Surat Cinta untuk Lebahganteng

Surat Cinta untuk Lebahganteng

Ilustrasi (duniahore.com)

Dear Lebahganteng di jagat maya…

Dunia ini telah tumbuh menjadi dunia yang penuh keserakahan. Tak ada yang gratis dalam hidup ini. Lihat saja bagaimana orang begitu nyinyir. Kau haus? Minum. Lapar? Makan. Bokek? Nikah, biar ada yang nafkahin.

Uang, uang, dan uang. Yang kayak begini yang membuat orang bisa gila pada akhirnya. Sebagian orang secara serampangan menuding bahwa bumi ini datar. Sebabnya mudah saja. Sama seperti teori konspirasi Illuminati, bumi bulat adalah sesuatu yang direka agar kaum elitis tetap mapan, sementara kaum yang biasa-biasa saja menjadi budak kapitalis. Mengejar uang hingga liang lahat.

Atau, kalau tidak sampai segitunya, manusia masa kini bisa saja bernasib seperti kalimat yang sering di-posting oleh teman-temanku di Instagram. “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”

Ya, kutipan dari Seno Gumira Ajidarma yang paling mainstream yang aku baca. Hidup yang tidak disenangi untuk dijalani seringkali dituduh orang karena uang. Namun bisa apa mereka tanpa uang? Sebenci-bencinya, mereka tetap butuh, atau mungkin lebih menginginkannya.

Memang betul bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan, dan aku rasa banyak orang setuju soal ini. Tapi, banyak juga orang yang berpikir bahwa kebahagiaan tak bisa dibeli, tapi beli Lamborghini, bisa. Ah, keduanya hanya beda-beda tipis kan?

Begitu nafsunya orang memburu materi, sampai-sampai melupakan satu hal yang sering ibuku katakan. “Hidup ini adalah upaya mencari esensi, tidak hanya soal materi. Mereka enggan berbagi, sehingga hidup mereka sunyi sendiri.”

Dalam situasi dunia yang menyebalkan ini, untungnya masih ada orang baik. Orang-orang yang tidak tinggal diam atau ikut-ikutan menjadi jahat. Orang-orang yang menentang petuah Joker yang mengatakan bahwa kejahatan itu seperti gravitasi, cuma butuh sedikit dorongan.

Pernah sekali mobilku mogok, lalu ada orang asing yang menawarkan pertolongan. Aku berusaha memberinya uang, namun ia menolak. Aku ingat betul kata-katanya, “Tidak, terima kasih. Saya ikhlas, Bang.” Tentu sesuatu yang merdu di telinga.

Pengalaman ini tak hanya terjadi sekali, dimana aku dihadapkan oleh orang-orang baik, termasuk di dunia maya yang entah berbentuk bulat, datar, atau limas ini. Di antara para penyebar humor di Twitter dan situsweb yang menyajikan konten bahagia, hadir sosok bernama Lebahganteng. Iya, kamu.

Jelas apa yang kau lakukan itu benar-benar sulit. Pengalamanku mengalihbahasakan buku berbahasa Inggris membuatku memahami dan menghargai peranmu. Kadang aku merasa pusing dengan translate yang hanya satu bab. Dan, kalau membayar, tentu saja akan menguras isi dompetku. Jasa translate mematok harga Rp 50 ribu per halaman.

Sementara kau, coba aku pikir, berapa kali nama Lebahganteng sebagai penerjemah subtitle amatir muncul di film-film yang kuunduh dari Torrent atau Ganool? Sangat sering hingga aku lupa menghitungnya. Mungkin kau meluangkan waktu berjam-jam, mengulang-ulang film, agar orang lain terpuaskan. Menerjemahkan setiap dialog pada lebih dari 500 judul film itu uwow banget.

Kau memberikan kemudahan kepada siapapun, meski budaya berbagi konten (file-sharing culture) yang kau jalani itu disamaratakan oleh pelaku industri sebagai tindakan pembajakan. Tapi, sikapmu yang tidak meraup penghasilan dari situ, patut dihargai. Menerjemahkan subtitle atas dasar pertemanan di dunia maya.

Bagi mahasiswa yang ingin bahagia namun kantongnya sedang cekak karena kiriman dari orang tua terlambat, menonton di bioskop menjadi terasa mahal. Saat orang-orang yang tak mengerti bahasa asing ingin menikmati film atau saat orang-orang yang mengerti bahasa asing namun kemampuan listening mereka nggak jago-jago amat, kau hadir.

Tapi apa yang kau kerjakan seringkali tidak mendapat apresiasi. Pernah sekali temanku ngedumel karena mendapat subtitle jelek di internet, karena kurang sabar menunggu hasil terjemahanmu. Lalu, ketika mereka berhasil mendapatkan subtitle dari Lebahganteng, apa yang mereka katakan? Mereka hanya diam dan menikmati film. Seolah tak ada peran apa-apa darimu.

Tentu saja hal tersebut tak pernah kau persoalkan. Karena, aku rasa dan semoga aku benar, kau bahagia dengan jalan hidupmu. Inilah passion, ini adalah sesuatu yang membuat orang merasa menjadi lebih baik, meski kadang yang menurut orang itu baik, belum tentu benar di mata orang lain.

Tapi setidaknya, ada esensi hidup di balik ini semua, sesuatu yang sangat jarang dilihat pada kehidupan manusia-manusia urban. Bahwa berbagi adalah cara untuk menjadi berarti, dan salah satu upaya menemukan jati diri. Maka dari itu, aku sampaikan surat ini kepadamu, Lebahganteng.

Doaku kepadamu sederhana saja. Semoga engkau bahagia dan rezekimu dicukupkan. Semoga bakatmu sebagai penerjemah amatir bisa naik kelas menjadi penerjemah profesional yang bekerja di bioskop-bioskop ternama. Tentunya dengan gaji yang layak dan apresiasi yang lebih baik dibanding saat ini.

Dan tentu saja, jika itu terjadi, aku akan merindukan namamu dalam filmku. Karena itu, biarkan Pein Akatsuki – rivalmu atau jangan-jangan dia kawanmu? – tetap pada nasibnya. Sebab, siapa lagi yang akan memberikan kami subtitle berkualitas kalau kalian sama-sama bekerja di bioskop kelak?

Demikian suratku, Lebahganteng…

Jangan lupa sampaikan salamku untuk Pein Akatsuki…

  • akbar mayat

    si tawon dan si pein .. uururggh mesrah sekaaaliiihhh

  • Tian Ksw

    hahahha.. kepikiran lho bikin say thanks buat lebah ganteng… inspirasi banget..

    salam inspirasi,
    mas olo (sesuapnasi.com)

  • krekis joss

    joss,ommmm…

  • Dewa Ridho Auditya

    Joker bilangnya ‘kegilaan (madness)’ bkn ‘kejahatan’ 😉