Tenanglah, Ada ‘Big Brother’ yang Setia Menemanimu

Tenanglah, Ada ‘Big Brother’ yang Setia Menemanimu

collegemag.net

‘Big Brother is watching you’.

Dulu orang-orang cemas dengan slogan itu. Membayangkan ‘ramalan’ Orwell akan kehidupan mencekam penuh pengintaian pada 1984. Kini semua sudah berlalu, kecemasan tak terlalu. Big Brother bahkan menjelma jadi teman setia.

George Orwell tentu tak sempat menyaksikan ketegangan pembaca novelnya menjelang era yang ‘diramalkannya’ itu. Ia keburu mangkat pada Januari 1950 atau tujuh bulan setelah novelnya yang berjudul Nineteen Eighty-Four terbit pada pertengahan 1949.

Sastrawan asal Inggris tersebut juga tak sempat menyaksikan orang-orang mengabaikan bukunya. Alih-alih terbukti, ilustrasi Orwell malah meleset. Kehidupan pada 1984 dan setelahnya tidak persis seperti apa yang ‘diramalkan’ dalam Nineteen Eighty-Four.

Tak ada teleskrin yang bisa menangkap suara rendah, tak ada helikopter yang mengintai jendela, tak sengeri itu. Demokrasi bahkan semakin pesat meluas. Pada 1997, lebih dari 75% negara di dunia menganutnya. Uni Soviet runtuh.

Teknologi kemudian bebas berkembang, Macintosh mulai dikenalkan kepada publik. Sejak itulah, Orwell hanya dianggap sebagai pembual atau mungkin pendongeng yang punya banyak waktu berkhayal.

Tahun pun berganti, menuju dekade demi dekade. Sampai pada satu siang, seorang pekerja di sebuah kota yang ngos-ngosan membenahi diri supaya setara metropolitan, dibuat jengkel dengan SMS yang masuk ke ponselnya.

Ia menggerutu, semakin hari semakin banyak saja SMS seperti itu. Setiap mendekati pusat kota, ia mendapat SMS donat, ayam goreng, dan es krim. Giliran melewati batas kota, gantian SMS restoran, gerai pakaian, diskon kamar hotel, ditambah SMS dari operator seluler dengan tawaran itu-itu saja.

Sungguh membosankan, saat SMS ‘mama minta pulsa’ sudah berganti format. SMS iklan itu masih sama dengan tahun lalu. Sungguh mengecewakan pula, karena sebetulnya ia sedang berharap SMS konfirmasi transferan dari rekening pacar, tapi malah mendapat SMS diskon sepatu dari mal. Padahal yang tertera di layar ATM tinggal saldo minimal.

Ia kemudian duduk di taman kota untuk mencari udara segar dan pandangan mata yang melegakan. Tentunya sambil foto-foto dengan pose kekinian. Berharap bisa menyaingi para pesohor di Instagram yang mendapatkan endorsement sepatu impian. Sebab, ia dengar kue iklan begitu besar, kenapa tidak menyemuti remah-remahnya?

Jeprat-jepret pun selesai. Tapi sialnya terlalu banyak baliho reklame melatari fotonya. Ia mulai menghitung satu persatu dan menghasilkan kesimpulan yang mencengangkan.

Tahun lalu, kepadatan reklame di Jogja mencapai 87,5%. Sementara itu, jembatan penyeberangan orang di Jakarta roboh, karena ukuran papan reklame yang terlalu besar melebihi ketentuan. Di kawasan Simpanglima Semarang sudah seperti hutan reklame. Ada puluhan papan baliho di sana.

Ia pun kembali pulang dan mengumpat sepanjang jalan. SMS transferan juga tak kunjung tiba. Ia kemudian menghempaskan telepon dan membuka laptop, menengok laman Facebook. Hatinya kian nelangsa. Area curcol, nyindir teman yang tak kunjung bayar utang, pamer makanan, dan sok-sokan kritis bergaya cibir memenuhi akunnya.

Di sisi kiri dan kanan, tampak berdesakan iklan. Dan, di tengah-tengah, berderet foto sepatu dan jam tangan layaknya etalase toko online, lengkap dengan tulisan, “Direkomendasikan untuk anda.” Sepatu dan jam tangan yang sangat diimpikannya sampai basah sejak lama.

Rupanya ia memiliki rekam jejak belanja, bahkan sekadar jejak window shopping pada masa lampau juga terekam. Rekam jejak yang terbungkus dalam sebentuk tawaran yang menyembul-nyembul, mendesak, dan menggoda untuk kembali dilirik.

Ia jengkel, karena harus melihat kembali sepatu yang diimpikannya pada waktu yang bertepatan dengan saldo rekening nol. Hatinya menjerit, “Wahai para saudagar, mbok ya kalian punya belas kasihan sedikit saja!”

Ia kemudian menutup laptop, lalu menyalakan TV. Ia penasaran dengan pendapat selebriti Ibukota. Jakarta memang terlalu kuat magnetnya. Pendapat tentang apa sajalah, meski tak jelas keterkaitannya. Mungkin mereka akan berpendapat soal penggandaan uang, bencana alam, atau mengomentari sekumpulan orang yang menyangka hari tanpa bra adalah hura-hura bertelanjang dada.

Ya, menyaksikan kedunguan yang dirayakan tentu akan sedikit melipur lara akibat gagal belanja. Tapi sayang, saluran juga masih menayangkan banyak iklan. Ganti saluran ya… Ah, mars partai itu lagi.

Ia pernah membaca perihal riset iklan TV, Adstensity. Belanja iklan di 13 stasiun TV pada semester I tahun ini naik menjadi Rp 49,2 triliun dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 32,9 triliun. Nielsen Indonesia juga bilang begitu, belanja iklan TV meningkat 26%. Pantas saja, durasi iklan rasanya semakin panjang.

Berikut ini info cukup tahu saja. Tahun 2012, Remotivi melaporkan pelanggaran waktu siar iklan niaga oleh 10 stasiun TV swasta nasional. Siaran iklan melampaui 20% atau batas maksimal yang diatur dalam UU Penyiaran. Namun, menurut KPI, siaran iklan niaga TV swasta dalam 10 tahun terakhir masih aman. Tidak ada pelanggaran.

Di TV, iklan-iklan itu bukan lagi menawarkan produk. Tapi mempromosikan gaya hidup. Tentunya dengan ajakan yang lembut, seperti seorang teman yang senantiasa mengajak menuju kebaikan yang mencerahkan. Ajakan itu siap mencegat, lalu menemaninya kemana pun ia pergi.

E-Marketer yang katanya menjadi the first place to look when you need data about digital menyebutkan, tahun ini pengalihan anggaran dari iklan tradisional ke iklan digital terus berlangsung. Kata para periset di e-marketer, tahun ini iklan mobile digital tumbuh tiga kali lipat dengan porsi 15,5% dari seluruh iklan digital. Sampai 2019 diprediksi mayoritas iklan digital akan dialokasikan ke arah mobile. Ya, mereka sudah menanti di sana.

Alhasil, matanya dikepung iklan, ia tak bisa lari kemana-mana. Ruang personal disusupi, ruang publik menyusut. Hidupnya kian terhimpit. Gaji pas-pasan, baca buku dirazia, diskusi dilarang, nonton film dibubarkan. Ia tak lagi mampu berpikir. Untuk memikirkan paha dan dada ayam saja harus dibantu pasukan sensor.

Ia tak punya pilihan. Selain harus mengakui ramalan Orwell serta berusaha hidup tenang, ia harus berdamai dengan Big Brother. Sebab, Big Brother mengenalnya luar-dalam, mengetahui kebiasaannya, makanan kesukaan, ukuran sepatu, selera, dan semua yang masuk ranah pribadi. Big Brother yang totalitarian itu bakal setia menemani bahkan mengatur kehidupan siapa saja.

Big Brother is watching you!