Tanam Paksa dan Terpaksa Cinta dalam Sebatok Kawa Daun

Tanam Paksa dan Terpaksa Cinta dalam Sebatok Kawa Daun

soetudjuh.wordpress.com

“Jadi sebetulnya itu teh atau kopi?” demikian pertanyaan saya kepada Ibu Yus, seorang penduduk Kabupaten Kerinci, Jambi, pada suatu perjalanan.

Pertanyaan itu terlontar lantaran Ibu Yus berkisah tentang daerahnya, Kecamatan Kayu Aro, yang merupakan salah satu wilayah penghasil kopi dan teh. Cerita beliau berlanjut soal kopi yang terbuat dari daun kopi. “Ada warung yang jual itu di sini,” katanya.

Saya yang sepertinya memang mudah dibuat penasaran sama kamu, berniat mencari kopi atau teh yang dimaksud Ibu Yus di Kerinci, sepulang mendaki Gunung Kerinci. Sayang, sisa waktu yang saya punya ternyata tak memungkinkan, karena harus meneruskan perjalanan ke Bukittinggi, Sumatera Barat.

Lucunya, menurut teman saya yang orang asli Bukittinggi, minuman tersebut justru merupakan khas kota itu. Di ranah minang, minuman teh atau kopi itu disebut Kawa Daun. Jadilah rasa penasaran saya berlanjut di Bukittinggi. “Kawa itu artinya kopi. Itu banyak di daerah Biaro, jalan perbatasan kota,” kata teman saya yang bernama Iis itu.

Masih dengan misi mencicipi Kawa Daun, saya, Iis, dan teman seperjalanan saat itu, Yessi, suatu malam menyambangi sebuah kedai bernama Dangau Kawa Daun di jalan raya Bukittinggi-Payakumbuh. Dangau – menurut Iis – berarti warung yang berada di  sawah. Tak sekadar nama, kedai itu memang berada di pinggir sawah.

Jika kita ngopi di kedai itu pada siang hari, pemandangan yang bisa dilihat adalah hamparan sawah hijau dengan latar belakang Gunung Marapi. Kayak gambar-gambar pemandangan bikinan anak SD dekade 90-an. Kalau datang malam, pemandangannya sawah kehitaman dan remaja-remaja nongkrong.

Kami duduk di bale-bale yang terletak di bagian belakang kedai. Saya memesan Kawa Daun orisinil, sedangkan Iis dan Yessi memesan Kawa Daun susu. Nah loh, udah bingung ini teh atau kopi, masih dibingungin juga sama susu.

Kawa Daun orisinil (blog.negerisendiri.com)
Kawa Daun orisinil (blog.negerisendiri.com)

Sebetulnya, kedai itu menawarkan varian Kawa Daun lainnya, yaitu Kawa Daun talua (telur). Namun, kami tidak tertarik, karena tak suka minuman teh telur atau kopi telur.

“Banyak yang bilang Kawa Daun susu itu rasanya mirip teh tarik,” kata seorang pelayan pada kami, saya lupa tanya siapa namanya, dan mari kita panggil saja dia, Uda.

Uda pun menuturkan, Kawa Daun dibuat dari daun kopi Arabica yang disangrai sampai berwarna hitam. Jadi tidak seperti daun teh biasa yang harus dijemur. Daun yang sudah kehitaman itu lalu diseduh dengan air panas.

“Kok lucu sih, orang bisa kepikiran bikin kopi dari daunnya gini. Emang ada khasiatnya, ya?” komentar saya.

Mendengar komentar saya itu, Uda langsung cerita kalau minuman itu konon tercipta di zaman tanam paksa. Saat itu, masyarakat tidak bisa menikmati biji kopi, karena semuanya harus disetor ke penjajah Belanda.

Karena hanya bisa menikmati daunnya, orang-orang pun lalu berkreasi dengan menyulapnya menjadi minuman mirip kopi. Si Uda juga bilang kalau Kawa Daun dipercaya bisa bikin awet muda dan mencegah stroke. Mungkin karena mengandung antioksidan.

Beberapa menit menunggu, datanglah tiga gelas, eh… tiga batok Kawa Daun pesanan kami yang masih mengepulkan asap. Ya, Kawa Daun disajikan di dalam mangkuk dari batok kelapa. Agar bisa berdiri dengan stabil, batok kelapa itu diganjal dengan potongan bambu.

Susu kental manis dan gulanya juga bisa diminta untuk disajikan secara terpisah. Tapi dipisahnya nggak jauh-jauh, kok, soalnya kalau jauh-jauh takut kangen. Halahh…

Saya dan Yessi sibuk mendokumentasikan minuman itu. Lampu yang remang-remang membuat kami sibuk nungging dengan berbagai posisi biar dapat foto yang bagus.

“Duh, generasi milenial,” cetus Iis melihat kelakukan kami.

“Eh, bukan apa-apa ya. Ini buat ditulis di voxpop.id. Bagusnya kalau ada fotonya kan,” seloroh saya.

Daun kopi/kawa (HerbalNewsPedia)
Daun kopi/kawa (HerbalNewsPedia)

Aroma Kawa Daun memang mirip harum kopi. Begitupun rasanya, meski sebenarnya agak labil sih. Kayak cinta di antara dua hati gitu. Dia berada di antara teh dan kopi. Tidak sepahit kopi dan tidak sekelat teh. Nah, dalam sebatok Kawa Daun, kita harus bisa mencintai keduanya secara bersamaan. Meski terpaksa, tapi… Ah, kenapa tidak?

Tapi sayang, kalau dicampur susu kental manis meski sedikit saja, rasa aslinya jadi sangat tersamar. Menurut saya, menikmati Kawa Daun lebih enak yang polos atau ditambah sedikit gula, biar manis-manis pahit seperti kenanganmu sama dia.

Di sela mangkuk-mangkuk batok kelapa, terselip dua piring makanan kecil yang biasa menjadi pendamping Kawa Daun. Makanan ringan itu terdiri dari gorengan seperti bakwan, tahu isi, pisang goreng, dan kue bika. Bagi yang belum tahu, kue bika di Bukittinggi adalah kue dari tepung beras dicampur kelapa parut dan diberi gula merah. Jadi, beda jauh sama bika Ambon.

Dua piring gorengan yang masing-masing berisi enam potong ludes kami makan. Tiga mangkuk Kawa Daun juga ludes menemani kami menikmati dinginnya malam sambil membicarakan kehidupan. Tsaahhh…

Soal harga, nggak perlu khawatir karena Kawa Daun di kedai ini sangat terjangkau. Total kami bertiga hanya membayar Rp 40 ribu untuk tiga Kawa Daun dan dua piring gorengan yang jujur saja saya lupa jumlahnya. Pantas saja kalau kedai ini dipenuhi dedek-dedek gemez anak sekolah dan mahasiswa.

Bagi kalian yang mau menikmati minuman hasil kreasi nenek moyang kita saat terjajah dulu, bisa menemukannya di kedai-kedai serupa di jalan raya Bukittinggi-Payakumbuh atau jalan raya antara Bukittinggi-Batusangkar.

Oh ya, jangan lupa bersyukur karena kita sudah merdeka, ya!

  • febri haryadi

    kampung halaman