Teman Ahok, “Gangbang”, dan Berakhirnya Cinta Segitiga

Teman Ahok, “Gangbang”, dan Berakhirnya Cinta Segitiga

fanpop.com

Apa yang anda pikirkan ketika mendapati setumpukan kulit kabel yang mengendap di dalam gorong-gorong? Apakah anda berpikir sama dengan apa yang dipikirkan oleh Ahok?

Ahok tanpa ragu mengatakan kalau penemuan kulit kabel di gorong-gorong jalanan Jakarta adalah sebuah sabotase. Ahok berspekulasi bahwa ada segelintir orang yang sengaja merencanakan misi sabotase untuk membuat Jakarta tetap banjir. Mereka ingin mengambil keuntungan dari situasi tersebut.

Saya sebenarnya heran kenapa Ahok sampai berpikiran seperti itu. Mungkin Ahok baru saja habis nonton film ‘Non-Stop’ yang diperankan oleh Liam Neeson atau film-film Hollywood yang bertemakan sabotase lainnya.

Apa yang dikatakan Ahok bisa saja benar, tapi itu hanyalah sebatas spekulasi atau dugaan. Kalau hanya sekadar menduga-duga dan berspekulasi saya juga bisa. Spekulasi pertama saya adalah keberadaan kulit kabel bisa saja berasal dari sampah proyek pembangunan tertentu yang tidak rapi pekerjaannya, lalu terbawa arus air dan memampetkan gorong-gorong.

Spekulasi saya yang kedua adalah kulit kabel itu sengaja ditaruh oleh Ahok untuk memampetkan aliran air di gorong-gorong tersebut. Bisa jadi isu sabotase kulit kabel yang dilontarkan Ahok hanya menjadi pengalihan atas ketidakmampuan Ahok mengatasi jumlah genangan yang tersebar di sudut-sudut kota Jakarta.

Memang saya terdengar mengada-ada dengan spekulasi-spekulasi saya di atas. Akan tetapi, jika Ahok bisa berspekulasi dengan menyebutkan ada sabotase banjir di Jakarta, lantas kenapa saya, anda, atau kita semua tidak boleh berspekulasi pula?

Spekulasi hanyalah spekulasi, tergantung siapa yang berbicara. Kalau saya yang berspekulasi, pasti sedikit yang percaya. Namun, untuk sekelas gubernur DKI Jakarta seperti Ahok, berspekulasi bisa jadi dianggap benar dan dapat dipercaya, meski belum ada bukti konkret dan penyidikan lebih serius.

Sebagai seorang pemimpin seharusnya Ahok lebih berhati-hati berbicara, apalagi soal spekulasi adanya sabotase. Sebab akan ada banyak orang khususnya fans berat Ahok yang menelan mentah-mentah setiap kata yang keluar dari mulut si ngkoh. Bahkan tak sedikit yang membabi buta membela, meski hanya sekadar membela sebuah spekulasi yang kebenarannya masih samar-samar.

Ngomong-ngomong soal sabotase. Apakah Ahok tidak sadar kalau selama ini dia menjadi target sabotase yang dilancarkan partai politik dengan tujuan merusak kemesraan Ahok dengan Teman Ahok?

Kekhawatiran dan harap-harap cemas sempat dirasakan Teman Ahok. Sebab, kabar Ahok tengah menjalin hubungan yang mesra dengan sejumlah parpol berhembus kencang. Setidaknya ada beberapa parpol yang pernah dikabarkan siap dan bersedia menjadi kendaraan politik Ahok pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Salah satunya PDI-P.

Ahok bahkan pernah meminta Djarot Saiful Hidayat, kader PDI-P, untuk menjadi calon pedampingnya nanti. Namun, Ahok harus terlebih dulu meminta ‘restu’ PDI-P. Mekanisme mendapatkan ‘restu’ yang cukup lama itulah yang tak disepakati Teman Ahok, mengingat waktu pembukaan pendaftaraan cagub dan cawagub semakin mepet.

Keikutsertaan parpol juga bertentangan dengan semangat Teman Ahok, semangat independen. Teman Ahok tak rela, jika harus ada campur tangan parpol di dalamnya. Ditambah lagi Djarot juga terkesan takut keluar dari PDI-P, jika ingin mendampingi Ahok dan Teman Ahok lewat jalur independen.

Hati siapa yang tak remuk melihat seseorang yang tengah menjalin hubungan mesra dengan anda tiba-tiba berpaling dan menjalin hubungan yang cukup mesra dengan yang lain. Teman Ahok sudah lama menjalin hubungan mesra dengan Ahok.

Pengorbanan Teman Ahok untuk tetap setia bisa terlihat dari betapa gigihnya mereka mengumpulkan KTP warga Jakarta untuk mengusung Ahok sebagai calon gubernur independen. Memang menyebalkan sekali parpol yang tiba-tiba datang mengganggu keintiman Ahok dan Teman Ahok. Parpol menjadi orang ketiga yang memanfaatkan kelemahan Teman Ahok.

Teman Ahok tidak seperti parpol. Teman Ahok hanya kumpulan fans berat Ahok yang bercita-cita mengusung Ahok sebagai gubernur lewat jalur independen. Tidak seperti parpol yang terorganisir, berpengalaman memobilisasi massa, dan memiliki ‘senjata rahasia’ yang harus tetap menjadi rahasia.

Teman Ahok tampak seperti segerombolan warga yang bersenjata bambu runcing tanpa pengalaman berperang. Sedangkan parpol layaknya sekumpulan tentara dengan persenjataan lengkap dan berbekal pengalaman perang luar biasa.

Tapi akhirnya, Ahok lebih memilih Teman Ahok. Itu berarti Ahok akan menempuh jalur independen. Ahok bakal didampingi oleh Heru Budi Hartono, yang saat ini menjabat sebagai kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Pemprov DKI Jakarta. Sikap Ahok itu telah mengakhiri hubungan cinta segitiga, yang sempat terjalin antara Ahok, Teman Ahok, dan parpol.

Namun, badai belum berlalu. Selain harus mengumpulkan fotokopi satu juta KTP beneran – bukan bodong, sikap independen Ahok telah mengerucutkan konstelasi politik lokal di Jakarta. Sebuah kondisi vis a vis antara Ahok versus ABA (asal bukan Ahok), serta independen kontra parpol.

Ngkoh Ahok siap-siap saja dikeroyok parpol nantinya. Tak hanya parpol, aksi keroyokan juga bakal dilakukan oleh para bakal cagub lainnya, yang belum lama ini sudah bertekad menghadapi Ahok secara bersama-sama. Mulai dari musisi ganjen Ahmad Dhani, pengusaha berwajah sendu Sandiaga Uno, hingga professor yang gemar blusukan ke pasar dengan kaos bergambar Micky Mouse, Yusril Ihza Mahendra.

Di mata mereka, Ahok terlihat begitu ‘seksi dan menggemaskan’, sehingga harus di-‘gangbang’ secara politik di pilgub tahun depan. Anda jangan berpikir gangbang seperti di film Miyabi, Sora Aoi, atau bintang JAV lainnya. Maksud saya ‘gangbang’ di sini adalah mengeroyok secara bersamaan dalam sebuah birahi perebutan kekuasaan di Jakarta pada 2017.

Apakah Ahok bakal kewalahan dan tidak berdaya? Belum tentu. Ingat teori penzaliman? Semakin terkesan dizalimi, semakin warga bersimpati dan memberi dukungan? Apalagi, banyak orang sudah eneg sama kelakuan (oknum) partai. Pilihan Ahok lewat jalur independen bisa jadi tepat, meski berat.

Ahok ketika bersama Jokowi saat pilgub dan wagub DKI pada 2012, sudah berpengalaman soal itu. Mereka mencitrakan diri sebagai semut yang dizalimi oleh gajah. Ingat kata-kata ini, “Hati-hati di putaran kedua. Kita dikepung, dikeroyok gajah-gajah besar. Kita ini memang kayak semut lawan gajah-gajah besar. Gajah memang banyak, tapi semut lebih banyak lagi.”

Jokowi dan Ahok akhirnya memenangi pertarungan melawan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli, yang disokong banyak partai dan besar-besar. Hasil yang sama mungkin bisa dicapai oleh pasangan Ahok-Heru nantinya, kalau memang lolos persyaratan.

Tapi, badai juga belum berlalu. Parpol akan begitu berkuasa di parlemen, sehingga kebijakan Ahok-Heru, kalau menang, bakal terganggu. Kalau begini, siapa yang dirugikan? Ya warga Jakarta lagi. Jadi kapan Jakarta bisa benar-benar bebas macet dan banjir? Kapan pendidikan, kesehatan, perumahan, dan kepentingan warga lainnya diurus dengan benar?