Surat Menyurat JonRu soal Uber dan Grab

Surat Menyurat JonRu soal Uber dan Grab

woroluvpink.wordpress.com

Ratusan orang yang rata-rata memakai seragam biru tampak bergerak menuju Balai Kota Jakarta, Istana Negara, Kementerian Perhubungan, serta Kementerian Komunikasi dan Informatika pada Senin (14/3). Tapi tunggu dulu. Meski hari itu bertepatan dengan hari ulang tahun Persib Bandung ke-83, gerombolan berbaju biru tersebut bukanlah Bobotoh atau Viking yang sedang merayakan ulang tahun klub kesayangannya. Kalau itu Bobotoh sama Viking, pasti repot urusannya ketemu The Jak.

Mereka adalah para sopir taksi yang tergabung dalam Persatuan Pengemudi Angkutan Darat (PPAD). Sebagian lainnya adalah pengemudi bajaj, angkot, dan bus umum. Mereka turun ke jalan, karena kesal dengan angkutan berbasis aplikasi online yang lama-lama bikin boncos. Mungkin kalah bersaing. Mereka lantas marah-marah. Kayak Ahok. Marah-marah kok hobi.

Para sopir yang sebagian besar taksi itu menuntut pemerintah untuk segera melarang keberadaan taksi online macam Uber Taxi dan Grab Car. Selain mengusik urusan perut ke bawah, wara-wiri taksi pelat hitam itu dinilai melanggar aturan. Tapi sepertinya ini lebih masalah perut, mirip ribut-ribut ojek online versus ojek pangkalan.

Kalau ujung-ujungnya masalah perut, ya nggak akan ada habisnya. Kasihan Ryan D’Massiv sampai berbuih-buih nyanyi lagu ‘syukuri apa yang ada’. Rezeki itu datangnya dari Tuhan, mas. Melalui apa? Kalau yang kekinian ya melalui inovasi berupa aplikasi online. Tuhan juga nggak ndeso, keleus…

Yang ndeso itu ya kita-kita, manusia. Perkembangan teknologi yang begitu cepat sekarang ini bikin banyak orang tergagap-gagap dan gugup. Beda tipis sih antara tidak mampu atau malas. Akhirnya orang lebih suka memilih jalan pintas.

Setelah sopir demo besar-besaran, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengirim surat kepada Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. Surat Jonan kepada Rudiantara intinya soal permohonan pemblokiran aplikasi pemesanan Uber dan Grab Car. Tapi, Rudiantara tidak sepenuhnya setuju. Beliau malah akan mendorong pengembangan aplikasi supaya lebih efisien. Kalau ada pro-kontra itu biasa. Pada akhirnya, masyarakat yang memilih.

Baiklah kalau begitu. Sekarang ini menteri-menteri memang nggak boleh adem ayem saja. Nanti nggak terlihat kerjanya. Itu bukan ciri khas Kabinet Kerja. Kalau perlu berseteru di hadapan publik. Mungkin nanti ujung-ujungnya si bos yang akan turun tangan. Ingat kasus pelarangan Gojek cs oleh Jonan? Persoalannya bisa selesai di Istana dalam tempo 1×24 jam. Jagoan memang selalu datang belakangan, bukan?

Sekarang Jonan bikin ramai lagi. Beliau terlihat nggak kompak dengan Rudiantara. Seharusnya mereka bisa ngobrol-ngobrol dulu sambil ngopi di kantin kementerian, kira-kira apa keputusan final yang bisa dihasilkan secara bersama-sama? Bukan beropini sendiri-sendiri yang menimbulkan ketidakpastian.

Oh ya, saya punya ide. Pastinya ecek-ecek. Bagaimana kalau kita gandeng saja nama Jonan dan Rudiantara supaya beliau-beliau bisa kompak. Siapa tahu, kalau namanya digandeng, orangnya juga bisa bergandengan berpelukan. Tapi, digandeng jadi apa? JonanRudiantara. Yah, kepanjangan. Bagaimana kalau JonRu!

Nama JonRu sepertinya pas. Tapi anda jangan berpikir macam-macam dulu. Ini jelas beda. Dari penulisannya saja sudah beda. Yang ini JonRu, bukan Jonru! JonRu itu dua orang pejabat negara, kependekan dari nama Jonan dan Rudiantara. Kalau Jonru, siapa?

Nah, ada baiknya kita intip sejenak surat menyurat JonRu soal Uber dan Grab Car ini. Intinya Jonan menilai Uber dan Grab Car tidak patuh pajak, penanaman modal, dan lalu lintas angkutan jalan. Cukup banyak sebenarnya pelanggaran peraturan yang dijembreng di surat Jonan kepada Rudiantara, antara lain UU No 22/2009, UU No 25/2007, Peraturan Pemerintah No 82/2012, dan Kepres No 90/2000.

Kalau saya jembrengin lagi tuh isi dari peraturan, nih artikel bisa jadi makalah. Tapi dalam surat itu menyinggung kalau keberadaan perusahaan roda empat yang masuk ke dalam aplikasi telepon pintar telah menimbulkan keresahan dan konflik di kalangan pengusaha angkutan dan sopir taksi resmi.

Mungkin aplikasi ini dianggap mirip-mirip game macam Clash of Clans. Bisa membuat komunitas sendiri, melatih pasukan, dan menyerang pemain lain. Jadinya berpotensi bikin konflik. Atau, aplikasi ini dikira bisa nyebarin aliran sesat kali, makanya dianggap bisa menimbulkan keresahan.

Lagipula, ada satu lagi poin yang ‘aneh’. Katanya, moda transportasi berbasis online dapat menyuburkan praktik angkutan liar dan angkutan umum semakin tidak diminati. Pak Jonan, saya tahu bapak termasuk generasi X, bukan Y apalagi Z. Sekarang begini. Ojek pangkalan itu bukankah angkutan liar juga? Atau, mobil-mobil rental berpelat hitam?

Kalau masalah angkutan umum semakin tidak diminati, seharusnya pak Jonan yang paling hafal penyakitnya dari A sampai Z. Bapak pernah ngerasain nungguin Kopaja atau Metro Mini yang datengnya kayak keong? Giliran ngebut jadinya ugal-ugalan gegara rapet sama pesaingnya di jalan.

Baiklah, sekarang kita naik taksi seperti kebiasaan kelas menengah perkotaan. Begitu naik taksi, sopirnya bawa kita muter-muter keliling Jakarta. Argonya nggak ketulungan. Naik kereta sudah kayak ikan buntel yang lagi dipepes. Naik bus umum yang sopir dan kernetnya bau oli, sampai pengamen yang berisik ngaku-ngaku baru keluar dari Cipinang.

Lalu, kita naik angkot, tapi dipalak preman pasar yang ngaku-ngaku minta sumbangan buat mushola. Naik kapal laut, eh tenggelam. Kenapa saya jadi teringat kapal Ravelia yang tenggelam di Selat Bali? Oh maaf pak Jonan, saya jadi ngelantur.

Sudah dulu ya, nanti semakin lama saya semakin cerita soal kejanggalan-kejanggalan di dunia transportasi kita yang sangat maju ini. Nggak elok, soalnya mau ada reshuffle kabinet…