“Tan, Baik-baik Sajakah Kau di Sana?”

“Tan, Baik-baik Sajakah Kau di Sana?”

Rekian Reki (Dok)

Jalan ini panjang, Tan.

Peluh revolusi yang mengalir di tubuhmu,

bermuara di lembah ini, rupanya

Di lembah yang sunyi di kaki Gunung Wilis, sekelompok kecil anak muda bersusah payah mencapai makam Tan Malaka. Mereka melewati jalanan berbatu yang curam, sebab letak pusara Pahlawan Nasional itu berada di dasar lembah, jauh dari akses jalan Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kediri.

Namun, pada hari itu, Lembah Selopanggung berubah menjadi panggung. Tiga gadis muda memperagakan tarian kontemporer dan pembacaan puisi di makam Tan Malaka, yang merupakan bagian dari teatrikal bertajuk ‘Yang Dilupakan’.

Dibayangi awan mendung yang bergelayut ketika itu, lirik-lirik puisi berjudul ‘Tan’ menggema ke seisi lembah – antara bunyi gemericik air sungai yang mengular di sisi timurnya dan kesiur angin yang datang dari kaki gunung. Kata demi kata seolah melompat menyusup ke sela-selanya.

Langit kita masih mendung.

Gerimis tak kunjung turun untuk hadirkan wajah pelangi,

sedangkan senja t’lah lama merindu.

Malam datang dengan senyumnya yang masih pekat.

Tan, baik-baik sajakah kau di sana?

Di sini kuntum doa mekar untukmu.

Apa sebab sekelompok kecil anak muda mementaskan karya di lokasi yang tidak lazim tersebut? Pementasan yang belakangan hari ternyata direspon oleh sebagian kalangan sebagai sesuatu yang tidak pantas. Mana ada seni dipentaskan di makam?

Rekian Reki (Dok)
Rekian Reki (Dok)

Lembah Selopanggung di kaki Gunung Wilis hadir menjadi saksi abadi, betapa ketenangan di dalamnya ternyata menyimpan sejumput narasi penting tentang perjalanan bangsa ini. Tan Malaka, sang revolusioner sejati, menutup kisah hidupnya tanpa sebagian besar generasi muda di negeri ini yang tahu.

Bapak Republik Indonesia tersebut barangkali ditakdirkan kesepian sampai akhir hayatnya. Ia dikejar-kejar bangsa asing, dimusuhi bangsa sendiri, menghabiskan hari dalam kesendirian, menyusur waktu sebagai seorang pelarian tak berumah.

Lembah Selopanggung menjadi ruang peristirahatannya yang kekal. Sebongkah batu kali telah didaulat sebagai monumen waktu. Perut bumi di bawahnya mendekap mesra sesosok anak bangsa, yang seumur hidupnya merelakan jiwa, raga, dan pemikiran-pemikirannya untuk bangsa yang dicintainya ini.

Tan Malaka yang aslinya bernama Sutan Ibrahim diburu oleh pemerintah, bersamaan dengan para pentolan PKI setelah peristiwa Madiun 1948. Musso dan Amir Sjarifuddin harus meregang nyawa oleh peluru para serdadu. Tidak terkecuali Tan.

Meski sejak awal Tan menentang keras tindakan ‘konyol’ PKI, namun hawa politik yang panas saat itu menjebaknya  ke dalam situasi sulit. Serangan kepadanya datang dari segala arah, termasuk dari Belanda yang berhasrat ingin menguasai kembali negeri jajahannya ini.

Sedikit orang yang mengetahui akhir perjalanan Tan Malaka di Lembah Selopanggung, kaki Gunung Wilis, Kediri. Ironisnya lagi, narasi tentang Tan dihapus dari catatan sejarah. Setelah berakhirnya era Soekarno, pemerintahan Orde Baru yang dikendalikan Soeharto dengan beringas membumihanguskan apa yang pernah menjadi kontribusi kelompok kiri terhadap negeri ini.

Sampai-sampai, jika sodara-sodari ke Kediri misalnya, kalau tidak pintar-pintar mencari informasi seputar keberadaan makam Tan Malaka ke orang yang tepat, rasanya sulit untuk bisa menemukan lokasinya. Identitas Tan terkubur bersama dengan pusaranya yang jauh dari pusat keramaian.

Sejarah telah mencatat, Kediri yang merupakan kota kelahiran Musso tergolong daerah ‘merah’. Pasca peristiwa G30/S, daerah dengan jumlah korban terbanyak, ya salah satunya di Kediri. Dalam buku ‘Palu Arit di Ladang Tebu’, yang sarat mengungkap data-data, Hermawan Sulistyo menyebut Kediri sebagai daerah paling parah yang terkena dampak tragedi 1965.

Sejalan dengan buku tersebut, seorang generasi tua – tetangga tempat saya mondok di Kediri – sempat bercerita tentang kondisi Sungai Brantas yang membelah wajah Kediri menjadi dua bagian, berubah warna menjadi merah karena darah. Hampir setiap hari, katanya, selalu saja ada potongan-potongan tubuh yang mengambang.

Rumah Tan Malaka di Koto tinggi, Sumatera Barat (Republika/Tahta Aidilla)
Rumah Tan Malaka di Koto tinggi, Sumatera Barat (Republika/Tahta Aidilla)

Tahun 2009 silam, Harry Poeze – sejarawan yang fokus meneliti perjalanan hidup Tan Malaka – datang ke Lembah Selopanggung. Ia melakukan penggalian ulang makam untuk memastikan jasad yang ada di dalamnya.

Di tengah kontroversi soal makam Tan Malaka yang sebenarnya, Harry Poeze seolah memberi sinyal dalam bentuk lain terkait kealpaan orang-orang di negeri ini dalam memberikan tempat yang layak bagi pejuang bangsa.

Tan Malaka adalah sosok yang dikecualikan; dilupakan; ditinggalkan; diabaikan, dan lebih tragis dari itu semua adalah dihilangkan dari narasi sejarah negeri ini.

Lepas dari itu semua, sebuah pertanyaan patut kiranya diajukan, yaitu adakah upaya merekonstruksi sosok Tan Malaka agar kembali diikutsertakan ke dalam lembaran sejarah kita yang (di)hilang(kan)? Bukankah itu lebih bijak ketimbang sekadar berwacana ria tentang persoalan jasadnya tersebut?

Negeri ini terlalu sibuk mengutak-atik ‘siapa’, sementara ‘apa’ yang mestinya menjadi sesuatu yang lebih substantif diabaikan, kemudian dipendam ke dasar ketidakmautahuan.

Kegagalan kita untuk memahami riwayat negeri ini sesungguhnya berangkat dari keegoisan, ditambah kemalasan dalam mendalami seberapa luas bentangan samudera sejarah. Dampak dari itu semua jelas terpampang: kita buta.

Namun, untuk bisa melek sejarah, tak ada istilah terlambat. Setidaknya itu tampak dari buku-buku karya beliau yang mulai dibaca banyak orang. Sosoknya menjadi inspirasi sekaligus motivasi menentang tirani. Tujuannya jelas: Merdeka 100%!

Itu yang Tan Malaka peringatkan dari lembah ini.

“Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.”