Tangisan Gus Mus, Nyanyian Jiwa Iwan Fals

Tangisan Gus Mus, Nyanyian Jiwa Iwan Fals

Gus Mus (republika.co.id)

“Menjeritlah… Menjeritlah selagi bisa… Menangislah… Jika itu dianggap penyelesaian.” Kata-kata itu merupakan penggalan dari lagu Iwan Fals berjudul ‘Nyanyian Jiwa’.

Lirik tersebut memang terkesan fatalistik, karena sebagian orang menganggap menangis itu sebuah tindakan putus asa. Orang tidak akan bisa mengubah nasib dan keadaan dengan menangis.

Namun, siapa sangka, apa yang terjadi di Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, memutarbalikkan anggapan tersebut. Tangisan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus mampu meredakan gontok-gontokan ala politikus Senayan yang terjadi di muktamar.

Dalam pidato yang terbata-bata dan berbalut tangisan, Gus Mus memohon semua pihak untuk mengakhiri polemik mekanisme pemilihan Rois Aam (pimpinan tertinggi) PBNU melalui Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA). Para peserta akhirnya damai.

Gus Mus sekaligus menjadi tokoh kunci yang menyelamatkan organisasi sosial dan keagamaan terbesar di Indonesia itu dari ancaman konflik kepentingan. Pemimpin Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Rembang, Jawa Tengah tersebut bahkan siap bertanggungjawab atas kekisruhan yang terjadi.

Gus Mus mengaku menangis, karena organisasi yang selama ini mengkritik keras praktik buruk politik di negeri ini ternyata digambarkan media-media sama saja. Sikap dan aksi Gus Mus tersebut sontak menuai pujian dari publik.

Terinspirasi Iwan Fals?

Tangisan Gus Mus membangkitkan memori para penikmat lagu Iwan Fals. Mungkinkah Gus Mus terinspirasi lagu ‘Nyanyian Jiwa’? Menangislah… Jika itu dianggap penyelesaian?

Itu mungkin saja, karena Gus Mus dan Iwan Fals punya ‘keterikatan jiwa’. Gus Mus dikenal sebagai kiai NU yang nyentrik, tapi berwibawa. Gus Mus juga salah satu budayawan dan seniman ternama di negeri ini. Sedangkan Iwan Fals adalah musisi legendaris. Profesi Iwan Fals sangat beririsan dengan Gus Mus.

Iwan Fals bahkan mengagumi Gus Mus. Selain penguasaan agama yang mendalam, Gus Mus juga dinilai piawai membuat puisi dan syair, serta humoris. Gayung pun bersambut, Gus Mus pernah memberikan sebuah puisi untuk dijadikan lagu oleh Iwan Fals.

Buah dari itu semua, maka munculah lagu ‘Aku Menyayangimu’. Lagu itu menjadi tanda kedekatan jiwa antara Gus Mus dan Iwan Fals. “Aku menyayangimu, karena kau manusia… Tapi kalau kau sewenang-wenang kepada manusia, aku akan menentangmu, karena aku manusia…”

Gus Mus yang satu angkatan dengan Gus Dur saat kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir itu juga menulis buku dan melukis. Gus Mus sangat kritis dengan fenomena yang berkembang di masyarakat.

Ketika goyang ngebor pedangdut Inul Daratista menimbulkan pro dan kontra, Gus Mus justru memamerkan lukisannya yang berjudul ‘Berdzikir Bersama Inul’.

Pada suatu ketika, Gus Mus pernah diminta menyampaikan puisi saat dia sedang ceramah. Suasana langsung hening. Gus Mus lalu beraksi, “Tuhan, kami sangat sibuk. Sudah.”