Tanda-tanda Ridwan Kamil Seolah Dijadikan Seorang “Demi-god”

Tanda-tanda Ridwan Kamil Seolah Dijadikan Seorang “Demi-god”

warosu.org

Suatu waktu, saya pernah berbicara dengan salah satu dosen humas politik mengenai performa Ridwan Kamil dalam mentransformasi Kota Bandung. Ia mengatakan hal yang saya pun setuju bahwa kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, berhasil menjadi wajah Bandung. Ia mampu menjadi wujud paling ideal dari warga Bandung yang sebelumnya hilang entah ke mana.

Kang Emil memang menggambarkan wajah yang someah. Dan, Bandung jatuh cinta pula kepadanya. Ia seorang inovator dan figur yang sangat pantas untuk Kota Bandung. Atas keberhasilannya itu lah, ia masuk sebagai salah satu walikota terbaik di dunia.

Salah satu wujud yang inovatif adalah perencanaan kota. Bandung memiliki masalah yang kompleks yang tak mungkin kelar dalam 1001 malam. Bandung butuh pembangunan yang terencana, lalu kemudian taman-taman dihadirkan agar warga Bandung setidaknya bahagia dulu.

Ada Taman Film, Taman Jomblo, Taman Gesit, Taman Lansia, Taman Musik, dan masih banyak taman-taman lain yang memanjakan warga Bandung secara gratis. Jadi tidak melulu taman tetangga yang katanya lebih rimbun dari taman sendiri itu.

Kemudian kang Emil mulai masuk ke program renovasi sejumlah kawasan pejalan kaki seperti di Jl Riau dan Asia Afrika, lalu memperbaiki gulungan kabel yang kusut, dan membangun visi kota bak Silicon Valley. Kereta cepat Jakarta-Bandung dan monorel juga masuk dalam Masterplan ‘Paris van Java’ tersebut.

Bandung bukan lah Jakarta, yang jatuh cinta kepada gubernur bertipikal keras dan tegas seperti Ahok. Bandung, yang didominasi orang Sunda, memiliki kultur yang suka bercanda, santai, supel, dan tentunya cinta Persib.

Sadar bahwa Bandung butuh seorang figur yang dekat dengan warga, maka kang Emil melakukan hal-hal yang bikin takjub. Ia menunjukkan kecintaannya kepada Persib. Saya ingat bagaimana kang Emil kemudian menggundulkan kepalanya sebagai nazar jika Persib menang. Seluruh warga Bandung pun berdecak kagum.

Lalu, saya juga teringat ketika seorang teman menceritakan secara detil tentang kang Emil yang datang ke gereja saat natal. Ia duduk dan berusaha menghargai perayaan hari besar umat Nasrani tersebut. Meski terjadi polemik, kang Emil mampu mendinginkan suasana yang panas dengan jawaban yang berkelas. Ia adalah walikota Bandung dan sudah seharusnya peduli dengan seluruh warganya.

Belum lama ini, kang Emil juga mendukung acara pementasan monolog Tan Malaka untuk tetap berlangsung di Bandung, karena ibukota Priangan itu diklaim sebagai Kota HAM. Belum lagi urusan menata kawasan rawan kemacetan dan relokasi PKL seperti di daerah BEC atau di depan BIP.

Rasanya tak mungkin membereskan persoalan itu dengan cara yang keras. Pendekatannya harus supel dan humanis. Kalau perlu dengan guyonan. Jika anda mengikuti kang Emil di Instagram, anda bakal disuguhi humor-humor tentang jomblo.

Ia tetap berusaha menjaga sisi humanisnya sebagai walikota melalui media sosial. Humor jomblo, romansanya dengan Atalia – sang istri – serta kebanggaannya terhadap keberhasilan proyek bikin orang-orang tak tahan untuk menjebol notif komen dan like.

Unjuk rasa minta jodoh di Balaikota Bandung. (okezone.com)
Unjuk rasa minta jodoh di Balaikota Bandung. (okezone.com)

Namun, sebagai buah dari keberhasilannya dalam memanjakan warga Bandung, maka apapun yang ia katakan seolah-olah menjadi sebuah kebenaran. Cobalah sekali-sekali main social experiment, seperti mention ke akun blio dengan berkata, “Pak, kenapa Cimahi macet?” Ya siap-siaplah diserang oleh militan kang Emil, karena Cimahi adalah kota satelit dari Bandung.

Atau, soal aksi kang Emil yang katanya menampar seorang sopir angkot berpelat hitam. Semua orang tak ada yang marah, meski media massa sudah melakukan framing sedemikian rupa agar kang Emil terlihat buruk. Tapi kesalahan malah mengarah kepada sang sopir angkot, mengapa beliau melanggar peraturan?

Ia juga seringkali muncul sebagai pembicara dan semua orang kemudian mengerubunginya seperti semut dan gula. Konsekuensinya adalah kang Emil seolah-olah menjelma atau mungkin ‘dituntut’ oleh warga untuk menjadi seorang demi-god atau ‘manusia setengah dewa’.

Itu kenapa sering muncul permintaan yang aneh-aneh dari warga, yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang manusia biasa. Tahun ini saja, saya sudah menghitung ada tiga fakta kalau kang Emil ‘dituntut’ untuk menjadi seorang demi-god.

Mulai demonstrasi jomblo yang mendesak kang Emil untuk memberikan jodoh, netizen yang senewen meminta Bandung memiliki pantai buatan karena bosan hidup di daerah pegunungan yang dingin, hingga dorongan untuk menjadi gubernur Jakarta yang notabene adalah kota sejuta persoalan.

Warga Bandung boleh saja meminta jodoh dan perubahan kondisi geografis, tapi kang Emil tak memenuhinya. Sebab, sudah ada pantai buatan di Bandung, meski dikelola swasta sebagai wahana rekreasi. Jodoh pun sangat banyak tersedia, hanya saja mereka tak saling melihat. Tak ada yang meragukan kemolekan mojang Priangan. Para jomblo dan mereka yang ngebet ingin ke pantai tapi malas karena jaraknya jauh akhirnya hanya bisa manut-manut dan pasrah.

Sementara kang Emil? Pusing pala akang… Sebab, ia bukanlah demi-god yang sesungguhnya. Warga Bandung lah yang terlalu bergantung kepadanya. Kang Emil ya kang Emil. Memang begitu apa adanya. Jadi, boro-boro demi-god, ya kang… Yang ada demi-kian adanya.