Surat untuk Jokowi dari Saya yang Hanya Perempuan Tionghoa

Surat untuk Jokowi dari Saya yang Hanya Perempuan Tionghoa

Dokpri

Dear, Pak Jokowi…

Apa kabar? Semoga sehat di mana pun berada. Perkenalkan pak, saya Natalia Oetama tapi bukan cucunya Pak Jacob Oetama. Berharap sih, tapi bukan. Saya ini perempuan Tionghoa yang lahir di Padang dan bangga jadi warga negara Indonesia (WNI).

Indonesia adalah rumah pertama bagi saya, bukan kedua, meski kerap diperlakukan sebagai warga negara kelas dua. Tapi saya tetap cinta, terlebih beberapa penelitian menyebutkan bahwa kita masih satu nenek moyang yang sama.

Tapi, melihat kondisi terkini, saya jadi patah hati pak. Teman-teman saya juga merasakan hal serupa. Suka atau tidak suka, konfigurasi politik saat ini telah membangkitkan sentimen lama. Lantas, apa kami masih pantas menyebut diri sebagai WNI?

Saya belum punya uang untuk melakukan operasi kelopak mata agar mata saya belo. Tapi sumpah demi Tuhan, sejak kakek buyut saya lahir, sudah menambatkan diri sebagai orang Indonesia. Semoga bangsa ini tidak memperdebatkan Tuhan yang mana dan apa agama saya setelah membaca ini.

Saya lanjutkan ya pak, kami yang katanya kaum minoritas ini cinta sama Indonesia. Jujur saja, hubungan ini tentunya bukan tanpa liku, love hate relationship kalau boleh meminjam istilah asing. Tapi sungguh hati, kami masih di ibu pertiwi.

Saya kasih contoh begini… Ketika kami menyebut asal kami dari Padang, Medan, Bangka, Belitung, Bandung, Surabaya, Solo, Pontianak, atau daerah manapun di Indonesia, kami akan diragukan beberapa detik sebelum akhirnya diaminkan saja. Jujur pak, itu menyedihkan.

Belum lagi dengan label bahwa orang Tionghoa itu tajir. Memang sih, kekayaan mereka fantastis, tapi hanya segelintir. Sisanya ya sama saja. Tapi mengapa timbul kecemburuan? Persoalannya bukan karena ia lahir dari rahim siapa, tapi kesejahteraan di negeri ini yang belum merata. Dalam konteks inilah negara harus benar-benar hadir.

Dan, bapak tahu, apa yang membuat hati ini begitu pedih? Ketika kami ditanya, “Mbak peranakan ya?” Saya kudu piye, pak? Harus jawab apa, pak?

Kakek saya lahir dan besar di Indonesia, walau mungkin kakek buyut saya berasal dari tempat yang beribu-ribu kilometer jauhnya di tengah samudera, yang saya pun tak pernah tahu. Saya hanya tahu bahwa saya berasal dari bumi nusantara.

Hidup sebagai WNI yang dilabeli keturunan dan beragama minoritas itu memang susah-susah gampang, pak. Ada beberapa cita-cita yang bahkan sebelum punya kemampuan untuk memilih pun sudah harus saya lupakan, salah satunya PNS. Iya pak, pegawai negeri sipil yang konon katanya punya jaminan hari tua yang mumpuni itu.

Kalaupun ada beberapa yang jadi PNS, jalannya dipastikan tak akan pernah mulus. Giliran ada yang bukan PNS tapi jadi gubernur, beramai-ramai disingkirkan. Iya, Pak Ahok namanya, wakilnya Pak Jokowi dulu. Pak Ahok harus berakhir di bui, karena diputus bersalah telah menistakan agama.

Terlepas pasal-pasal yang menjeratnya adalah produk hukum yang sudah lama diperdebatkan, tapi menghadapi isu tersebut seperti perahu kecil yang mengirim gelombang di tengah lautan samudera. Kalau kita balik ya pak, apa mungkin orang yang menistakan agama kami, yang katanya minoritas ini, dijerat dengan pasal yang sama?

Ah sudahlah, agama manapun selalu mengajarkan umatnya tentang kebaikan, bahkan ketika menghadapi orang-orang atau kelompok yang membencinya.

Tapi hari ini, nyatanya orang-orang tidak bersikap demikian. Apakah ini semacam ‘penggusuran’ dalam skala besar yang harus kami terima sebagai minoritas? Semacam korban-korban penggusuran yang tak pernah punya kuasa apa-apa selain menerima. Dipuk-puk dan dikasihani sana-sini, tapi yo tetap saja harus terima nasib jadi kaum yang didiskriminasi.

Jangan-jangan, ini harus saya terima sebagai takdir karena hidup di negara yang lama-lama bikin patah hati ini? Tak akan pernah punya hak yang sama sebagai warga negara, karena jumlah dan mata saya yang tak seberapa? Hanya mereka yang punya massa yang mampu bersuara dan didengar. Didengarkan, lalu dibenarkan.

Semoga Pak Jokowi punya waktu untuk menjawab surat ini. Saya tak menyalahkan bapak, tapi ke mana lagi saya harus mengadu, kalau bukan kepada pucuk pimpinan tertinggi di negeri ini?

Surat ini saya tulis dari atas pesawat menuju Solo, pak. Iya kampung bapak, di mana teman-teman saya yang juga Tionghoa memuja-muja bapak seperti raja. Tapi, melihat situasi seperti ini, apa kami masih pantas menyebut diri sebagai WNI?

Jaga diri pak, semoga semesta melindungi orang-orang yang benar…

Salam,

Dari perempuan Tionghoa yang patah hati dengan Indonesia.