Surat Kecil untuk Zaadit dari Orang yang Gagal Masuk UI

Surat Kecil untuk Zaadit dari Orang yang Gagal Masuk UI

Universitas Indonesia (grid.id)

Dear Zaadit Taqwa, ketua BEM UI.

Bagaimana kabarnya, Dit? Pasti sibuk ya sedang bersiap-siap menuju Asmat, Papua? Jalan menuju Asmat itu berat, lho. Jalan dibuat dari kayu, sempit. Meleng sedikit bisa kecemplung di rawa. Tidak ada jalan aspal!

Tapi, itu dulu… Tenang, siapa tahu sekarang sudah bagus, lebih mudah diakses. Presiden Jokowi kan sedang getol bangun infrastruktur di Papua. Bukan begitu, Pakde?

Kalaupun medannya masih sulit dijangkau, kamu pasti tak akan ciut nyali. Tak ada yang meragukan keberanianmu hari ini. Memang siapa mahasiswa yang berani mengacungkan kartu kuning ke Jokowi saat acara yang begitu sakral? Ya, kamu.

Pasti followers Instagram kamu sekarang sudah banyak. Terakhir sih sudah menembus 20 ribu followers, padahal sebelum ini hanya 2.000-an. Sungguh, sebuah prestasi bagi mahasiswa pada umumnya bisa punya followers segitu banyak. Selamat, Dit, sekarang kamu jadi selebgram!

Bagaimana sih rasanya jadi pusat perhatian? Bangga, pastinya. Jarang-jarang lho, ada mahasiswa yang mengkritik Jokowi soal kasus gizi buruk di Asmat, potensi kebangkitan Dwifungsi TNI/Polri, dan draf peraturan baru organisasi mahasiswa (ormawa).

Aksi yang kamu lakukan itu bahkan efektif daripada mengerahkan ribuan massa untuk berdemonstrasi di Istana. Cukup modal peluit dan sebuah buku paduan suara UI yang kebetulan berwarna kuning, sesuai warna jas almamatermu. Coba bayangkan, bagaimana seandainya jas almamater UI berwarna merah?

Tapi, apa iya, gerakan mahasiswa saat ini melempem, sehingga aksi kamu yang mirip Pierluigi Collina, salah satu wasit tergalak di dunia sepak bola, begitu dielu-elukan oleh banyak orang, termasuk… maaf, politisi busuk?

Saya pikir, gerakan mahasiswa tidak separah itu. Gerakan anak-anak muda kelas menengah ini jangan dilihat dari aksi jalanan saja atau mengacungkan kartu kuning ke Jokowi.

Masih banyak kok mahasiswa yang terjun langsung ke masyarakat. Misalnya, mahasiswa yang mengadvokasi penduduk di Kulon Progo, ibu-ibu di Rembang, aksi Kamisan, nelayan di Teluk Benoa, dan aksi mahasiswa Papua. Sebetulnya masih banyak yang lain, tapi nanti saya dianggap SJW lagi.

Mahasiswa yang begini biasanya sunyi. Melepas jas almamater, lalu bunuh diri kelas. Mereka juga tak suka pamer, boro-boro jadi selebgram. Bahwa kesadaran politik nantinya timbul dari sebuah pertentangan, itu adalah keniscayaan.

Bukan apa-apa, Dit, sejarah membuktikan bahwa pihak yang paling menikmati gerakan mahasiswa yang elitis nan sporadis, ya politisi itu.

Terlebih, unjuk rasa hanya dilakukan saat momen politik tertentu saja. Seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seluruh Indonesia yang mengevaluasi 3 tahun pemerintahan Jokowi-JK tempo hari. Eh?

Gerakan mahasiswa yang elitis dan sporadis cenderung tidak memiliki konsep yang mumpuni. Dan, politisi siap memanfaatkan momentum itu untuk… apalagi kalau bukan berkuasa? Sementara rakyat dapat apa?

Kecuali, si mahasiswa memang kader atau simpatisan partai politik, yang menggunakan organisasi kemahasiswaan untuk kepentingan afiliasi politik. Itu kurang ajar!

Biar begini, saya juga pernah jadi mahasiswa. Jabatan ketua BEM bukan hanya amanah mahasiswa, tapi juga melekat kepentingan rakyat semesta. Terlebih di UI, kampus yang memiliki sejarah panjang gerakan mahasiswa, kampus yang saya idam-idamkan waktu SMA dulu.

Jadi, Dit, kalau kamu berencana pergi ke Asmat – terlepas itu meladeni atau tidak meladeni tantangan dari Jokowi – ya silakan saja, meski UGM sudah jauh-jauh hari mengirim Disaster Response Unit ke Agats, Asmat, untuk membantu penanganan masalah gizi buruk.

Tak hanya UGM, Unhas juga telah mengirim 19 dokter senior ke Asmat terkait kasus gizi buruk. UKSW bahkan mengirim dosennya ke Asmat karena prihatin dengan wabah campak, yang juga terjadi di sana.

Kalau mengutip data Kemenkes, setidaknya terdapat 646 anak terkena wabah campak dan 144 anak menderita gizi buruk di Asmat. Selain itu ditemukan pula 25 anak suspect campak, serta empat anak yang terkena campak dan gizi buruk.

Dua menteri sudah diterjunkan ke sana. Pertama, Idrus Marham, sehari setelah dilantik jadi menteri sosial yang baru. Ya iyalah, namanya juga pejabat baru, harus sigap. Apalagi, itu perintah langsung dari Jokowi.

Kedua, Menteri Kesehatan Nila Djoewita Moeloek. Kemenkes telah memeriksa sebanyak 12.398 anak sejak September 2017 sampai 25 Januari 2018.

Sedikitnya 39 tenaga kesehatan sudah diterjunkan ke lapangan. Mereka terdiri atas 11 dokter spesialis, empat dokter umum, tiga perawat, dua penata anestesi, serta 19 tenaga kesehatan dari ahli gizi, kesehatan lingkungan, dan surveillance.

Itu belum termasuk bantuan personel dari TNI, yang memberikan vaksin terhadap lebih dari 13 ribu anak di 224 Kampung Asmat, Papua. Hasilnya?

Menteri Sosial Idrus Marham telah menyatakan, Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk dan campak di Kabupaten Asmat, Papua sudah selesai.

Terus, kalau sudah selesai, apakah kamu, Dit, tetap ingin ke Asmat? Iya dong, jangan begitu saja percaya pada laporan tersebut. Mahasiswa harus benar-benar memastikan bahwa itu sesuai fakta di lapangan atau tidak. Jika tidak, baru kamu bisa dengan gagahnya memberikan kartu kuning ke Jokowi.

Jokowi sendiri sebetulnya selow saja dikasih kartu kuning. Bagus, ada yang mengingatkan, katanya. Para pendukungnya saja yang baper. Sikap berlebih itu secara tidak langsung merugikan Jokowi, lho. Serius.

Jokowi seolah dicitrakan anti-kritik, padahal belum tentu. Faktanya, memang masih banyak tugas-tugas yang belum selesai dan harus dikerjakan. Ini tahun keempat pemerintahannya. Terus sebentar lagi ada yang nyeletuk, “Makanya Jokowi dua periode!” Eeaaa…

Tapi, Dit, kalau kamu batal ke Asmat juga tidak apa-apa. Mungkin, kamu bakal disibukkan oleh tugas-tugas kuliah. Seperti kata penyair kondang Denny JA, eh maaf, Taufiq Ismail bahwa mahasiswa takut pada dosen. Dosen takut pada dekan. Dekan takut pada rektor. Rektor takut pada menteri. Menteri takut pada presiden. Presiden takut pada mahasiswa.

Jadi, kalaupun nanti tidak berangkat ke Asmat, tak perlu berkecil hati. Lagipula, tak hanya Asmat, gizi buruk juga menimpa balita di Depok. Depok Jawa Barat? Iya betul! Depok, tempat di mana kampus UI berdiri dengan megahnya? Persis!

Hingga akhir 2017, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Depok, sebanyak 80 balita mengalami gizi buruk. Mereka tersebar di 11 kecamatan.

Ini salah siapa? Ya siapa lagi? Memangnya kalian pikir ini salah Idris Abdul Shomad, wali kota Depok yang diusung oleh PKS? Atau, salah Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yang memang kader tulen PKS?

Demikian surat kecil-kecilan ini, Dit.

Dari saya, mantan mahasiswa,

Yang dulu gagal masuk UI…

3 KOMENTAR

  1. betul mas, ngomong mudah ya, apa dia pikir sdh banyak melakukan buat negara? saya lbh salut sama mahasiswa yang sdh banyak terjun langsung bantu masarakat, dan itu ada tapi sepi pemberitaan.

  2. Miris banget universitas sekelas UI punya ketua BEM kaya begini…..minim prestasi gede bacot doang…..lebih aneh yang milihnya jadi ketua BEM kaya gk ada yg lebih baik lagi jadi Ketua BEM.
    Bikin malu alamamter aja.

TINGGALKAN PESAN