Tentang Menulis Sebuah Catatan Kematian

Tentang Menulis Sebuah Catatan Kematian

pinterest.com

Para penikmat film mungkin tahu film berjudul Death Note. Film ini lumayan populer. Saya jadi teringat film ini gegara peristiwa ledakan bom di Madinah, Jeddah, dan Solo, belum lama ini. Baiklah… Saya akan coba ceritakan dengan gaya bahasa sederhana agar tulisan ini tidak terkesan horor, walaupun ada embel-embel istilah death segala.

Bagi kalian yang sudah nonton Death Note pasti sudah mulai menebak-nebak? Toh, ini bukan teka-teki silang yang rumit, yang dijual abang-abang di pinggir jalan. Bukan pula teka-teki silang yang njlimet, dimana hanya Joan Clarke yang bisa mengisinya secara cepat sebagai syarat lulus masuk tim pemecah sandi mesin Enigma dalam film The Imitation Game.

Nah, bagi yang belum nonton, jangan salah kaprah. Film ini sama sekali bukan film aksi teroris. Bukan pula propaganda terorisme. Bukan. Bahkan tidak ada penampakan gurun pasir, sorban, atau senjata AK-47 sama sekali. Yang ada malah cowok-cowok imut dan cewek-cewek berbodi mulus. Death Note adalah film Jepang, tapi terkenal ke se-antero dunia.

Death Note itu ceritanya unik. Singkatnya ada sebuah buku bernama Death Note. Kalau sesuai EYD alias English Yang Disempurnakan, death note berarti buku catatan kematian. Mungkin kalau dulu, 11-12 lah sama buku harian atau diary. Bedanya kalau diary yang ditulis, “Dear diary… Hari ini saya sebel banget sama dia.” Tapi kalau versi Death Note, “Hari ini saya mau dia mati!” Ya kira-kira begitulah.

Nah, nama siapapun yang ditulis dalam buku ini akan mati dalam hitungan detik, karena serangan jantung. Tapi bisa juga diatur waktunya, asal tak lewat 30 hari. Berarti 10 detik bisa? Lho, ini mau mati atau selfie sih pakai timer segala?

Tak hanya waktu, bisa juga disusun skenario kematiannya. Mau mati kecolok bulu mata palsu anti badai? Mati akibat kaki bengkak karena lari dari kenangan mantan? Atau, mati akibat suka menghina jomblo terus jenazahnya susah dikebumikan?

Alkisah, Death Note ini milik dewa kematian yang dipanggil dengan sebutan Shinigami. Saking bosannya tak punya kerjaan dan jomblo pula, para Shinigami lalu memberikan Death Note mereka kepada manusia. Jatuhlah Death Note ke tangan seorang mahasiswa hukum bernama Light Yagami.

Light Yagami terobsesi banget sama hukum dan keadilan. Setidaknya hukum dan keadilan versi dia. Yagami ingin membumihanguskan semua tindak kejahatan. Tapi cowok yang jenius ini kecewa. Hukum ternyata penuh cacat, karena tak jarang pelaku kriminal malah lolos dari hukuman. Yagami depresi, marah sejadi-jadinya.

Cerita punya cerita, kekecewaan itu menemukan jalannya. Ibarat gayung bersambut, Death Note menjadi senjata bagi Yagami untuk menciptakan dunia tanpa kejahatan. Semua penjahat dia bunuh semudah menuliskan nama mereka di Death Note. Satu, dua, belasan, puluhan, hingga ratusan orang dia bunuh hanya dengan berbekal nama dari televisi atau koran. Tak perlu ketemu orangnya, tinggal tulis nama, mati sudah.

Bagi Yagami, dia adalah penjaga dunia baru, dunia yang menjadi obsesinya. Dunia tanpa tindak kejahatan. Karena aksi Yagami dengan Death Note-nya, tingkat kejahatan memang menurun. Yagami yang berlindung dengan nama Kira itu menjadi sanjungan banyak orang. Para penggemar yang setuju dengan obsesinya mengibaratkan Yagami sebagai juru selamat. Yang tak setuju, menganggapnya sebagai penjahat.

Para penegak hukum menganggap Yagami sebagai pembunuh berantai yang juga harus dihukum. Dia diburu. Tapi Yagami tak peduli. Baginya, apa yang ia lakukan benar. Pokoknya, Yagami maju terus pantang mundur cantik. Alhasil, yang awalnya hanya berniat membunuh para kriminal, Yagami akhirnya menerebos makin jauh. Semua orang yang menghalanginya ia bunuh, entah itu kriminal atau bukan. Bahkan kekasih dan ayahnya sendiri tak ragu ia bunuh.

Di situlah letak irisan antara karakter Yagami dengan para teroris. Ya memang nggak mirip 100%. Tapi setidaknya Yagami dan para teroris merasa ingin mewujudkan dunia yang ‘lebih baik’ sesuai versi mereka masing-masing. Siapa yang merusak kebaikan dunia dalam ukuran mereka, dilibas habis. Mau yang kriminal atau bukan, jahat atau baik, atau yang dikit-dikit baik, dikit-dikit jahat.

Yagami dan para teroris tak peduli mereka dianggap penjahat atau dituding sebagai pembunuh massal. Mereka seolah berkuasa penuh atas nyawa manusia. Mereka merasa mutlak-mutlakan benar. Mereka punya catatan kematian sendiri. Ingat beredarnya video ancaman kepada Panglima TNI, Polri, Densus 88, dan Banser oleh orang yang mengaku anggota ISIS?

Mungkin untuk menghentikan Yagami bisa dilakukan dengan cara membakar Death Note menjadi abu. Tapi kalau teroris? Para teroris jelas jumlahnya lebih banyak dari Yagami yang hanya seorang diri. Membunuh satu teroris, entah berapa yang akan muncul. Bahkan siapa ‘Shinigami’ di balik teroris ini pun melacaknya sulit.

Jangan-jangan mereka juga sekadar jomblo bosan yang ingin dapat hiburan sama seperti Shinigami di film Death Note? Kalau demikian, apakah masih ada yang ingin menjadi ‘calon pengantin bidadari’ di surga? Mending pada kawin saja di dunia. Bukankah kawin itu juga surga, meski surga dunia? Ya hitung-hitung mengurangi angka jomblo yang semakin mengkhawatirkan. Lebih mulia bukan?

Bagi orang-orang yang terobsesi secara kebablasan itu mungkin lupa. Tak ada yang sempurna di dunia yang fana ini. Bukan hanya hukum, bahkan kehidupan itu sendiri. Idealisme itu bagus, tapi jangan utopis. Apalagi sampai menjadi teroris. Realistis saja, tapi jangan terlalu pesimistis. Daripada sakit hati serasa teriris, lalu meninggalkan luka segaris? Tiba-tiba menjadi melankolis setengah nyinyiris…