Tanggal 17 yang Keramat

Tanggal 17 yang Keramat

Ilustrasi (electricliterature.com)

Menjelang tanggal 17 setiap bulan, banyak orang serba bergegas: seliweran kampanye di media sosial, pergi ke kantor pos, memilah dan mengepak buku-buku dalam kardus.

Sejak free cargo literacy (FCL) berlaku di PT Pos Indonesia, tanggal 17 tiap bulan telah menjadi tanggal yang keramat. Saking agungnya tanggal itu, admin website Pos Indonesia bahkan sempat menyebut tanggal itu sebagai Hari Raya ‘Idul Pustaka’.

Ya, memang tanggal 17 setiap bulan, setiap orang dengan bebas dan gratis mengirim buku-buku ke taman-taman bacaan (TBM) yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sejak diresmikan pada 17 Juni 2017, FCL telah melahirkan tren di berbagai kalangan, terutama anak-anak muda. Mengirimkan buku-buku menjadi sebuah kegiatan yang dikampanyekan dan dipamerkan dengan bangga oleh ribuan orang setiap bulannya.

Mendukung perkembangan literasi telah menjadi bentuk aktivisme baru yang kekinian. Tentu saja hal tersebut baik adanya.

Disebut tren bukan berarti gerakan saling mengirim buku hanya subur di permukaan. Hal ini semacam puncak gunung es dari upaya bertahap melekatkan masyarakat Indonesia dengan budaya literasi. Berbagai program sudah coba digagas, terutama oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Program-program itu didorong oleh penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) yang sungguh menyentil. Hasil penelitian menyebutkan bahwa budaya literasi masyarakat Indonesia pada tahun 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara.

Adanya FCL ternyata tidak hanya membuat sirkulasi buku di Indonesia menjadi begitu mudah, tetapi juga membuat banyak orang tergerak untuk menyediakan tempat untuk membaca. Hingga kini, di seluruh Indonesia terdapat 2003 TBM yang siap jadi tempat berlabuh buku-buku.

Belum lagi dengan kehadiran Pustaka Bergerak Indonesia – sebuah jejaring warga untuk membangun kemandirian masyarakat di berbagai daerah. Mereka menyebarkan buku-buku di beberapa daerah dengan akses transportasi sulit dan tanpa perpustakaan umum.

Hal yang menakjubkan dari semua itu adalah kesukarelaan berbagai lapisan masyarakat untuk terlibat. Hingga mulai bermunculanlah para penjaja buku: Perahu Pustaka, Kuda Pustaka, Gerobak Pustaka, Kereta Pustaka, Pedati Pustaka, Ojek Pustaka, Motor Pustaka, Becak Pustaka, Ransel Pustaka, Sepeda Pustaka, dan Noken Pustaka.

Untuk Apa?

Lalu sebetulnya, untuk apa keleluasaan mengirim buku-buku itu? Bukankah banyak daerah di Indonesia masih kekurangan pangan, masyarakatnya kelaparan dan berumah bobrok – mengingat buku tidak bisa dimakan?

Kenyataan hidup memang pahit, saudara-saudara. Namun, segala penderitaan akan luput dari mata khalayak kalau masyarakat tidak bisa bercerita tentang dirinya sendiri, bahkan tidak dapat menentukan sikap terkait hidupnya. Di situlah fungsi dari buku-buku.

Membudayakan literasi adalah berarti membantu mengenal dunia yang bagi banyak orang sungguh mahal untuk dijamah. Menyuburkan budaya baca-tulis berarti mendorong masyarakat Indonesia untuk sanggup bercerita dan menuliskan sejarah diri sendiri dan narasi-narasi lokal.

Hal itu penting di Indonesia yang terdiri atas banyak pulau dan ragam budaya. Masyarakat – dengan caranya masing-masing dan mandiri – dapat membangun cerita dan pandangan pribadi tentang kenyataan sosial, politik dan budaya.

Termasuk juga mengungkapkan segala kesulitan, analisa-analisa, kritik-kritik, dan ideologi-ideologi yang sebelumnya tidak pernah diungkapkan, apalagi diketahui publik. Sesangar itu!

Apa mau dikata, pada intinya memang gerakan literasi bukan tentang kenyang perut, meski sama-sama terkait dengan kebahagiaan masyarakat Indonesia.

Membangkitkan budaya literasi tidak untuk dibandingkan dengan kebutuhan lain, seperti pangan dan papan. Ia punya sebuah tugas mandiri: membuat manusia dan suatu kelompok masyarakat bisa menentukan cara berekspresi.

Maka, mereka yang merasa lapar tak hanya merasakannya, melainkan dapat pula menyampaikannya.

Mereka yang dibalut kemiskinan tak hanya menangisinya, tetapi bisa juga membuat orang lain – di jarak ribuan mil dibelah lautan – bersimpati dan bergerak turun tangan.

Setelah Baca, Lalu Apa?

Membaca dan menulis menjadi fondasi utama keragaman dan kebebasan ekspresi. Untuk menjadikannya lebih lengkap, kemudian yang dibutuhkan bukan hanya buku.

Mungkin memang Indonesia sudah berhasil menuntaskan persoalan buta huruf – yang kini jumlahnya tinggal 2,07%. Tapi segala upaya hanya akan tinggal angka, jika ruang publik dalam masyarakat tidak berkembang.

Kita membutuhkan tempat yang sifatnya terbuka menampung segala macam kemungkinan. Keluasan bahan baca tentu berpengaruh terhadap keluasan pikir. Semakin banyak hal yang dibaca, maka semakin banyak pula hal-hal yang harus diperbincangkan.

Mau tidak mau, perkumpulan masyarakat harus siap untuk menerima itu. Walau sirkulasi buku lancar, tapi pikiran masyarakat masih tertutup terhadap pelbagai kemungkinan, ya percuma.

Tepat di situlah TBM dapat dikembangkan hingga daya maksimalnya. TBM menjadi tempat diskusi, saling bercerita, dan berkesenian. Sebab, tanpa semua itu, membaca buku mungkin takkan meninggalkan apa-apa.

Langkah kita untuk membudayakan literasi adalah upaya melatih kita untuk jadi pemberani. Berani belajar isme-isme, berani mendiskusikan sejarah bangsa, berani menerima perbedaan, berani menerima kritik, dan sebagainya.

Gerakan literasi tak sesempit sirkulasi buku yang apik, diskusi, dan ajar-mengajar, tetapi juga jaminan terhadap keterbukaan perkumpulan dan perserikatan di dalam masyarakat.

Setelah membaca, tugas kita terkait literasi memang masih banyak lagi. Dengan kata lain, FCL tampaknya masih merupakan langkah yang amat kecil. Aktivisme kita tidak bisa berhenti begitu saja di perkara gratis ongkir saja.

Tapi, paling tidak, dari sisi tanggal keramat ini kita bisa terus ingat bahwa selama ini telah mengalami keterputusan sebagai masyarakat suatu bangsa. Isi kepala yang berkualitas dan keluasan pikir hanya milik orang-orang yang dengan mudah menjangkau toko buku.

Buku-buku dibeli dan parkir sampai lapuk di lemari pemiliknya. Sungguh FCL perlu dimaknai sebagai sebuah titik nadir. Harusnya, pemaknaannya bisa melampaui charity sebagai gaya hidup kalangan menengah yang ingin meraih simpati publik semata.