Taksonomi Jomblo yang Tak Ada dalam Dongeng atau Komik

Taksonomi Jomblo yang Tak Ada dalam Dongeng atau Komik

papasemar.com

Sering orang malu dengan status jomblo. Banyak yang beranggapan bahwa kejombloan adalah simbol orang yang tak laku maupun yang berkali-kali ditolak. Bahkan Ridwan Kamil sampai mengkodifikasikan etnis jomblo Bandung dengan sebutan 32K yang merupakan kependekan dari 32 ribu populasi.

Tidak jarang pula ada yang mengasosiasikan bahwa kejombloan merupakan kondisi nir-bahagia. Kondisi tersebut terjadi sebagai akibat berlarut-larutnya kesedihan tak kunjung bertemu dengan pasangan yang merupakan kebahagiaan itu sendiri. Benarkan demikian? Sebenarnya apa definisi jomblo?

Tidak ditemukan lema jomblo dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Namun demikian, hal tersebut tidak berarti keberadaan kata jomblo tidak diakui dan juga digunakan secara sosial semantis.

Berbeda dengan KBBI, situs penterjemah Google sudah memasukkan sugesti alternatif terjemah kata jomblo ke dalam padanan single dalam bahasa Inggris. Dalam kasus ini dapat disimpulkan Google lebih ­jomblo-friendly. Setidaknya karena telah mengakomodasi problem ketersediaan definisi.

Sederhananya, jomblo memiliki arti tak berpasangan. Menitik tolak dari definisi ini saja, sepatutnya kurang tepat apabila langsung mengasosiasikan seorang jomblo selalu sebagai seorang yang tak laku atau yang berkali-kali ditolak dalam kisah cintanya.

Stereotip yang menyatakan bahwa kejombloan merupakan simbolisme kurang atau bahkan tak laku sungguh-sungguh merupakan tindak prasangka buruk yang seyogyanya dihindari (demi kemaslahatan umat jomblo). Jika pun penyebab seorang menjomblo karena tak laku, maka itu merupakan preseden dari kejombloannya. Bukan hakikat dan definisi jomblo itu sendiri.

Sayangnya, orang sekarang sangat senang mendefinisikan sesuatu berdasarkan dari karakter stereotip atau prejudisme. Fenomena ini persis terjadi, ketika menstereotipkan orang Batak suka berbicara dengan nada keras, sementara orang Jawa suka berbicara dengan lembut dan halus.

Stereotip sosial ini pada dasarnya tidak bisa menjustifikasi identifikasi sosial langsung bahwa apabila ditemui orang yang berbicara keras, maka ia dianggap sebagai orang Batak. Tidak menutup kemungkinan pula orang Jawa dapat bercakap dengan keras juga.

Maksud penulis, marilah proporsional meletakkan definisi jomblo pada tempatnya. Secara bahasa, makna jomblo – identik kalau enggan mengatakan – sama dengan kata single, tanpa kawan, membujang, atau melajang. Stereotip sosial yang melekat pada istilah jomblolah yang mereduksi makna individualitas pada kata jomblo secara pejoratif.

Di lain sisi, memang tidak dimungkiri bahwa eksistensi “jones” alias jomblo ngenes merupakan sebuah keniscayaan. Namun rasa-rasanya tidak cukup adil, apabila memukul rata bahwa habitat jomblo selalu dalam zona ke-ngenes-an.

Oleh karena itu, dalam curhat seorang jomblo ini ulasan kali ini penulis ingin mencoba membuat taksonomi yang mungkin saja tidak banyak ditemui dalam buku-buku dongeng maupun komik-komik yang beredar dewasa ini. Penulis membagi klasifikasi jomblo berdasarkan tiga pengelompokan: jomblo transisi, jomblo tuntutan, dan jomblo prinsipil.

Jomblo transisi merupakan golongan jomblo yang dalam masa ‘iddah (peralihan atau pancaroba cinta). Dapat dimasukkan ke dalam kategori ini mereka yang sedang dalam periode mencari pasca-putus maupun yang memang terus mencari pasangan karena belum laku-laku. Jomblo transisi inilah yang sering diasosiasikan dengan kesengsaraan cinta. Semakin lama periode transisinya semakin tinggi pula tingkat ke-baper-an yang dirasa.

Penulis dalam hal ini kurang berani menggolongkan apakah jomblo transisi ini masuk kategori mayoritas atau minoritas dalam ruang lingkup komunitas jomblo sendiri. Hal tersebut dikarenakan belum menemukan survei atau pun riset ilmiah yang mengkaji secara mendetail terkait keberadaan jomblo transisi ini.

Adapun jenis jomblo yang kedua merupakan jomblo tuntutan. Status jomblonya diakibatkan karena tuntutan baik internal maupun eksternal yang membuatnya ‘terpaksa’ menjomblo. Tuntutan itu bisa berupa tuntutan sosial, agama, keluarga, biologis, tradisi, dan sebagainya.

Menarik apabila melihat jomblo sebagai tuntutan biologis. Sebuah keniscayaan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan menjomblo. Dalam masa tunggu dari bayi hingga hormon-hormon ketertarikan antar-lawan jenis berfungsi secara normal, maka saat itulah diakui atau tidak setiap manusia dilahirkan dan dituntut secara biologis untuk menjomblo terlebih dahulu.

Dalam lingkungan ningrat pun, tuntutan jomblo kerap diberlakukan pada keluarga kerajaan. Sebagai contoh, seorang puteri mahkota kerajaan diharuskan menjomblo sesuai tradisi kerajaan. Hal tersebut dilakukan berdasarkan keinginan orang tuanya agar pasangan sang puteri mahkota tersebut kelak merupakan seseorang yang kompeten dan benar-benar diharapkan sesuai dengan kriteria keluarga kerajaan.

Jadi, tidak sembarangan ia menjalin rajut asmara dengan siapa pun yang ia kehendaki. Walhasil, tidak jarang pemilihan pasangan bagi sang puteri mahkota maupun keluarga kerajaan penerus takhta harus dilakukan dengan sistem kompetisi atau sayembara guna mendapatkan kandidat pasangan yang terbaik.

Golongan jomblo yang terakhir merupakan golongan jomblo yang bisa dikatakan paling mulia. Golongan jomblo prinsipil menempatkan status jomblo sebagai prinsip hidup, yang merupakan refleksi tertinggi dari bentuk pengabdian dan kemuliaan.

Sebagai sebuah prinsip hidup, maka status jomblo akan disandangkan hingga akhir hayat. Mereka yang masuk dalam kategori ini termasuk pastor, pendeta, biarawan/i, paus, dan biksu/ni. Beberapa ulama islam seperti Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah, Imam Nawawi, Imam Ath-Thabari, dan masih banyak lainnya juga menjomblo seumur hidup.

Mereka berstatus jomblo bukan karena tak laku maupun karena dalam proses menunggu. Mereka menjomblo sebagai pilihan hidup yang mulia, dan oleh karena pilihan, maka tidak dapat dikatakan sebagai sebuah keterpaksaan. Dan secara tidak sadar, kita mendapat kebahagiaan dan arahan hidup dari ajaran atau pun anjuran-anjuran orang-orang mulia tersebut (yang notabenenya jomblo).

Bukankah kita mendapatkan pencerahan kehidupan dari khotbah pendeta di mimbar gereja? Mampukah kita menolak ketenangan cahaya dan petuah arif nan bijaksana dari para biksu? Terlalu congkak apabila dikatakan kita tak terpahamkan dengan aneka koridor hidup dan kehidupan yang termaktub dalam kitab-kitab karya Imam Nawawi, Ibn Taimiyyah, dan ulama-ulama lain yang menjomblo. Demikian, disadari atau tidak, kehidupan kaum non-jomblo sedikit banyak terimplikasi oleh kaum jomblo.

Kesimpulannya, tentu amatlah kurang arif apabila makhluk-makhluk jomblo selalu didiskreditkan secara sosial terus menerus. Dan apabila perlu, tidak keliru jika ditetapkan hari jomblo (inter) nasional secara resmi melalui peraturan perundang-undangan yang berlaku, bukan untuk memperingati kenestapaan jomblowan/i, tapi justru memperingati betapa mulianya menjadi jomblo atau kejombloan itu sendiri. Tiongkok saja sudah punya Hari Jomblo Nasional, Indonesia kapan? Jumpa lagi ya Mblo…!