Kenapa Orang Indonesia Takut dengan Seks?

Kenapa Orang Indonesia Takut dengan Seks?

Ilustrasi (pexels.com)

Mungkin karena kita tidak memiliki pendidikan seks yang memadai. Apalagi, bukannya mengembangkan kurikulum pendidikan seks yang menyeluruh dan memadai, pemerintah justru perang besar-besaran melawan seks.

Melalui Rancangan KUHP, pemerintah hendak merebut otonomi tubuh dan mengkriminalisasi seks. Hubungan seks dengan konsen alias suka sama suka akan diganjar penjara. Bahkan, pemerintah tak hanya memerangi mereka yang berhubungan seks, tetapi juga termasuk memerangi kampanye penggunaan alat kontrasepsi.

Sebegitu takutnya bangsa kita dengan seks.

Ketakutan itu diimplementasikan dalam Pasal 484 RKUHP yang memperpanjang pengertian zina. Sebelumnya, zina hanya merujuk pada pasangan menikah yang berhubungan seks dengan bukan pasangannya.

Namun, RKUHP mengubahnya menjadi semua bentuk hubungan seks di luar perkawinan. Perkawinan dalam undang-undang ini hanya merujuk pada bentuk dokumen legal yang diakui negara Indonesia. Jadi, nikah siri nggak dihitung. Bersiap-siaplah dibui dengan hukuman maksimal lima tahun penjara.

Sementara, dalam kasus pemerkosaan, korban sering kali disalahkan dan pelaku tidak mendapat ganjaran. Lha, kita secelup dua celup dengan konsen bersama pasangan, bisa dipenjara lima tahun.

Pasal 484 ayat dua mengatakan bahwa pihak ketiga dapat melaporkan perilaku zina ini kepada pihak yang berwenang. Prosekusi akan dijalankan berdasarkan aduan dari pihak ketiga ini. Namun, tidak ada penjelasan memadai mengenai siapa pihak ketiga yang dimaksud dan bagaimana bentuknya.

Kabar baiknya, kalau kamu cemburu sama pacar barunya mantan, maka kamu bisa stalking mereka dan laporin aja ke polisi saat mereka lagi ML. Atau, kalau kamu kesel kecengan nggak putus juga sama pacarnya, ya tinggal laporin juga mereka ke pihak berwajib. Warbyasak, kan?

Kabar buruknya, kamu juga bisa jadi korban. Masih ingat beberapa waktu lalu pasangan yang bahkan nggak sedang indehoy juga digerebek warga, lalu diarak bugil?

Nah, besok kamu bisa juga digituin pas lagi nengokin temen yang sakit dan kebetulan berduaan doang di kosan. Nggak peduli teman kamu itu lawan jenis atau sesama jenis, kamu bisa dipenjara. Akhirnya, para perisak yang hobi nelanjangin orang itu punya dasar hukum yang jelas untuk melegitimasi tindakan mereka, yes.

Pasal ini juga akan lebih merugikan bagi kelompok-kelompok miskin dan marjinal. Orang kaya yang tinggal di kondominium lantai 35 di bilangan Senopati sih santai-santai aja mau indehoy kapan juga. Siapa yang berani ngegedor unit apartemen mewah nan eksklusif? Belum apa-apa, yang niat ngegedor udah diusir satpam dan polisi duluan.

Yang bakalan lebih sering kena gedor ya tetep kaum miskin kota yang tinggal di kampung-kampung sisaan yang belum digusur. Sebab itu, selama belum mampu tinggal di tower mahal, kita harus menolak peraturan ini.

Selain itu, mereka yang sulit menikah secara legal dan hanya melakukan nikah berdasarkan adat masing-masing, termasuk nikah agama dan nikah siri, juga akan menjadi kelompok yang terugikan. Hal ini juga menjadi dilema karena menikah di Indonesia tidak melulu mudah.

Mereka yang agamanya tidak terdaftar sebagai agama resmi, atau memiliki agama yang berbeda dengan calon pasangan, sering kali sulit untuk dapat melangsungkan pernikahan.

Misalnya, saya sudah menikah dua tahun lalu di Amerika, namun untuk mendapatkan legalisasi dari pemerintah Indonesia susahnya minta ampun. Jadi, begitu sampai di Indonesia, karena belum ada surat dari catatan sipil, berarti kami tidak terhitung suami istri dan boleh digrebek?

Lebih ngawur lagi, peraturan ini juga mengangkangi perlindungan anak dan perempuan. Selama korban tidak bisa membuktikan tindakan pemerkosaan, maka pelaku pemerkosaan bisa saja mengaku perbuatan tersebut adalah hubungan seks dengan konsen alias suka sama suka demi menghindari hukuman yang lebih berat.

Ketika hal itu terjadi, maka korban pun akan menjadi tersangka dan ikut dihukum bersama pemerkosa.

Lebih mengerikan adalah ketika hal ini terjadi pada anak di bawah umur. Pasal zina pada RKUHP tidak menentukan batas usia, sebab itu ketika seorang pedofilia memperkosa anak-anak, bukan tidak mungkin dia akan mengintimidasi si anak agar mengaku bahwa perbuatan tersebut adalah suka sama suka.

Seks bertanggung jawab

Tentu saya setuju pada pilihan seks yang bertanggung jawab dan setia pada pasangan. Dalam ukuran kesehatan fisik, seks yang bertanggung jawab dengan satu pasangan saja adalah pilihan yang lebih disukai.

Namun, apa iya seks dalam pernikahan sudah pasti bertanggung jawab dan seks di luar pernikahan sudah pasti tidak bertanggung jawab?

Pendidikan seks yang menyeluruh dan memadai akan memberi jawaban dari pertanyaan tersebut, termasuk juga menjawab apa itu seks yang bertanggung jawab.

Pendidikan seks juga terbukti lebih efektif untuk menghindarkan perilaku seks yang tidak bertanggung jawab, menunda usia berhubungan seks pertama kali, menurunkan angka kehamilan remaja, dan menurunkan penularan penyakit kelamin termasuk HIV dan AIDS.

Banyak orang berpikir bahwa pendidikan seks hanya berhubungan dengan penetrasi penis ke vagina. Secara parsial, anggapan tersebut tidak salah. Namun, logikanya, apakah kita akan langsung mengajarkan persamaan diferensial kepada murid TK yang baru bisa menyebutkan angka satu sampai lima?

Tentu dalam pendidikan seksual akan diajarkan cara memasang kondom. Persoalannya adalah kepada siapa cara memasang kondom akan diajarkan? Kurikulum pendidikan seks tentu disesuaikan dengan usia dan kultur.

Misalnya, cara membersihkan vagina dan penis yang benar setelah membuang air kecil dapat diajarkan kepada murid TK. Lalu, saat kelas 5 atau 6 SD, pendidikan seksual akan membahas soal perubahan fisik remaja: semakin menonjolnya jaringan payudara, pertumbuhan rambut halus, menstruasi, dan mimpi basah.

Pada usia-usia selanjutnya, pendidikan seks juga akan membahas bagaimana menyikapi hasrat seksual dengan bertanggung jawab supaya nggak asal nyelup, juga supaya nggak nyelup terlalu muda. Pelajaran-pelajaran ini tentu dibutuhkan sebagai life skill bagi anak.

Jadi, sampai kapan kita perang melawan seks, alih-alih menghadirkan pendidikan seks yang menyeluruh?

3 KOMENTAR

  1. Maaf mungkin anda terlalu lama tinggal di luar negeri dan sudah terbiasa dengan pikiran orang barat kalau seks diluar nikah itu oke oke aja, tapi km harus sadar dimana kamu sekarang, di indonesia negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia dimana seks atau “ZINA” itu merupakan DOSA BESAR, jadi sebagian orang indonesia bukan takut seks karena kurangnya pendidikan seks, tapi sudah dari kecil di ajarkan untuk menjauhi yg namanya zina, begitu mbak mas author.

    • Halo Rahmah, seks di luar hubungan pernikahan yang bertanggung jawab, adalah ranah pribadi. Negara tidak berhak mengurusi dosa warga negaranya. Negara berhak mengurusi persoalan seks yang tidak bertanggung jawab baik dalam pernikahan maupun di luar pernikahan. Misalnya saja perkosaan dalam pernikahan dan di luar pernikahan, juga kekerasan dalam pernikahan dan dalam pacaran. Nah, untuk mencegah hal semacam ini, termasuk juga mencegah zina dalam bahasa yang digunakan Rahmah, dibutuhkan adanya pendidikan seks yang komprehensif. Pendidikan seks yang komprehensif terbukti menghindarkan anak muda dari kegiatan seksual terlalu dini, jika dibandingkan pendidikan yang mengedepankan abstinence only, alias sekadar melarang seks tanpa dibekali ilmu.

      Oya, saya lebih sering dan lebih lama tinggal di Indonesia 🙂

  2. Untuk Rahmah yo:
    “Di Indonesia negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia” mas ini negara bukan negara islam. Merusak diri sendiri dengan merokok juga dosa, minum minuman keras juga dosa besar, makan babi juga dosa besar, meninggalkan sholat juga dosa besar, pernah liat orang muslim ditangkap gara2 melakukan hal ini? Ngga, karena itu pilihan mereka. Sama halnya dengan seks yang consensual. Negara ga seharusnya campur tangan dengan keinginan seseorang untuk berbuat dosa. Please ga perlu menganalogikan dengan pembunuhan/pemerkosaan, karena itu udah jelas masuk pidana dan jelas berbeda. Poinnya, tidak semua dosa harus dijadikan pidana.

    “Sebagian orang Indonesia bukan takut seks karena kurangnya pendidikan seks, tapi sudah dari kecil diajarkan menjauhi yang namanya zina.” Mas, saya juga yakin lebih dari 80% orangtua mengajarkan anaknya menjauhi rokok, bahkan orangtua yang merokok pun memarahi anaknya yang merokok. Buat keluarga yang agamis pasti menyatakan merokok itu dosa. Nyatanya orang2 santai aja kalo ngomongin rokok begitu menginjak usia remaja. Bangunan2 sudah mulai menyediakan area khusus untuk merokok, dan denda hanya diberikan bagi yang merokok di luar area tersebut. DOSA sudah digantikan dengan isu isu yang lebih mengarah ke kesehatan, hak dan kewajiban sebagai perokok, dan hak untuk tidak jadi perokok pasif. Apa yang beda disini? Karena banyak pendidikan dan penyuluhan akan bahaya merokok baik aktif dan pasif.

    Bandingkan dengan seks dimana kita tidak diajarkan tentang bahaya penyakit seks menular, pentingnya kontrasepsi, apa yang menyebabkan kehamilan, dan konsekuensi yang harus dihadapi bila akhirnya terjadi kehamilan di luar nikah. Ini yang membuat seks menjadi tabu, karena dosa menjadi satu2nya perspektif kalo berbicara tentang seks, bukan tentang kesehatan atau aspek lainnya. Dalam hal ini, orang yang memutuskan untuk aktif secara seksual (bodo amat dengan agama) akan mengerti bahaya penyakit seks menular dan yang disebutkan diatas. Orang yang peduli akan agama akan lebih kuat dengan pendiriannya (karena konsekuensinya ga cuma dosa). Bukannya itu baik untuk keduanya? Dan masyarakat pun bisa lebih menghargai pilihan pribadi seseorang, selama dilakukan di area tertentu (ranjang sendiri, tidak di publik), sama seperti halnya rokok.

    Oh dan saya bukan orang yang lama tinggal di luar negeri, ataupun orang yang pernah melakukan hubungan seksual. Saya “agama mayoritas” juga sama seperti anda.

TINGGALKAN PESAN