Tan Malaka, Antara Panggung dan Pulang Kampung

Tan Malaka, Antara Panggung dan Pulang Kampung

Rombongan dari Lima Puluh Kota

Diburu, ditangkap, dipenjara.

Begitulah risiko perjuangan Tan Malaka dalam memerdekakan bangsa ini. Banyak orang mengaguminya, karena sikap beliau yang tidak kooperatif terhadap imperialisme, kolonialisme, dan segala bentuk penjajahan di muka bumi.

Bagi Tan, merdeka 100%. Titik!

Tan tidak mengenal kata negosiasi atau perundingan, seperti yang dilakukan oleh Soekarno cs. Sebab, Tan tahu betul watak penjajah yang tidak bisa dipegang janjinya. Selama masa revolusi nasional, ia banyak menghabiskan waktu dari penjara ke penjara.

Namun, setelah negeri ini merdeka – belum 100% – ia justru dimusuhi bangsa sendiri. Pria yang aslinya bernama Sutan Ibrahim ini dikejar oleh pemerintah saat itu, bersamaan dengan para pentolan PKI setelah peristiwa Madiun 1948.

Meski sejak awal Tan menentang keras tindakan konyol PKI, namun hawa politik yang panas menjebaknya  ke dalam situasi sulit. Serangan kepadanya datang dari segala arah, termasuk dari Belanda yang berhasrat ingin menguasai kembali Indonesia.

Hingga pada akhirnya, Tan harus mati di tangan bangsanya sendiri, bangsa yang begitu dicintainya. Perjuangan pria kelahiran Pandam Gadang, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat itu tuntas di sebuah desa kecil di lereng Gunung Wilis.

Selopanggung, namanya.

Selopanggung adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Semen, Kediri. Pusara pahlawan nasional itu berada di dasar lembah yang sunyi, jauh dari akses jalan desa. Di dekat bongkahan batu berukuran raksasa (Batu Jagul), terseliplah makam Tan Malaka di antara makam penduduk setempat.

Riwayat kematian Tan sempat disembunyikan oleh penguasa selama beberapa dekade. Bahkan dihapus dari catatan sejarah bangsa ini. Baru beberapa tahun silam, seorang sejarawan asal Negeri Kincir Angin bernama Harry A Poeze memastikan keberadaan jasad Tan. Negeri ini seolah tersadar dari tidur panjangnya.

Sebetulnya ada dua lokasi yang diduga makam Tan Malaka. Tak jauh dari makam yang terletak di Selopanggung, ke arah timur ada sebuah desa bernama Petok. Di situ juga terdapat makam Tan. Bahkan, pada 2003, Gerakan Pemuda Ansor beserta Forum Ilmu Hukum dan Forum Peneliti Muda NU sudah mendirikan Tugu Tan Malaka di tempat itu.

Sementara pihak keluarga bersama Tan Malaka Institute juga melakukan pencarian terhadap keberadaan makam Tan Malaka. Didukung oleh hasil penelitian Harry A Poeze berikut petunjuk mimpi yang diperoleh setelah melakukan proses ritual adat, keyakinan mereka mantap bahwa jasad Tan berada di Selopanggung.

bukuonlinestore.com
bukuonlinestore.com

Pada 2007, atas inisiatif keluarga, makam Tan dipugar. Saya pun menduga, munculnya wacana membawa pulang jasad Tan Malaka oleh keluarga tidak terlepas dari keprihatinan mereka terhadap kondisi makam.

Bayangkan, di sebuah negara yang katanya sangat menghargai jasa-jasa para pahlawannya, seorang pahlawan nasional yang semasa hidupnya lantang menentang imperialisme dan kolonialisme, dibiarkan tergeletak begitu saja. Onde mande, indak elok bana…!

Membawa pulang jasad Tan oleh keluarga bisa jadi sebentuk sindiran ‘jas merah’, jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Dan, hari itu telah tiba. Pada 21 Februari 2017, tepat 68 tahun setelah kematiannya pada 21 Februari 1949, keluarga Tan Malaka dan rombongan Wakil Bupati Lima Puluh Kota Ferizal Ridwan melakukan penjemputan untuk membawa pulang Tan Malaka ke kampungnya.

Penjemputan dilakukan dengan simbolisasi pengambilan tanah makam di Selopanggung. Jadi, bukan pemindahan secara fisik. Jasad Tan tetap terbaring di Selopanggung. Meski begitu, sebongkah tanah cukup mewakili dan bagian dari penyempurnaan ikatan batiniah antara mendiang dan ahli waris.

Tanah dari Selopanggung akan disandingkan dengan makam ibunda Tan Malaka, yang akan dibangun dalam sebuah kompleks museum di Pandam Gadang, Kabupaten Lima Puluh Kota.

Masyarakat Kabupaten Lima Puluh Kota sebenarnya ingin memboyong makam Ibrahim Datuk Tan Malaka ke kampung mereka, namun urung dilakukan demi menjaga hubungan baik dengan masyarakat Kediri yang menginginkan makam Tan di Selopanggung.

Ini seharusnya menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten Kediri untuk mengembalikan marwah (makam) Tan Malaka kepada posisi yang selayaknya. Tan Malaka adalah korban dari ketidakadilan sejarah, yang mesti diluruskan. Itu…

Tan Malaka boleh saja pulang kampung ke Lima Puluh Kota dan makamnya di Selopanggung dibuat sebuah monumen keabadian, tapi yang terpenting adalah merekonstruksi sejarah pahlawan nasional dan Bapak Republik Indonesia itu. Tidak dilebih-lebihkan, juga tidak dikurang-kurangi.

Sudah bukan waktunya lagi memperkarakan jasad pengarang buku Madilog dan Gerpolek tersebut. Letak urgensinya adalah bagaimana menciptakan kembali diskursus-diskursus tentang semangat perjuangan dan pemikiran Tan Malaka, terutama mengenai kemerdekaan 100%.

Hari ini, kita semua tahu, segala bentuk penjajahan berubah dalam wujud yang berbeda, dengan para pelaku yang berbeda pula. Ruang demokrasi di negeri ini pun terancam oleh kelompok-kelompok sektarian yang mengancam eksistensi kebhinekaan.

Kepada ahli waris, ikhlaskanlah. Tan Malaka sudah menyerahkan segenap jiwa raganya untuk kepentingan bangsa. Beliau sudah tenang beristirahat di tanah Kadiri, dan kini sudah ‘pulang kampung’ ke Lima Puluh Kota.

Lima Puluh Kota tetaplah menjadi kampung…

Selopanggung tetaplah menjadi panggung…

Seperti yang dikatakan Tan, “Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.”

Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu anhu wa akrim nuzulahu…

Merdeka 100%!