Teknik Jitu Menjadi Kaya Ala Tutu Pitu
SERIAL FIKSI MISTERI

Teknik Jitu Menjadi Kaya Ala Tutu Pitu

Ilustrasi (mongabay.com)

“Tamak ketika kaya dan putus asa ketika miskin adalah dua hal yang sama buruknya. Tetapi saya lebih memilih yang pertama.” (Tutu Pitu, Kaisar Trigan)

Dari kutipan di atas bisa saya pastikan bahwa anda tidak tahu siapa itu Tutu Pitu, tidak tahu kalau kutipan tersebut dibuat ketika Tutu Pitu sedang menikmati wiski, serta tidak tahu bahwa seorang Kanjeng yang bisa ‘menggandakan’ uang adalah pengepul kutipan Tutu Pitu dan menjadikan itu sebagai sandaran hidup.

Yang anda tahu mungkin hanya akhir kisah ketamakan sang Kanjeng, yang tak bisa disebut bahagia. Namun, perlu diketahui bahwa tak semua ketamakan berujung petaka. Mereka ada dan berlipat ganda. Maka, izinkanlah saya membagi cerita rahasia ini kepada anda.

Semua bermula dari perjalanan pulang saya dari Republik Mussoland – masihkah anda mengingatnya? Kombinasi aneh antara badai hormon serotonin dan ketiadaan teknologi untuk membangunkan pilot berikut co-pilot yang tertidur pada ketinggian 30.000 kaki, membuat perjalanan pulang saya tak sesuai harapan.

Pesawat milik paguyuban bangsa-bangsa yang saya tumpangi mengarah ke Utara dan bukannya ke Timur. Tak heran, bila pesawat itu akhirnya harus mendarat darurat di padang es mahaluas di Kutub Utara.

Setelah puas mengutuk pilot tersebut dan mengganti pakaian dengan yang lebih pantas dikenakan di daerah kutub, saya dan enam penumpang lain keluar dari pesawat dan mendapati dua orang asing berdiri di depan kami. Salah satu dari penumpang, seorang penerjemah dua lusin bahasa, mengajak mereka bercakap-cakap sambil terus menggeleng.

“Aku tak tahu apa yang mereka inginkan, artikulasi mereka buruk sekali,” ujar penerjemah itu kepada kami. “Tapi, ada dua kata yang kutahu maksudnya. Menghadap kaisar.”

Dua kata itu sudah cukup. Maka, dengan panduan dua orang asing tersebut, kami berjalan menembus padang es menuju istana kaisar. Letaknya tak begitu jauh, namun berjalan di atas es bagi orang tropis seperti saya adalah sesuatu yang sangat sulit.

Dan, penampakan istana itu merontokkan segala imajinasi tentang istana selama ini. Bentuknya separuh bola dan seluruhnya terbuat dari es. Ukurannya tak lebih besar dari mushola di kampung, dengan desain interior berupa gigi Walrus dan tanduk rusa kutub, serta tutup botol aneka minuman yang dipasang dengan citarasa seni yang norak.

Seorang pria tua berpenampilan mirip Gandalf duduk di singgasana yang juga terbuat dari es, lalu menyambut kami dengan santun. Ia kemudian memperkenalkan diri sebagai Kaisar Trigan, Yang Mulia Tutu Pitu, penguasa kekaisaran yang tak dilalui oleh waktu.

Ia telah hidup lebih lama ketimbang semua kaisar yang tercatat dalam buku sejarah, tetapi kini lebih miskin dari semua kaisar yang tersisa. Tutu Pitu ingin kami mendengar curhatannya, mungkin berpikir siapa tahu ada yang bisa dibantu.

Berhubung saya dan penumpang lain tak tahu apa yang mesti dilakukan, kami memutuskan untuk mendengarkan beliau. Tentunya dibantu oleh seorang rekan yang menguasai dua lusin bahasa baik kuno maupun modern, yang sejak tadi menyimak dengan serius.

Pada sesi pertama, Tutu Pitu memperkenalkan semua orang di Trigan. Jumlahnya hanya 10 orang. Mereka terdiri dari satu orang raja, satu permaisuri, satu putra mahkota, satu perdana menteri, satu istri perdana menteri, satu menteri perdagangan, satu menteri bioteknologi, satu jenderal, dan dua rakyat jelata yang bertugas sebagai penjaga gerbang kerajaan sekaligus polisi sekaligus tentara.

Jumlah penduduk Trigan tak berubah sejak dulu, dan itu hal yang wajar terjadi di daerah nirwaktu. Namun, sebelum saya sempat bertanya, Tutu Pitu langsung menginjak sesi curhatan kedua: masalah perekonomian.

Trigan dulu kekaisaran yang makmur berkat kesuksesan di bisnis ekspor rusa kutub. Daging rusa kutub telah lama dianggap sebagai daging bercitarasa surgawi. Namun, tibalah revolusi industri. Ketidakseimbangan antara jumlah cerobong asap pabrik dengan jumlah pohon menyebabkan kenaikan muka laut dan menenggelamkan habitat asli rusa kutub.

Rusa itu masih hidup di wilayah negara lain, tetapi untuk mengambilnya diperlukan kemampuan bernegosiasi, yang sayangnya, tak dimiliki oleh kesepuluh penduduk Trigan. Itu berarti tak ada lagi uang yang masuk ke kas Trigan.

Setelah dua jam curhat, Tutu Pitu bertanya kepada saya. “Wahai anak muda, dari mana asalmu?” Saya langsung menjawab dengan bangga, “Indonesia.” Tutu Pitu lalu memanggil perdana menterinya, dan mereka tampak berbisik. “AHAA, Indonesia!” ujar sang kaisar.

Tutu Pitu kemudian bertanya lebih jauh kepada saya tentang cara instan yang dilakukan sebagian orang Indonesia untuk bisa merdeka dari penjajahan kemiskinan, yaitu dengan mengambil pesugihan.

Tutu Pitu tampak tertarik dengan tuyul dan bertanya apakah ada cara agar makhluk itu tak hanya mahir menggasak recehan? Melihat kondisi kas negara, setidaknya diperlukan 14 abad bagi satu tuyul untuk melunasi semua utang Kekaisaran Trigan, dengan catatan tak ada inflasi tinggi selama itu.

“Hamba pikir hamba bisa melakukannya, Yang Mulia,” ujar menteri bioteknologi. “Hamba bisa memodifikasi susunan genetika makhluk itu, dan kita lihat serakus apa ia nanti.”

Bagi anda, usul menteri bioteknologi itu terdengar konyol, tetapi tidak bagi Tutu Pitu. Percayalah, orang yang sudah menjadi menteri bioteknologi jauh sebelum Plato dilahirkan tidaklah pantas diremehkan.

Hanya butuh tiga minggu untuk mendatangkan peti berisi delapan botol penuh tuyul dari Indonesia. Sementara itu, pesawat yang saya tumpangi telah selesai diperbaiki dan siap mengudara lagi, ketika menteri bioteknologi sedang menggarap megaproyeknya.

Saya telah berada di rumah saat satu surat dari Tutu Pitu datang dan mengabarkan keberhasilannya. Tuyul-tuyul itu berjumlah 48. Mereka amat lihai mencuri kas negara lain, membobol kartu kredit, dan merontokkan pasar saham.

Sebagai permulaan, Tutu Pitu tak tanggung-tanggung. Ia menempatkan ‘mesin uangnya’ di negeri para dewa. “… akhirnya aku bisa membeli wiski lebih banyak lagi, sahabatku,” tulis Tutu Pitu pada paragraf akhir suratnya.

Pengamat ekonomi mana pun sangat pantas untuk heran terhadap pemerintahan di negeri yang pernah jaya pada masa lampau tersebut. Bagaimana bisa negeri itu bangkrut ketika baru saja menerima pinjaman besar?

Sesungguhnya, pemerintah negeri setempat juga sangat pantas heran. Perampok model apa yang bisa menembus brankas bank sentral berbobot tujuh ratus ton dan menguras seluruh isinya tanpa merusak apa pun?

Keheranan mereka tak mengubah keadaan. Mereka gagal membayar cicilan utangnya tahun lalu. Selanjutnya, berita mengenai tumbangnya sektor perekonomian di pelbagai negeri muncul bagai air bah.

Tak butuh waktu lama, bursa saham di negeri bintang kuning mengalami gonjang-ganjing. Pemerintah setempat menuding spekulan saham di balik kekisruhan itu, meski spekulan boleh dibilang sama bingungnya dengan pemerintah.

Ketika nilai tukar rupiah terkena imbasnya dan menyentuh 14.000, saya menyurati Tutu Pitu agar ia sudi memindahkan apa pun yang bercokol di sana, jika ia masih menganggap saya sahabat. Dan, hasilnya, krisis pun mereda.

Kekaisaran Trigan telah lama bebas dari utang. Malah, kesepuluh penduduknya amatlah pantas dijejalkan ke daftar 10 orang terkaya di dunia. Surat yang datang berikutnya memberi kabar bahagia mengenai nasib dua rakyat jelata di Trigan yang kini memiliki kekayaan sebanding dengan APBD Jakarta.

Dengan semua kekayaan yang telah ditangguknya, amatlah wajar bila kita berharap Tutu Pitu menulis surat pensiun untuk pasukan tuyulnya. Namun, Tutu Pitu adalah seorang yang positivis. Ia paham benar bahwa tanpa uang hidup akan teramat susah dijalani, apalagi dengan hidup yang nyaris abadi.

Maka, ia menyuruh menteri perdagangan untuk menyempurnakan skema Ponzi. Itu semacam sistem penipuan investasi ciptaan Charlos Ponzi, dimana investor diiming-imingi keuntungan besar dengan satu langkah kecil. Skema ini cukup sempurna, sehingga para investor tak sadar kalau mereka dibayar dengan uang mereka sendiri.

Demi laba maksimal sekaligus meniadakan risiko, Tutu Pitu juga menyuruh menteri bioteknologinya untuk mengubah serangkaian DNA pasukan tuyulnya. Perpaduan sempurna antara kemampuan menghipnotis, bersilat lidah, dan melenyapkan diri, membuat skema Ponzi ala Tutu Pitu menangguk sukses luar biasa.

Investor malah tak dibayar sama sekali, kecuali dengan ucapan terima kasih dan iming-iming. Dan, anehnya, masih banyak orang yang percaya dengan iming-iming maupun hal-hal gaib.

Karena itu, saya pikir inilah waktu yang paling tepat bagi Tutu Pitu untuk pensiun. Orang buta angka pun tahu bahwa kekayaan Kekaisaran Trigan kini telah melebihi kekayaan negara-negara Uni Eropa digabung menjadi satu.

Tapi, ketika saya baru saja menyelesaikan surat berisi untaian nasihat untuknya, petugas pos datang. Ada surat dari Tutu Pitu.

Apa kabar, sahabatku?

Apabila kau tak menerima bingkisan kecil yang semestinya diserahkan kepadamu bersama surat ini, tolong catat nama petugasnya agar bisa kupastikan bahwa itulah pencurian terakhir yang ia lakukan.

Bingkisan itu berisi black diamond King Arthur, berlian langka yang sarat nilai historis tetapi tak berarti apa-apa bila dibanding dengan semua kebaikanmu. Kau bisa menjualnya lalu menggunakan uangnya untuk belajar setir traktor delapan roda seperti impianmu.

Nah, sahabatku, dengan menyesal kukatakan bahwa aku butuh sedikit bantuanmu. Kudengar di negaramu ada seseorang yang mampu menggandakan uang dan emas, dan kuharap dengan sangat agar kau mau mengirim orang itu kepadaku. Lebih bijak bila kau mengirimnya dalam keadaan hidup.

Bila kau setuju, dan pastinya kau setuju, pesawat penjemput akan tiba pada akhir bulan ini. Kau tak perlu ikut bersamanya, tetapi akan kupastikan bahwa tak ada celah sedikitpun di kabin pesawat itu yang tak diisi oleh uang. Kau bisa membeli sebuah pulau dan membajaknya dengan bahagia.

Salam hormat,

Yang Mulia