagar #BukuSejarahUntukTereLiye. Setidaknya, itu bukti kecintaan kami pada bung Tere agar isi kepala bung tidak melulu tentang cerita fiktif di novel yang berbaur menjadi satu dengan logika tolol, sehingga memunculkan pernyataan sikap bung yang bebal, banal, dan sangat medioker itu.