Susahnya Menjadi Anggota Dewan yang Terhormat

Susahnya Menjadi Anggota Dewan yang Terhormat

qerja.com

Ini bukan becanda. Ini betul betul terjadi. Maksud saya, kalau anda pikir jadi anggota dewan perwakilan rakyat itu enak, anda mesti sekolah lagi. Di Indonesia menjadi anggota dewan berarti harus siap dicaci maki, dicurigai, dan segala tindak tanduknya dicurigai.

Untuk itu penting kiranya bagi kita bersikap adil. Biar bagaimanapun juga para anggota dewan itu adalah wakil yang kita percayai untuk menentukan arah kebijakan bangsa kita.

Coba bayangkan sejak dilantik menjadi anggota dewan sudah berapa undang undang yang disahkan oleh pemerintah? Ribuan? Ratusan? Puluhan? Yak benar, saya juga tidak tahu berapa jumlah undang undang yang telah disahkan.

Tapi kalau reses? Sepertinya berkali-kali, artinya apa? Oh bukan, saya tak bilang bahwa kinerja anggota dewan saat ini buruk, malah saya bersimpati kalau sampe reses berkali kali tapi sedikit undang-undang yang disahkan artinya kerja jadi anggota dewan itu berat.

Jika anda berpikir bahwa pekerjaan utama anggota Dewan adalah membahas undang undang atau perda atau kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan publik, anda salah besar. Pekerjaan itu amatlah mudah, setiap orang di Indonesia bisa melakukan itu.

Tapi menjadi anggota dewan butuh lebih dari sekedar otak yang cerdas dan pemahaman yang luar biasa tentang kondisi bangsa, seorang anggota dewan perlu memiliki beberapa kemampuan yang tak bisa dimiliki oleh sembarang orang.

Sebut saja kemampuan untuk dapat tidur dengan posisi yang tidak nyaman. Anda ingat Adian Napitupulu? Yang protes karena fotonya yang sedang merem tersebar di media? Bayangkan, beliau itu bekerja keras untuk melawan kantuk.

Beliau tentu tidak sedang cuma numpang tidur di Senayan, berjam jam rapat di gedung dewan tentu melelahkan, maka sesekali merem semestinya bisa ditoleransilah.

Tolong, sudah berapa banyak anggota dewan yang kelelahan, ngantuk, lemah tak berdaya, dan terlelap di gedung dewan? Bukankah foto-foto anggota dewan yang tidur itu menunjukan bahwa pekerjaan ini demikian melelahkan?

Bisa tidur di gedung dewan saat rapat adalah sebuah keterampilan, namun ada hal lain yang perlu kita pelajari dari mereka. Bagaimana kesabaran para anggota dewan ini dalam menyikapi hidup.

Tahukah anda bahwa menurut Irma Suryani, anggota Badan Urusan Rumah Tangga DPR, sudah dua periode tidak ada kenaikan tunjangan kepada anggota DPR yang terhormat. Bayangkan betapa menderitanya mereka.

Di tengah gaya hidup rakyat Indonesia yang kaya, tiada kemiskinan, dan kemakmuran, anggota dewan kita mesti hidup serba kekurangan. Apalagi dengan adanya inflasi seperti saat ini. Apakah kita tega membiarkan anggota dewan kita menderita?

Ada satu hal yang membuat saya demikian terpukul dan merasa iba adalah tunjangan kehormatan dewan kita demikian rendah. Bayangkan, tunjangan kehormatan untuk anggota dewan kita hanya Rp 3,7 juta. Bagi seseorang yang tak punya kehormatan itu kan sungguh kurang sekali.

Saya kira agar anggota dewan kita punya kehormatan, mestinya tunjangan mereka adalah Rp 500 juta. Toh semua gaji, tunjangan dan biaya reses yang diterima oleh anggota dewan kita didapat dari duit pajak, gak hasil korupsi bukan?

Kehormatan ini penting sekali saya kira. Tanpa adanya kehormatan, tidaklah elok dipandang seorang anggota dewan. Untuk itu mereka mesti memiliki kehormatan dengan berbagai atributnya.

Jika kebanyakan orang mendapatkan kehormatan karena kerja, integritas, dedikasi dan pengabdiannya dalam bekerja. Saya kira anggota dewan tak perlu melakukan ini.

Cukuplah dengan memiliki benda-benda mewah seperti Jaguar, BMW, Ferari, atau bahkan jam tangan mahal. Karena anda tahu? Beberapa orang demikian miskin dan terhina, yang mereka miliki hanyalah kemewahan. Untuk anggota dewan kita tentu tak ingin demikian bukan?

Maka patutlah kita memuji bapak anggota dewan Setya Novanto. Ketika banyak orang memaki dan menyindirnya, saya kira kita perlu adil kepada beliau. Bapak Setya Novanto ternyata orang yang demikian setia, ketika bekerja untuk negara ke Amerika kemarin, beliau mengajak serta istrinya.

Tentu saja kunjungan itu dibiayai negara, istirnya juga, tapi bukan soal itu kita perlu mengagumi sosok beliau tapi bagaimana beliau mengangkat harkat dan martabat bangsa kita di dunia internasional.

Tahukah anda ketika bersalaman dengan Donald Trump pak Setya memakai arloji keren. Arloji ini adalah jam tangan buatan Swiss yang dikenal Richard Mille RM 011 Flyback Chronograph ‘Rose Gold’. Harganya $140.000 atau setara dengan Rp 1.980.510.000.

Sedangkan Donald Trump? Hah dia tentu saja tidak pakai jam semahal itu, dengan demikian kehormatan bangsa kita bisa naik! Dengan memakai jam tangan dengan nilai hampir dua miliar rupiah, bapak Setya Novanto secara tidak langsung menunjukkan kedigdayaan bangsa kita.

Kita bukanlah bangsa miskin yang tak punya apa-apa. Kita adalah bangsa kaya yang wakil rakyatnya bisa membeli jam mahal, meski harus hidup kekurangan dengan meminta kenaikan tunjangan. Coba liat, betapa terpujinya wakil rakyat kita ini.

Bapak Setya Novanto adalah wakil rakyat yang mewakili Nusa Tenggara Timur (NTT), sebuah daerah yang konon termiskin di Indonesia. Ini tentu sebuah kabar gembira buat kita. Jika wakil rakyatnya saja bisa membeli jam tangan seharga dua miliar, tentu masyarakat yang diwakilinya lebih makmur.

Saya yakin seluruh sekolah yang ada di NTT dalam kondisi baik bahkan bertingkat dua, tidak ada kelaparan, jalanan bagus, listrik lancar, sumber air melimpah, dan yang jelas kemakmuran telah ditegakkan.

Untuk itu, saya meminta kepada anda sekalian untuk tidak lagi menghina anggota dewan. Jasa mereka untuk kita sudah demikian banyak.

  • tulisan ini bertipe petarung seperti manny pacquiao, hajar jalanan! 😀