Teletubbies dan Pikiran Kita yang Teler Abis

Teletubbies dan Pikiran Kita yang Teler Abis

blogesharing.com

Setujukah anda bahwa bangsa kita adalah bangsa yang miris humoris? Buktinya, kita mampu menghadapi apapun dengan tawa dan jenaka sebagai upaya menikmati sesuatu yang bikin kita pasrah dan mengelus dada yang diblur.

Senaif dan sepositif itukah kita terlahir sebagai sebuah bangsa? Saat hal buruk datang, kita selalu memandangnya dari sisi positif atau mengalihkannya pada pandangan lain. Semua demi tawa selebar-lebarnya.

Mungkin apa yang pernah saya baca di internet itu betul adanya: hidup bukanlah panggung sandiwara, tapi panggung stand-up comedy. Tujuan hidup adalah mencari tawa sepuas-puasnya. Kemudian membiarkan orang lain mengulangi humor yang sama sampai berhari-hari hingga semuanya bosan sendiri.

Beruntungnya, kita tak pernah kehabisan stok ‘komedian’, yang terus membuat diri kita terpingkal-pingkal atas apa yang mereka lakukan di atas panggung media. Baik media mainstream maupun media sosial.

Atau, kita memang diberkahi untuk menjadi sangat kreatif dan sangat berbakat untuk menjadi bangsa yang mampu menertawakan diri sendiri?

Untuk bangsa yang senang sensasi, maka hal ini sangat mudah terjadi. Tinggal ciptakan sebuah sensasi yang viral, maka semua orang membicarakannya. Siapapun bisa menciptakan sensasi!

Dan, menyaksikan mereka yang pro dan kontra adalah bonus keseruan dari fenomena ini. Makin kontroversial, makin jahanam sensasinya.

Hal ini, setidaknya, telah dibuktikan oleh mereka yang iseng mengembalikan humor Teletubbies dari kuburnya, setelah humor ‘kiri’ sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kejenuhan.

Tentu humor Teletubbies adalah hiburan alternatif kepada mereka yang tak terlalu mafhum atau tak ingin menjadi sotoy dengan humor sebelumnya. Dan, lagi-lagi, meme hadir untuk itu.

Hal ini kemudian menghidupkan dan meresapi teori agenda setting dan framing, yang pada praktiknya sudah biasa dilakukan oleh media mainstream. Tapi ini sedang diciptakan oleh media sosial. Dua teori ini saling berkaitan.

Teori agenda setting berbicara tentang bagaimana media mampu menonjolkan hal biasa menjadi hal yang penting. Sedangkan teori framing adalah cara membingkai sesuatu melalui sebuah pencitraan yang baik atau buruk.

Perihal bagaimana teknis media mainstream melakukannya, mungkin bisa membaca buku ‘Media dan Kekuasaan’-nya Ishadi SK, yang didasari oleh pengalaman beliau keluar masuk newsroom media-media di Indonesia pada akhir masa Orde Baru hingga awal masa Reformasi.

Namun, untuk media sosial, ini unik. Kita sendiri yang bisa menciptakan sensasi tersebut. Entah itu untuk resistensi terhadap arus media mainstream atau menciptakan sensasi yang benar-benar baru seperti Teletubbies.

Sensasi kemudian diciptakan dan membuat orang terus membicarakannya, meski tak terlalu paham-paham amat. Menjadi awam bukanlah batasan untuk ikut serta dalam euforia pengaktualisasian diri. Sekadar untuk menjadi bahan guyonan di warung kopi.

Tentu ada dua jenis humor yang kita mampu pahami dari apa yang terjadi saat ini. Humor yang menertawakan orang lain dan otokritik terhadap diri sendiri. Melakukan tindakan pengecut seperti schadenfreude atau menertawakan orang lain demi melindungi luka sendiri.

Atau, melakukan tindakan yang jantan dengan menertawakan diri sendiri. Membiarkan luka kita terbuka dan orang lain tertawa, sehingga akhirnya kita merasa biasa saja.

Namun, tawa pada prinsipnya sama: membiarkan kita merasa aman ataupun menerapkan aktualisasi diri di kehidupan masyarakat. Dan, media sosial adalah wujud alternatif yang segar sekaligus memuakkan terhadap sebuah fenomena.

Maka, atas itulah, mengapa saya bisa tertawa karena perpustakaan kemudian ingin membakar buku-buku, ataupun saat kampus kemudian memilih untuk ‘menertibkan’ seminar berbau ‘kiri’.

Dan, bisa tertawa lebih keras, karena memaknai meme-meme Teletubbies sebagai upaya penyegaran terhadap humor-humor yang pembahasannya kian merisaukan hati. Sebab, tertawa awal mulanya dari keresahan dan proses pemakluman terhadap suatu hal yang tak dapat kita ubah.

Namun, tawa juga mampu membuat perasaan kita miris, karena tawa dan duka adalah dua hal yang sangat berdekatan. Layaknya ujung bibir yang bisa dengan mudahnya turun ke bawah dan naik ke atas untuk membedakan apakah seseorang berbahagia atau tidak.

Dan, karena itu, ada saja orang yang selalu berupaya menyingkirkan tawa yang keras saat tawa itu terdengar di seluruh ruangan.

Perbedaan tawa dan duka adalah perspektif. Terkadang tak jarang kita mampu tersadarkan bahwa kita semiris itu saat kita tertawa. Begitu saja, tanpa sadar, proses berpikir itu berjalan dan membuat kita sedih menjadi orang Indonesia.

Apa yang tak bisa membuat kita galau dan tak terbebani saat menjadi orang Indonesia? Sekolah dan ngantor seharian, terjebak macet, dikejar deadline, masalah jodoh, dan kemudian harus memikirkan masalah dan mengawasi kinerja pemerintah? Ya, seberat itu.

Kendati demikian, tawa adalah cara yang paling baik mewaraskan pikiran, meski terkadang kita tertawa karena hal yang tak waras.

Oleh sebab itu, mengapa kemudian saya sumringah sekali dan tertawa mengenai humor Teletubbies. Humor Teletubbies, selain menyadarkan saya bahwa kita bangsa yang kreatif, juga menyadarkan kita bahwa hidup kita tak semiris itu.

Ia adalah wujud paling sempurna sebagai sebuah bangsa bagaimana cara bersembunyi di balik masalah bangsa dengan menertawakan hal lain.

Bahwa kita selalu melampiaskan kekesalan, bahkan kepada karakter yang disukai oleh anak kecil seperti Lala. Bahwa negara ini bisa menyembunyikan kesalahannya dengan menyalahkan orang lain – tanpa terfokus pada masalah utama: kesejahteraan bangsa.

Mungkin bertindak konyol dan membiarkan orang lain menertawakannya adalah cara terbaik untuk menyembunyikan sesuatu. Mungkin kita sudah teler abis, karena terus-menerus mengkonsumsi humor Teletubbies.