Tanda-tanda Manusia Penghabisan

Tanda-tanda Manusia Penghabisan

gopego.com

Masih asyik berdebat di media sosial? Makin panas? Jika terasa panas, saya sarankan anda mengunduh aplikasi pendingin suhu linimasa agar sejuk, kalau ada.

Jika tidak mempan, silakan pasang aplikasi tambahan berupa pendingin pikiran manusia. Sebab, satu hal yang membuat diskusi sosial tak pernah punya solusi adalah tercapak eratnya struktur pikiran yang bebal nan banal.

Atau, berhentilah berdebat dengan orang yang gemar membentengi diri dengan institusi atau akidah tertentu yang melanggengkan perilaku amoral. Apalagi memakai dalil agama, kultur, dan pendidikan sebagai bantal sandar empuk untuk melesatkan panah penghakiman dan kebencian.

Agama itu sebenarnya baik, sebuah institusi mulia – tempat semua hal baik terangkum. Pun tradisi dan kebudayaan yang berisikan petuah-petuah mangkus demi keberlangsungan hidup umat manusia.

Orang yang hidup sesuai kaidah agama dan budaya takkan terperosok ke dalam pelbagai ekstremisme yang merisak dan meringsek tatanan hidup bersama. Dan tentu saja, semua akan senang, bila hidup dalam harmoni yang berbalut perasaan aman dan nyaman. Bukan begitu?

Namun, barangkali benar bahwa idealisme takkan pernah mencapai kesempurnaan. Dan, harapan seperti itu hanyalah sebuah ujaran laiknya peribahasa masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Selalu dirisak dengan ujaran, “Jadi orang kok idealis banget. Realistis aja bro, sis.”

Boleh jadi orang-orang yang dalam hidupnya suka cari perkara, membesarkan perkara, lantas menimbulkan keresahan publik, hendak mengafirmasi apa yang diujarkan Friedrich Nietzsche sebagai manusia penghabisan. Manusia yang tak lagi punya dorongan jiwa untuk mencapai keluhuran dan keagungan.

Figur manusia seperti itu hanya memikirkan dirinya sendiri dalam balutan slogan ‘kehendak untuk berkuasa’. Bahwa segala sesuatu di luar diri manusia itu menjadi tak penting, termasuk sesamanya, bahkan Tuhan sekalipun.

Itu karena manusia hanya akan berusaha untuk menjadi penguasa tunggal di alam dunia. Dan, untuk mewujudkan kehendaknya, orang lain mesti disingkirkan. Orang lain tak boleh dianggap sama sekali.

Tak dapat disangkal bahwa konflik, hasutan, ataupun vandalisme di ruang publik datang dari manusia itu sendiri. Ada benarnya juga Ralf Dahrendorf yang mengatakan bahwa kehidupan sosial tak luput dari konflik.

Namun, konflik dimaksud bukan merujuk pada manusia ‘memakan’ atau menista sesama manusia. Sebab, konflik seperti itu tak bisa dikompromi, dan tentu takkan punya konsensus baik seperti yang dimaksud sang sosiolog kenamaan Jerman tersebut.

Barangkali sebuah argumentasi bisa dikonfrontasikan di sini. Bahwasanya yang menjadi bom molotov kehancuran sebuah bangsa tidak terletak pada perbedaan agama, suku dan ras, atau perbedaan pilihan politik. Tetapi pada tumpulnya pola pikir yang sehat nan bernas.

Orang menjadi dangkal dalam melihat sebuah masalah justru menjadi pasukan garda terdepan untuk melancarkan serangan yang membunuh karakter sesama. Meninggalkan substansi persoalan, lalu mengaitkan sesuatu yang tak jelas itu lebih nista daripada sekadar salah dalam menjawab pertanyaan calon mertua.

Mungkin hati anda terkoyak dan hubungan anda dengan anaknya terancam. Tapi terkoyaknya daya berpikir kritis nan positif bisa menjadi ancaman bagi umat manusia.

Nalar sehat telah dikencingi oleh kebiadaban manusia yang mendaku dirinya beradab. Orang lebih gesit merespon sebuah isu tanpa verifikasi, kemudian menggembar-gemborkannya dengan memakai paradigme agama atau budaya sebagai tamengnya. Orang menjadi sangat mudah melontarkan kata-kata “Dia itu sudah salah, berdosa dia, kafir, rasis”.

Ruang-ruang publik secara implisit menjadi kotor oleh berbagai sikap distorsif seperti itu. Tak ada pelajaran berharga yang bisa didapat. Tak ada konsumsi pengetahuan yang baik. Sebab, sikap kritis telah menjelma jadi sebuah ketertutupan intelektual yang tak dapat diganggu gugat.

Dan, gagasan filsuf Karl Popper bahwa yang rasional itu kritis, dan yang kritis itu rasional hanya akan laku di tempat sampah. Tapi, mengobral sebuah gagasan dalam bingkai pesimisme sungguh tak mulia.

Tentu saja kita yakin bahwa masih banyak orang baik di negeri ini yang mau berpikir tentang perubahan. Orang-orang yang masih punya pemikiran kritis dan bijaksana dalam melihat sebuah kasus atau persoalan. Orang-orang reflektif yang mengurai masalah, kemudian menentukan sikap.

Dan, barangkali orang-orang seperti itu bukan mereka yang duduk nyaman di atas menara gading religiusitas dan intelektualitas. Bisa jadi orang-orang kecil nan sederhana yang kita temui di kebun, di pasar, di tempat-tempat pertunjukkan, atau di pojok jalan mana saja.

Terlepas dari ceracauan liar seperti itu, kesadaran diri tetaplah menjadi koentji. Tentu saja, kita punya cara masing-masing untuk menunjukkan kecintaan terhadap manusia. Oleh sebab itu, jika tak ingin didaku sebagai bedebah pembawa kebencian dengan langgam pikiran kerdil, bersikap bijaksanalah dalam menentukan sikap.

Tindakan yang tak beradab itu lahir dari pikiran yang tak beradab pula. Jadi, mari letakkan isi kepala anda pada tempat yang bukan sampah.

Salam damai dari kawasan timur Indonesia!