Taktik SNSD dan Pesan untuk Grup Cewek-cewek Molek

Taktik SNSD dan Pesan untuk Grup Cewek-cewek Molek

superadrianme.com

S-N-S-D. Para pecinta Kpop di Tanah Air pasti tak asing lagi dengan kombinasi 4 huruf tersebut. SNSD, yang memiliki nama lain Girl’s Generation, bukan sekadar girl group Korea biasa, tetapi girl group No 1 di Asia bahkan dunia. Girl group yang tak hanya jual muka cantik dan lagu cinta picisan, tetapi punya konsep berbeda dari yang lain, karena mengedepankan tema dominansi dan girls empowerment dalam beberapa lagu.

Ya, delapan cewek bening-bening itu akan datang lagi ke Indonesia untuk menggelar konser, tepatnya di Stadion Benteng di ICE BSD City, Tangerang Selatan, pada 16 April 2016. Bisa dibilang ini lanjutan dari rangkaian tur konser mereka yang bertajuk ‘Phantasia’.

Ini juga tur konser pertama mereka tanpa kehadiran ‘The Ice Princess’ Jessica Jung yang keluar dari grup, setelah terlibat pertengkaran dengan Taeyeon di backstage beberapa saat menjelang konser mereka di Paris, yang puncaknya Jessica menghancurkan gitar kesayangan Taeyeon. Eh? Itu grup band Oasis deh.

Intinya kepergian mbak Siska, begitu ia akrab disapa, memang tidak membuat SNSD menjadi lemah. Soalnya part vokalnya secara bergantian diisi oleh member-member yang lain. Namun, kepergian kakak dari Krystal Jung tersebut meninggalkan lubang pada formasi SNSD di atas panggung. Agak sulit menambal lubang yang satu ini, karena tak cukup pakai aspal atau bahkan beton plus plat baja kayak di jalanan.

Sejak hanya tampil berdelapan, mereka harus mengorbankan koreo-koreo mereka, dimana mereka harus tampil dalam formasi asimetris atau menggeser posisi beberapa member, bahkan me-remix atau memodifikasi lagu-lagu, sehingga muncul gerakan baru.

Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas kemungkinan tactical stage yang akan mereka sajikan pada konser 16 April mendatang. Analisis taktikal ini untuk memprediksi kira-kira bagaimana cara SNSD dan tim koreonya mengatasi ketidaksimetrisan formasi mereka di era OT8 ini.

Contoh bentuk formasi asimetris SNSD era OT8 (youtube)
Contoh bentuk formasi asimetris SNSD era OT8 (youtube)

Lagu yang saya pilih untuk dibahas adalah ‘The Boys’. Kenapa saya memilih lagu ini? Pertama, karena ‘The Boys’ adalah lagu fenomenal yang turut andil membawa SNSD goes to international (di luar Asia). Kedua, lagu ‘The Boys’ tercatat tidak pernah absen dalam beberapa konser ‘Phantasia’ di beberapa negara dan kota sebelumnya. Jadi, ada kemungkinan ‘The Boys’ juga akan kembali mereka bawakan ketika tampil di kota yang penduduknya sangat akrab dengan legenda Pendekar Cisadane tersebut.

Baiklah, tanpa berpanjang lebar lagi, mari kita bahas analisis taktikalnya:

Gambar 1 (Youtube)
Gambar 1 (Youtube)
Gambar 2 (Youtube)
Gambar 2 (Youtube)

Kedua gambar di atas adalah gambar koreo lagu ‘The Boys’ ketika mereka masih bersembilan dalam sebuah acara bernama Music Core di Korea Selatan. Pada gambar 1 dapat dilihat bahwa Yoona dan Tiffany berdiri sejajar di belakang sebagai double pivot guna menjaga kedalaman dan kompaksi di atas panggung.

Pada gambar 2 juga terlihat bahwa terjadi pertukaran posisi, dimana Jessica bergeser ke belakang dan Tiffany bergeser ke depan. Rotasi pada double pivot terus terjadi sepanjang lagu, hampir semua member mendapatkan ‘jatah’. Tidak ada ruang kosong yang ditinggalkan, sehingga kompaksi terjaga dan SNSD melakukan pergerakan tersebut dengan manis dan rapi, apalagi disertai dengan goyangan maut dan wajah ayu dari para member SNSD yang nyatanya sangat efektif menjebol iman pertahanan hati para penggemarnya.

Gambar 3 (Youtube)
Gambar 3 (Youtube)

Sedangkan pada gambar 3 di atas adalah penampilan lagu ‘The Boys’ ketika SNSD sudah berdelapan, tepatnya pada konser ‘Phantasia’ di Bangkok. Kita di sini melihat modifikasi formasi, dimana Yoona dan nantinya beberapa member lain bertindak sebagai anchor woman tunggal dalam menjaga kedalaman guna mempertahankan kompaksi dan bentuk simetris. Sekarang pertanyaannya, apakah ada cara lain jika seandainya memang terdapat part koreo yang amat sulit diakali? Jawabannya terdapat pada pemanfaatan tata panggung.

SNSD sebagai girl group terpopuler di Asia dan dunia pastinya tidak mau main-main dalam hal penataan panggung. Nah, hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengakali lubang pada formasi. Panggung dapat didesain sedemikian rupa guna membuat penonton tidak terlalu sering melihat ketidaksimetrisan formasi OT8. Gambar-gambar di bawah ini contohnya, masih dalam lagu ‘The Boys’ saat ‘Phantasia’ di Bangkok.

Gambar 4 (Youtube)
Gambar 4 (Youtube)

Gambar 4 di atas adalah cara bagaimana mereka mengawali penampilan mereka pada lagu ‘The Boys’ saat konser ‘Phantasia’ di Bangkok. Para member SNSD berdiri sejajar pada area panggung yang memanjang. Namun, hanya pada satu sisi panggung. Bagaimana dengan sisi yang lain? Kasihan penonton yang di sisi berlawanan dong? Tidak.

Gambar 5 (Youtube)
Gambar 5 (Youtube)

Pada gambar 5 di atas terlihat kembali bagaimana SNSD memanfaatkan tata panggung dengan baik. Jika teman-teman melihat videonya, gerakan setelah gambar tersebut adalah para member SNSD bergerak ke panggung tengah guna melakukan koreo seperti biasa. Kemudian, pada bagian lagu lain, mereka bergerak ke sisi yang berlawanan dari sisi dimana mereka mengawali lagu. Sehingga penonton pada sisi tersebut juga mendapat ‘serangan’ yang sama dari para member.

Cara di atas juga dimanfaatkan oleh SNSD untuk menyapa penonton. Taktik ini akrab disebut sebagai fan service. Sebuah taktik ‘serangan’ yang terbukti efektif dalam meluluhkan dinding pertahanan hati penonton, terutama penonton yang berdiri di kelas festival. Sehingga, di sepanjang konser, penonton bisa saja bilang, “Persetan dengan kompaksi! Yang penting Yoona lucu! Dan, dia dadah-dadahin gue.”

Ada lagi sebenarnya cara mengatasi ketidaksemitrisan formasi dalam lagu ‘The Boys’, salah satunya dengan apa yang mereka tampilkan dalam konser The Best Live at Tokyo Dome 2015. Pada konser tersebut, SNSD me-medley lagu ‘The Boys’ dengan lagu lain. Sehingga, mereka hanya menyanyikan lagu tersebut dimulai dari gerakan Yuri yang down to the floor sampai habis. Jadi, tidak perlu pusing-pusing terlalu banyak memikirkan cara untuk mengatasi beberapa part gerakan yang sulit diakali selama mereka berdelapan.

Gambar 6 (Youtube)
Gambar 6 (Youtube)

Kemudian, pada gambar 6, formasi OT9 yang masih diperkuat Jessica, terlihat bahwa koreo pada bagian lirik berikut: “Makhyeobeoryeotteon miraega, Anboyeotteon miraega, Ne nunape pyeolchyeojyeo.” Jessica akan berdiri agak ke kiri dan member lain bergeser ke kanan guna menyilakan Jessica menyanyikan lirik tersebut secara solo.

Gambar 7 (Youtube)
Gambar 7 (Youtube)

Nah, pada formasi OT8, Sunny lah yang diberi kepercayaan menyanyikan lirik tersebut secara solo. Bedanya, Sunny berada di posisi kanan dan member lain bergerak ke sisi kiri. Sementara itu, Taeyeon menjadi anchor woman. Jadi, memang ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh SNSD dan tim guna tetap menciptakan formasi yang rapi di atas panggung.

Ya, melihat SNSD yang begitu rapi dan kompak di era OT8 maupun OT9 dalam setiap perform-nya tentu membuat kagum para penggemarnya. Oh ya, kenapa sedari tadi saya memilih untuk menggunakan kata girl group dibanding girl band? Agar pembahasannya enak saja, karena ada satu grup penyanyi cewek-cewek di Indonesia yang gak mau disebut girl band.

Balik lagi ke SNSD. Penciptaan kombinasi huruf S-N-S-D sepertinya tidak sesederhana menggores pena di atas kertas. Ada sebuah keseriusan yang hadir di situ. Butuh waktu tahunan sampai pada akhirnya cewek-cewek molek ini siap untuk diterjunkan. Sebuah persiapan matang dan serius. Pelajaran itulah yang seharusnya kita ambil dari mereka selaku bangsa Asia Timur.

Ketika awal-awal musik Kpop booming di Indonesia, semua orang beramai-ramai belajar menyanyikan dan mempelajari dance dari lagu-lagu Kpop, mulai dari anak-anak muda (yang ingin jadi artis), sampai perusahaan-perusahaan rekaman yang memanfaatkan situasi memasarkan para girl group.

Sialnya, bangsa kita salah mengambil ‘pelajaran’. Yang diambil hanyalah bagaimana mengumpulkan cewek-cewek cantik nan molek dalam sebuah grup, lalu disuruh joget sambil lip sync di atas panggung. Padahal, mungkin mereka punya potensi yang lebih dari sekadar itu. Ada pelajaran lain yang lebih penting untuk dipelajari dari bangsa Asia Timur (dalam hal ini Korea Selatan), seperti halnya:

  1. Bagaimana menciptakan koreografi yang (benar-benar) rapi?
  2. Bagaimana caranya bernyanyi tanpa lip sync walau sambil berjoget ria di atas panggung?
  3. Bagaimana menciptakan sebuah akademi yang benar-benar serius dalam mengembangkan potensi dan bakat anak muda Indonesia?
  4. Bagaimana cara mempromosikan musik dan artis yang hendak dipasarkan agar tidak kalah dengan musisi-musisi lain?
  5. Bagaimana menciptakan pasar?
  6. Bagaimana menciptakan budaya kerja keras dan tidak pantang menyerah?
  7. Bagaimana belajar sabar?
  8. Bagaimana cara mengintervensi pemerintah agar mau memajukan musik nasional?

Sebenarnya musik yang dibawa tidak harus Kpop. Musik apapun jika diseriuskan, bukan tidak mungkin, akan membawa artis-artis kita (atau mungkin juga budaya kita) ke dunia internasional. Industri musik Korea Selatan tidaklah instan. Tahunan. Karena itu harus sabar. Dan, pemerintah harus hadir di dalamnya.

Dalam sebuah acara, Sujiwo Tedjo pernah bilang, ”Saya bosan dengan pembahasan di forum ini yang melulu membahas tentang korupsi. Kapan kita bisa membahas Kuda Lumping menjadi Gangnam Style?”

  • Kevin91

    Si penulis jeli amat. T o p! Klo gue siy gak smp situ merhatiinnya. Yg panting asyik aja mereka di stage, sudah cukup bikin bahagia 🙂