Teman Kokok, Teman Ahok, Teman Khan

Teman Kokok, Teman Ahok, Teman Khan

upstreamdownstream.org

Tahun ini bisa dibilang menjadi tahun penuh kejutan di Inggris. Segala perhatian terpusat di negara asal sepak bola modern tersebut. Pertama, sebuah klub sepak bola semenjana bernama Leicester City berhasil menjuarai Liga Inggris 2015-2016. Kedua, fenomena Sadiq Khan, seorang muslim pertama yang menjadi Wali Kota London.

Dua fenomena itu masih menarik dibicarakan, karena kontekstual dan merembet kemana-mana termasuk Indonesia. Daripada debat kusir soal PKI yang cuma muter itu-itu saja? Berdebat sampai keluar kata-kata goblok, tangkap, basmi, yang hanya menimbulkan kebencian baru? Yaelah lemesin aja, keleus… Ngotot tapi kok lupa substansi soal kemanusiaan itu sendiri. Nah, tulisan ini masih ada hubungannya juga dengan kemanusiaan.

Soal Leicester, saya rasa sudah banyak penulis yang mengulas itu di Voxpop. Misalnya, “Leicester dan Kejayaan Kaum “Subaltern”” yang ditulis Isidorus Rio Turangga. Atau, artikelnya Ardi Kurniawan berjudul “Panduan Menjadi Pendukung Leicester Musim Depan”. Karena itu, saya coba menambahkan saja agar paripurna.

Gelar juara untuk Leicester memang mengejutkan, lantaran ‘The Foxes’, panggilan kyutnya, bukan kesebelasan mapan yang memiliki tradisi juara tiap musim. Leicester hanyalah klub sepak bola medioker di Negeri Ratu Elizabeth, yang sebelum musim ini mondar-mandir dari premier league ke championship league. Tentu beda kasta.

Fenomena itu sekaligus menimbulkan keanehan atau anomali lah kalau kata teman saya yang mendaku hipster. Kejadian ini sangat jarang, mungkin ratusan tahun sekali. Leicester sendiri menunggu sampai 132 tahun untuk bisa juara. Kalau dipikir-pikir, PSSI kan baru 86 tahun. Apa iya, kita butuh 46 tahun lagi supaya bisa juara? Ah sudahlah.

Balik lagi ke Leicester. Tim asuhan Claudio Ranieri ini dianggap sebagai representasi dari kaum inferior yang merusak hegemoni superior. Dan, kejayaan Leicester adalah kejayaan semua kaum inferior di mana saja. Kaum inferior kini bisa bermimpi seperti Leicester. Bermimpi menaklukan hidup. Bukan lagi hanya bertahan hidup.

Kejayaan Leicester adalah ‘martir’ bagi kaum inferior di mana pun. Itu berarti, kejayaan tak hanya milik para penguasa, tapi milik kaum inferior juga. Asalkan, kalau sudah naik kelas, jangan jadi superior-superior baru yang berperilaku sama.

Tapi, entah kebetulan atau sebuah pertanda alam, sebuah kejayaan yang tak kalah dramatis juga terjadi di Inggris. Kemenangan yang ‘langka’ dan tak diduga-duga dari sosok yang selalu dipandang sebelah mata. Lagi-lagi, ini kejadian yang ‘aneh’. Mata dunia tertuju kepada Sadiq Khan.

Sepintas tak ada yang istimewa dari Sadiq. Ia hanyalah pria berambut putih mirip George Clooney. Sadiq juga tak cukup rupawan seperti Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau. Daya tarik Sadiq terletak dari ‘keanehan’ kemenangannya dalam pemilihan wali kota London, belum lama ini. Sadiq adalah seorang muslim keturunan Pakistan yang sukses meraih predikat sebagai wali kota di kota yang menjadi markas Chelsea, Arsenal, Tottenham Hotspur, dan Fulham FC.

London memiliki wali kota muslim pertama dalam sejarah setelah Sadiq Khan berhasil mengungguli Zac Goldsmith dengan perolehan suara mencapai 57%. Sadiq adalah kandidat dari partai buruh, sedangkan Zac adalah kandidat dari partai konservatif. Kemenangan ini terasa ‘aneh’, karena penduduk muslim di London hanya sekitar 12%. Tapi nyatanya bisa menang.

Kejayaan Sadiq tak terlepas dari kampanyenya yang menarik. Tentu ini tak terlepas dari peran para relawannya. Bisa dibilang Teman Khan sukses mengusung slogan#YesWeKhan, yang merupakan plesetan dari #YesWeCan, slogan milik Barack Obama. Apa yang diraih Sadiq dan Teman Khan saat ini dirasa sebagai kejayaan harapan melawan rasa takut. Selama kampanye, Sadiq kerap diterpa badai isu soal ekstrimis, karena latar belakang agamanya.

Ada momen menarik perihal kemenangan Sadiq, saat ia sedang menyampaikan pidatonya di hadapan publik. Sikap tidak ‘nyeleneh’ dari lawan politik Sadiq yang berasal dari Partai Britain First, Paul Golding. Paul seketika membelakangi arah podium saat Sadiq tengah berbicara di podium.

Paul dianggap tidak menghormati apa yang telah Sadiq raih dan menciderai sportivitas. Memang sulit bagi Paul menerima kejayaan Sadiq, mengingat Paul adalah kandidat ‘sayap kanan’ yang rutin mengumbar ketidaksukaan kepada muslim yang dianggap ekstrimis. Bisa dibilang, Paul itu mirip-mirip dengan simpatisan Prabowo, ampas kegagalan Pemilu 2014 yang terus mendustakan kemenangan Jokowi.

Tapi, kejayaan Sadiq sama seperti kejayaan Leicester. Sebuah kejayaan yang ditempeli oleh ‘parasit’. Tak sedikit orang yang merasa terwakili oleh kesuksesan Sadiq, seperti Leicester yang mewakili kaum inferior.

Kejayaan Sadiq juga tengah dirasakan oleh banyak masyarakat di Indonesia, yang jauh beribu-ribu kilometer bahkan lebih dari Kota London. Tak sedikit masyarakat Indonesia ikut bersorak atas kemenangan anak dari seorang sopir bus dan penjahit asal Pakistan ini.

Sebagai salah satu negara di dunia dengan penduduk muslim terbanyak, masyarakat muslim Indonesia turut menikmati kejayaan Sadiq di London. Kemenangan Sadiq sebagai orang muslim pertama yang menjadi wali kota di London menjadi tajuk utama bagi para fundamentalis untuk menegaskan bahwa keislaman mereka juga ada di dalam diri Sadiq. Kebanggaan sebagai muslim pun menguap bebas ke udara.

Beberapa teman saya yang sangat religius pun ikut bersukacita, secara tersirat mengumbar kebanggaan sebagai pemeluk Islam. Sebab, Sadiq juga seorang pemeluk agama Islam. Mereka merayakan pesta Sadiq hanya sebatas persamaan agama saja, namun tak mengupas secara keseluruhan mengenai pemahaman lain dari Sadiq.

Jika para fundamentalis ini mengetahui bahwa Sadiq melarang boikot terhadap Israel dan mendukung pernikahan sejenis, sudah pasti mereka akan menyesal dan menutup wajah, lantaran pemahaman Sadiq tak sinkron dengan apa yang para fundamentalis di Indonesia percayai selama ini. Lucunya lagi, ada anggota dewan yang bersyukur melihat Sadiq menang di London. Anda pasti tau siapa anggota dewan yang saya maksud. Anggota dewan yang pernah dikirimi surat cinta oleh mas Alief Maulana.

Rasa terwakili juga tengah dirasakan oleh para penggemar Ahok garis keras yang membentuk diri menjadi Teman Ahok. Dalam pernyataan di halaman FB Teman Ahok, menyatakan, kemenangan Sadiq adalah kemenangan kaum minoritas. Kaum yang selalu terpinggirkan di tepi jurang demokrasi.

Teman Ahok mengambil benang merah antara Sadiq dan Ahok, yakni mereka sama-sama sering dipandang sebelah mata. Sadiq menjadi media legitimasi bagi Teman Ahok untuk melanggengkan langkah Ahok menuju DKI 1. Semangat minoritas membuai Teman Ahok. Mereka menilai Sadiq adalah momentum untuk ‘pembenaran’ bahwa seorang pemimpin itu dinilai bukan dari latar belakang agama, suku dan ras, melainkan dari kualitas pemimpinnya.

Imajinasi tinggi Teman Ahok terhadap Sadiq membuat mereka lupa bahwa Sadiq meraih mayoritas simpati warga London melalui pendekatan ‘kemanusiaan’. Pendekatan yang wajar, mengingat latar belakang Sadiq adalah seorang pegiat HAM. Lantas bagaimana dengan Ahok? Berbeda dengan Sadiq, Ahok terlihat minim melakukan pendekatan ‘kemanusiaan’ terhadap warganya.

Kejayaan Sadiq begitu menggelora, sampai-sampai membuat orang lain seperti merasakan kejayaan yang sama. Kejayaan Sadiq kini sudah dijangkiti ‘parasit’. Mereka-mereka yang mendompleng pesta kesuksesan. Menghisap saripati kejayaan hanya untuk kepentingan pribadi mereka saja.

Semua berpesta. Semua merayakan kejayaan Sadiq, tak terkecuali para fans Liverpool. Kenapa fans Liverpool? Para penggemar ‘The Reds’ sepatutnya gembira, karena Sadiq adalah seorang fans Liverpool. Bukan tim-tim yang berbasis di London macam Chelsea, Arsenal, Tottenham Hotspur, apalagi Fulham.

Apa yang terjadi pada Sadiq Khan dan Leicester bisa menginspirasi para calon pemimpin di negeri ini, termasuk Kokok Dirgantoro. Kabarnya mas Kokok ini sudah membentuk Teman Kokok, sebuah tim sukses dengan militansi tanpa batas, untuk mengusung blio sebagai calon presiden 2019.

Soal kemanusiaan? Jangan pernah meragukan mantan jurnalis yang juga gemar menulis dan kebetulan selebtwit nan tajir ini. Saya bukan Teman Kokok, bukan pula buzzer apalagi hater. Tapi, sejarah mencatat, siapa CEO di republik ini yang kasih cuti hamil 6 bulan kepada karyawan perempuan di kantornya? Saya rasa mas Kokok bisa menjadi capres idola mamah-mamah muda, dengan ketua tim sukses mbak Dian Sastro.

Tapi ngomong-ngomong, kalau Barack Obama pakai slogan #YesWeCan dan Sadiq Khan #YesWeKhan, lalu Teman Kokok dan Teman Ahok apa? #YesWeHok? #YesWeKok? Ah sudahlah, kenapa saya jadi pekok?

  • muherman harun

    Muherman Harun
    7:43pm Jul 20
    DEAR KAWAN-KAWAN PAK AHOK,
    Semua orang harus tahu: Kalau belum tahu, Pak Ahok tokoh Gubernur yang paling FORMIDABEL, FENOMENAL, FLAMBOYAN, FANTASTIK dan FUTURISTIK (5 F)!

    Pak Ahok ternyata telah menyabet dan memborong semua Piala penghargaan Anugerah Pangripta Nusantara (APN) 2016 yang ada dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sebagai provinsi terbaik di seluruh Indonesia!

    Pemprov DKI dinilai memiliki perencanaan terbaik, perencanaan paling Inovatif, perencanaan paling Progresif, serta pencapaian Millennium Development Goals (MDGs) tertinggi tahun 2015. Empat penghargaan sekaligus ini membuat pak AHOK kaget sebab baru pertama kali diperoleh dalam sejarah.

    Pak AHOK juga pemegang AWARD Yap Thiam Hien sebagai tokoh Indonesia yang sungguh bersih dari anti-korupsi. Di samping itu juga penerima GUS DUR Award untuk keberanian, kebersihan yang konsisten.

    Pak AHOK lengkapnya bernama BASUKI TJAHAYA PURNAMA atau BTP.
    B = Berani, Bersih dan Brilyan
    T = Transparan, Tegas dan Tuntas
    P = Profesional, Piawai dan Pahlawan (anti korupsi).

    Pak Ahok loyal terhadap semua warga ibukota, lebih dari pada terhadap partai politik (Gerindra, PDIP). Juga pada keyakinan dan agamanya.

    Beliau galak dan kasar teristimewa pada orang-orangnya yang mals, tak becus ngeyel terus, menghadap penipu, pencuri uang rakyat (para koruptor), Lebih baik kadang-kadang galak dan kasar, tapi anti-korupsi, ketimbang selalu sopan santun, tapi suk korupsi uang rakyat.

    Pak AHOK bukan SUPERMAN, melainkan pengayom masyarakat ibukota Seluruh jiwa raganya ditujukan guna menjadikan Jakarta MAJU Jakarta BARU! Berjuang terus, Pak AHOK Menuju DKI I.!

    Para Anak-anak, Remaja dan Pemuda mendambakan Pak AHOK menjadi suri teladan Pemimpin Panutan Bangsa Indonesia.