Hadapi Tahun Politik, Ronaldinho Bisa Jadi Inspirasi Politikus Indonesia

Hadapi Tahun Politik, Ronaldinho Bisa Jadi Inspirasi Politikus Indonesia

Ronaldinho (SmotriSport.TV)

Tahun politik. Istilah itu sering kita dengar belakangan ini. Istilah tersebut merujuk pada momentum Pilkada serentak tahun ini, dan konsolidasi kekuatan politik menjelang pemilihan legislatif dan pemilihan presiden pada 2019.

Dengan semakin dekatnya momentum Pilkada, berarti kerja-kerja politik juga kian gencar. Tarik ulur kepentingan dalam mengajukan kandidat bahkan sudah terjadi sejak akhir tahun lalu. Yang paling menyita perhatian adalah Jawa Timur dan Jawa Barat.

Bekerja untuk politik elektoral memang memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Ada banyak aspek yang menjadi pertimbangan, dari pemetaan basis massa hingga menyiapkan dana yang tidak sedikit.

Contohnya, La Nyalla Mattalitti. Mantan ketum PSSI ini sebelumnya ngebet untuk maju sebagai calon gubernur Jawa Timur, namun harus mengurungkan niatnya karena dikabarkan tidak memiliki anggaran yang diminta oleh partai.

Di Maluku Utara, ada seorang kader partai yang pernah menjabat sebagai ketua DPD terpaksa harus menelan pil pahit, karena tidak memperoleh rekomendasi dari DPP. Padahal, dia sudah membuang uang yang tak sedikit untuk urusan pencalonan.

Salah seorang yang juga sibuk dalam menyambut tahun politik adalah Kokok Dirgantoro, bos Voxpop. Bliyo sudah mantap untuk maju dalam memperebutkan satu kursi di antara 560 kursi di Senayan. Menjadi kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang notabene partai baru tentu saja memiliki tantangan tersendiri.

Mengingat momentum politik kian dekat, saya jadi terpikir untuk memberikan saran tentang seseorang yang patut dijadikan teladan. Saran saya adalah jadikanlah Ronaldo Assis de Moreira sebagai panutan. Apa anda tidak tahu siapa dia?

Oke, kita mengenal bliyo dengan nama beken, Ronaldinho. Ya, anda tak salah baca. Ronaldinho adalah sosok yang ideal bagi politikus kita dalam menyikapi tahun politik.

Tidak, saya tidak sedang menyarankan politikus untuk bercinta sebelum pencoblosan sebagaimana kebiasaan Ronaldinho yang harus bercinta sebelum bertanding.

Lahir di Porto Alegre, Brasil, pada 37 tahun lalu, Ronaldinho memulai karier profesionalnya di Gremio, sebuah klub sepak bola di kota kelahirannya.

Ia kemudian diminati Paris Saint-Germain. Penampilan yang apik di Piala Dunia 2002 membuat raksasa Spanyol, FC Barcelona, tertarik untuk memboyongnya. Bisa dibilang itu adalah puncak kariernya.

Mendengar nama Ronaldinho, pikiran saya langsung terbesit kata-kata ‘pesulap’ atau ‘penipu’. Tentu saja, maksud penipu di sini bukan dalam arti negatif, sebab pesulap juga seorang ‘penipu’, namun tetap saja mengundang decak kagum penonton.

Ronaldinho adalah ‘penipu’ bagi pemain belakang lawan. Ingat passing tanpa melihat yang menjadi kebiasaannya? Silakan anda saksikan cuplikan aksinya di Youtube dan lihat bagaimana bola seakan menjadi jinak di kakinya.

Ia bahkan dengan mudahnya membuat nutmeg atau melewatkan bola di antara kedua kaki pemain sekaliber Gattuso atau Maldini, dua pemain tangguh yang dipuja Milanisti sedunia.

Ini adalah hal pertama yang bisa dipelajari para politikus. Jadilah ‘penipu’ sebagaimana Ronaldinho menipu bek-bek lawan. ‘Penipu’ adalah bagaimana membuat lawan tak bisa menerka ke mana langkah selanjutnya. Dalam artian politik, ‘penipu’ berarti membuat lawan susah menebak strategi yang kita mainkan.

Saya ingat sebuah laporan di media massa bagaimana Irwandi Yusuf bisa memenangi pemilihan gubernur Aceh. Irwandi yang dulunya adalah orang yang bertanggung jawab atas kerja-kerja propaganda Gerakan Aceh Merdeka (GAM), menyusupkan Sofyan Dawood, mantan juru bicara GAM, ke barisan Tarmizi A Karim yang merupakan calon gubernur dari Partai Golkar, Nasdem, dan PAN.

Saat itu, Sofyan Dawood yang merupakan loyalis Irwandi bahkan ditunjuk sebagai ketua tim pemenangan Tarmizi. Namun, pada detik-detik akhir menjelang pencoblosan, Sofyan mengumumkan bahwa ia tak lagi mendukung Tarmizi dan ‘kembali’ ke barisan Irwandi Yusuf.

Buah dari ‘penipuan’ ini adalah pecahnya suara dari lawan berat Irwandi, yakni Muzakir Manaf, dan mengantarkan Irwandi menjadi gubernur Nanggroe Aceh Darussalam.

Kembali ke Ronaldinho.

Selain ‘penipu’, pemilik nomor punggung 80 ketika membela AC Milan ini juga terkenal lincah. Dikepung empat pemain lawan sudah menjadi hal biasa baginya dan masih bisa lolos. Masih ingat gol Ronaldinho ketika FC Barcelona bertandang ke Stamford Bridge saat putaran 16 besar Liga Champions tahun 2015?

Saat itu, ia dikepung empat pemain di depan kotak pinalti Chelsea. Di depannya berdiri Ricardo Carvalho, John Terry, dan Makalele, sedangkan di belakangnya ada Frank Lampard.

Dengan sedikit menggerakkan kakinya sebagai upaya kamuflase, Ronaldinho menyontek bola melewati sisi kanan Carvalho dan masuk ke gawang Petr Cech yang tak menyangka dengan sontekan tersebut.

Momen itu adalah satu dari sekian banyak bukti sahih bahwa kelincahan serta insting Ronaldinho memang di atas rata-rata. Tak hanya Petr Cech ataupun Carvalho yang tak menyangka Ronaldinho bakal menendang bola ke sisi kanan gawang, tapi saya yakin para penonton saat itu juga tidak bisa menerka.

Ini hal kedua yang bisa dipelajari oleh politikus. Bahwa kredo ‘politik itu keras’ memang terus berlaku. Kelincahan serta insting tentu menjadi sesuatu yang penting di tengah rimba politik. Siapa yang lincah bersiasat atau bertindak pada suatu isu, ia yang akan selamat.

Oportunis adalah poin selanjutnya yang dimiliki Ronaldinho, yang bisa diteladani para politikus, khususnya mereka yang baru terjun ke dunia politik. Jika membiarkan Ronaldinho menguasai bola di dekat kotak pinalti adalah sebuah kesalahan, maka membiarkan ia menguasai bola di dalam kotak pinalti adalah awal dari bencana.

Ke-oportunis-an Ronaldinho bisa ditanyakan kepada kiper Santos Laguna, Agustin Marchesin. Saat itu, pada menit 66, ketika sang kiper yang tengah menguasai bola hendak melakukan tendangan gawang, di sampingnya ada Ronaldinho mengintai.

Saat Agustin melempar bola untuk kemudian ditendang, Ronaldinho langsung sigap mengambil bola yang belum sempat ditendang itu. Yang kemudian terjadi tentu saja sebuah gol yang memalukan bagi pihak lawan.

Menjadi politikus berarti menjadi seorang oportunis. Bagaimana memaksimalkan setiap peluang yang ada, memaksimalkan tiap-tiap situasi untuk menaikkan elektabilitas.

***

Pada 17 Januari 2018, melalui agen sekaligus kakaknya, Roberto Assis, Ronaldinho memutuskan untuk pensiun sebagai pesepakbola profesional. Ia menutup kariernya di Fluminense. Dengan keputusan tersebut, berarti menandakan berakhirnya sebuah era.

Ada sebuah keberuntungan hidup dalam menyaksikan bagaimana kaki-kaki Ronaldinho menari di atas lapangan hijau, laiknya tangan Picasso di atas kanvas. Ronaldinho adalah sebentuk kebebasan di antara sistem tak-tik yang diberikan pelatih.

Ia diberi keleluasaan, bak seorang generalis di tengah bendungan spesialis. Ia membuat pertandingan tanpa bisa melepas hakikat dari sebuah permainan: bersenang-senang.

Terakhir, satu hal yang paling patut ditiru oleh politikus dari legenda satu ini selain senyuman ramah adalah bagaimana ia bisa begitu dipuja dan dihormati. Tak hanya oleh rekan dan pendukung timnya, tapi juga oleh lawan-lawannya.

Te amo, Ronaldinho!

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN